
Terdengar suara tembakan menggelegar di udara orang yang ada di dalam ruangan itu termasuk Adinda. Bahkan wajahnya yang pucat kini makin pias setelah melihat segerombolan polisi yang memasuki ruangan itu. Tak mau menunda waktu, segerombolan polisi berpakaian preman itu mengacungkan senjata apinya ke hadapan keempat orang yang ternyata gerombolan perampok yang telah lama jadi buronan.
Satu persatu perampok itu dibekuk, namun ada salah seorang yang ternyata menyelipkan senjata api di belakang tubuhnya. Dengan gerakan cepat, pria itu berlari ke arah Adinda yang sedang berusaha di lepaskan ikatannya oleh salah satu polisi. Ia menerjang polisi itu hingga terjungkal lalu dengan gerakan cepat ia menodongkan senjata api itu ke kepala Adinda.
Tubuh lemah Adinda kian bergetar. Ia sudah benar-benar kehilangan sebagian tenaganya . Ia sudah tak memiliki daya walau hanya sekedar untuk melawan.
'Ya Tuhan, bila ini memang sudah waktunya aku pergi dari dunia ini, aku mohon sampaikan maafku sebesar-besarnya kepada orang-orang yang pernah aku sakiti.' gumamnya dalam hati nafas tercekat.
Adinda menarik nafasnya sejenak lalu menghembuskannya dengan kencang. Ia ingin berjuang untuk terakhir kalinya. Dengan sekuat tenaga ia menggigit lengan perampok yang memegang pistol di samping kepalanya hingga pria itu menjerit kesakitan dan tanpa sadar menghempas Adinda hingga luruh ke lantai. Di saat bersamaan pula pria itu melepaskan sebuah tembakan ke arah Adinda.
Dorrr ...
Darah pun mengalir deras hingga membuat permukaan lantai yang kotor kini mulai tergenang darah.
Tak membuang kesempatan, polisi juga akhirnya melepaskan tembakan tepat ke lengan dan kaki perampok itu hingga ia pun jatuh tersungkur bersimbah darah.
Para polisi segera menelepon tim medis untuk bersiap. Mereka segera menggotong tubuh ringkih Adinda yang telah bersimbah darah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi.
"Hei, buka matamu!" ucap salah seorang polisi sambil menepuk pelan pipi Adinda. Ia tampak meringis kesakitan sebab tembakan perampok itu mengenai pangkal pahanya. Darahnya pun mengucur deras hingga membasahi bagian bawah dress yang digunakannya. Polisi itu sudah memberikan pertolongan pertama pada Adinda dengan menekan bagian yang terluka menggunakan jaketnya tapi sepertinya darah itu enggan berhenti mengalir. "Bertahanlah, kami akan segera membawamu ke rumah sakit terdekat." sambung polisi itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Pagi yang cerah, tapi tak secerah hati Anton. Hidupnya kini begitu hampa. Dipandanginya foto hasil USG anaknya yang ia jadikan wallpaper ponselnya. Ntah dapat dorongan dari mana, pagi ini ia berjalan keluar rumah persembunyiannya untuk menyerahkan diri ke polisi dengan hati yang mantap .
Anton juga berniat menyerahkan sisa uang hasil penjualan rumahnya kembali ke Adam. Ia tahu, mertuanya kini tengah menuai hasil perbuatannya di ranjang rumah sakit. Semalam sejak ia mengetahui istrinya mengandung anaknya, diam-diam ia mengunjungi kediaman Adam. Setelah mencari tahu, akhirnya ia mendapat informasi bahwa mertuanya itu terkena stroke sepulang dari pesta pernikahan Anggi. Anton tertawa miris mengetahui nasib mertuanya itu. Mungkin mengetahui apa yang menimpa mertuanya itu, menyadarkan Anton dari perbuatannya yang tak benar. Sehingga ia pun memantapkan diri untuk menyerahkan diri ke polisi. Dia akan menerima dengan lapang hukuman yang diberikan padanya.
Di kantor polisi, Anton menceritakan bagaimana ia mengambil harta dan surat-surat berharga Bu Tatik. Ia juga menyerahkan semua sisa uang yang ia punya. Walaupun tidak terlalu banyak, semoga berguna untuk pengobatan Bu Tatik pikirnya. Saat diinterogasi polisi, Anton tidak menceritakan perihal Adinda. Biarlah ia sendiri yang menanggung semua kesalahan itu , pikirnya. Sebab yang pertama kali memiliki ide mengambil harta Bu Tatik adalah dirinya walaupun sebagian besar uangnya, Adinda lah yang menikmatinya.
.
.
.
"Mas, boleh Sulis menemui mas Anton?" pinta Sulis lirih.
"Tidak. Mas tidak setuju kamu menemuinya, Lis " sergah Adam.
"Tapi mas, mas Anton berhak tau kalau aku sedang mengandung anaknya." ujar Sulis menghiba.
"Sekali tidak tetap tidak. Kau tau bukan, karena dia hidup kita makin berantakan." sentak Adam.
"Tapi semua itu bukan sepenuhnya salah mas Anton, mas. Semua salah kita. Kitalah yang memulainya mas. Apa yang kita alami ini buah dari perbuatan kita sendiri." Sulis tak mau mengalah.
"Jangan keras kepala kamu, Lis. Pokoknya mas tidak mengizinkan kamu menemuinya."
__ADS_1
"Mas egois. Mas selalu merasa benar sendiri. Apa bedanya Mas dengan mas Anton kalian sama saja? Bukankah kamu sendiri mencontohkan untuk berselingkuh. Dan kini mas Anton telah menyerahkan diri ke kantor polisi berarti ia telah berubah dan menyadari kesalahannya. Lagipula anak ini membutuhkan ayahnya, mas. Mas Anton juga perlu mengetahui keberadaan anaknya terlepas dari semua kesalahannya. Sama seperti mas Adam yang ingin meminta maaf dan bertemu dengan Anggi dan anak-anak, aku yakin mas Anton juga begitu. Bagaimana perasaan mas Adam bila Anggi dan anak-anak menolak atau dilarang bertemu dengan mas, pasti sakit bukan?" sentak Sulis mencoba menyadarkan Adam. Bila ia punya niat berubah, harusnya ia sadar tindakan Anton ini juga pasti dipicu keinginan untuk berubah.
"Terserah kau sajalah, aku tak peduli. " sergah Adam sebelum berlalu dari hadapan Sulis. Sedangkan Sulis hanya bisa menangis memikirkan semua masalah yang menimpa mereka. Pun Bu Tatik yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dia hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun ataupun memeluk tubuh anak perempuannya tersebut sekedar untuk menenangkannya.
Ini semua salahnya. Ini semua dosanya. Andai ia tidak bersikap egois dan tinggi hati serta mengajari anaknya dengan benar, semua pasti takkan terjadi seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Apa lagi sekarang tubuhnya tak berdaya. Ia hanya bisa menyesalinya dalam hati dan memohon pengampunan pada yang kuasa agar diberikan kesempatan untuk meminta maaf kepada orang yang telah disakitinya terutama pada Anggi, mantan menantunya.
.
.
.
"Selamat pagi, ma, selamat pagi, pa." ujar ketiga Bocil saat mereka membuka mata dan melihat mama dan papanya sedang tersenyum ke arah mereka.
"Selamat pagi juga, sayang. Ayo bangun , buruan mandi terus kita sarapan." titah Anggi dengan lembut.
"Ma, boleh kan kalau pagi ini kami minta dimandiin papa." minta trio bocil dengan wajah memelas.
Anggi melongo mendengar permintaan ketiga anaknya, sedangkan Diwangga hanya terkekeh. Sebab tak biasanya anaknya minta dimandikan termasuk si kembar walaupun usianya masih kecil tapi mereka sudah belajar mandi sendiri walaupun kadang masih dibantu.
"Lho kok tumben ? Biasanya juga mandi sendiri. Apalagi si Abang, biasanya mau dibantu aja udah marah-marah." ujar Anggi mendelik.
"Udah nggak papa kok , biar mas bisa belajar menjadi papa yang baik. Ayo, kita buruan mandi!" ajak Diwangga.
"Horeee, dimandiin sama papa." pekik ketiganya girang. Mereka pun segera mandi bersama dengan bahagia. ? Anggi benar-benar tak menyangka bahwa ketiga anaknya bisa begitu dekat dengan Diwangga yang notabene bukan ayah kandungnya. Semoga sikap dewangga takkan pernah berubah sampai kapanpun.
__ADS_1