Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.69 Kebahagiaan sederhana II


__ADS_3

Berbeda dengan Karin dan Kevin yang kepulangannya dari rumah sakit disambut dengan penuh kehangatan, Bu Tatik justru disambut dengan kemurungan.


Bagaimana Bu Tatik tak murung, sepulangnya dari rumah sakit, saat ia pertama kali memijakkan kakinya di kamar tidurnya, ia sudah merasakan aura yang berbeda. Entah insting dari mana, setelah masuk ke kamar, Bu Tatik langsung memeriksa barang berharganya di dalam lemari pakaian tiga pintunya. Apa yang dilihatnya sangat mencengangkan, tiba-tiba kaki Bu Tatik lemas hingga terkulai ke lantai seketika. Dadanya begitu sesak, perlahan tangis pilu pun menggema di kamar berukuran 6x6 meter itu. Sudah sekian tahun ia tak meneteskan air matanya. Terakhir kali, Bu Tatik meneteskan air matanya saat sang suami mengadap sang pencipta dan setelahnya tak pernah lagi. Tapi kini, akhirnya setelah sekian tahun, air mata yang seolah mengering itu, tiba-tiba menggenang lagi. Ia meluncur bebas membasahi pipi hingga menetes ke pakaian yang dikenakannya.


Adam yang tak tega melihat ibunya seperti itu pun menjelaskan kalau sepertinya rumah mereka telah dimasuki maling saat mereka sibuk di rumah sakit. Setelah menceritakan semuanya, Adam keluar dari kamar ibunya, memberikan waktu untuk mamanya merenung sendiri.


Mata Bu Tatik menerawang, mengapa nasibnya begitu nahas. Ia kira masa tuanya akan berisi kebahagiaan, tapi kini justru sebaliknya. Masalah datang silih berganti. Setelah pertama menantu yang dibanggakannya karena asal usulnya yang jelas ternyata hanya seorang jalang, lalu kini harta bendanya raib tak bersisa di saat ia di rawat di rumah sakit.


Seharusnya ia menyadari sejak awal kalau sifat Adinda itu tidak baik. Mana ada wanita baik-baik yang mau merusak rumah tangga wanita lainnya. Tapi wanita itu dengan mudahnya merusak rumah tangga putranya dengan menjadi selingkuhan Adam bahkan ia sampai hamil di luar nikah. Mengapa ia begitu bodoh selama ini, ia mencampakkan berlian hanya demi serpihan debu yang tiada nilainya. Tapi sayang , menyesal pun semua sepertinya tak berguna.


Kini anak-anak kesayangannya akan segera menyandang gelar duda dan janda, ah sungguh memalukan pikirnya. Ternyata sifat tinggi hatinya masih meraja. Hingga pikiran naifnya muncul ke permukaan.


"Dari pada Adam jadi duda, buatku malu saja, , bukankah lebih baik ia kembali lagi dengan Anggi." gumam Bu Tatik pelan. "Apalagi kini Anggi sudah sukses dan terkenal, pasti menyenangkan. Aku juga pasti bisa minta belikan rumah dan perhiasan lagi. Nggak masalah dia nggak jelas asal-usulnya, yang penting hidupku akan kembali terjamin. Dia pasti mau balikan sama Adam lagi. Siapa yang mau sama janda anak 3 kayak dia. Walaupun dia sekarang sudah cantik, tapi kalaupun dapat pengganti Adam, pasti nggak jauh-jauh dari seorang duda. Mending cakep, lah kalo tua trus perutnya gendut, mendingan balik sama Adam." Bu Tatik tertawa pelan karena sibuk berkutat dengan imajinasinya sendiri.


.


.


.


"Anak-anak, om papa mau bicara sama kalian sebentar, boleh?" Walaupun usia Diwangga lebih tua dan sebentar lagi akan menjadi papa sambung Damar, Kevin, dan Karin , tapi ia tetap mengutamakan adab dalam berbicara. Ia ingin mengajarkan sopan santun dan budi pekerti yang baik pada anak-anaknya, terutama adab dalam berbicara.


"Boleh, om papa." sahut Damar, Karin, dan Kevin bersamaan. Saat ini mereka bertiga sebenarnya sedang asik menggambar. Damar sedang mengajari Kevin menggambar, sedangkan Karin bagian mewarnai walaupun akhirnya hasilnya malah berantakan, tapi mereka senang mengerjakannya bersama-sama.

__ADS_1


"Mau bicala apa om papa?" tanya Karin sambil mendudukkan bokongnya tepat di samping Diwangga. Diwangga pun tersenyum seraya mengusap rambut Karin yang hitam panjang tergerai.


"Om papa mau ngomong apa?" kini Kevin yang ikut bertanya


Sebelum berbicara, Diwangga melirik Anggi terlebih dahulu seolah meminta izin berbicara menggunakan isyarat mata. Anggi pun mengangguk tanda mempersilakan.


"Gini, kalian mau nggak sementara ini tinggal di rumah om papa?" Diwangga pun mengutarakan maksudnya mengajak Damar, Kevin, dan Karin bicara.


"Wah, asik! Bisa main sama Oma." pekik Karin girang


"Mama juga?" tanya Kevin penasaran


Diwangga menggeleng. "Sementara belum, sayang. Tapi sebentar lagi, iya." jawab Diwangga dengan senyuman manisnya, membuat Anggi tersipu malu.


"Karena oma kangen kalian. Oma sama opa juga udah beli mainan banyak lho buat kalian. Oma dan opa juga udah siapin kamar khusus kalian, kalian mau kan sayang?" tanya Diwangga


Damar, Karin, dan Kevin tampak berfikir. Lalu mereka beringsut mendekati sang mama. Mereka ingin menanyakan pendapat mamanya dulu, boleh atau tidak.


"Ma, kami boleh tinggal di rumah om papa?" tanya Damar


"Iya ma, boleh nggak?" tanya Karin


"Boleh nggak ma, jangan senyum -senyum aja." Kevin pun mencebik karena pertanyaannya dan kedua saudaranya belum ditanggapi.

__ADS_1


Sebenarnya Anggi bukan tersenyum karena ulah ketiga bocah cilik itu, tapi ntah mengapa setiap melihat Diwangga apalagi saat calon imamnya itu memperlakukannya dengan sangat lembut diiringi senyum manis nan tulus yang bahkan mungkin lebih manis dari madu itu membuatnya selalu berdaun-daun hingga beranting-ranting.


"Ma, jawab ma, boleh nggak, kok senyum-senyum mulu, ih!" rengek Karin sambil menggoyang-goyangkan lengan Anggi.


"Eh, ada apa sayang?" tanya Anggi gelagapan sendiri karena terlalu banyak melamun membuatnya tak fokus pada pertanyaan anak-anaknya.


Diwangga terkekeh melihat tingkah Anggi yang makin hari makin menggemaskan. Lalu Diwangga mendekat dan menjentikkan jarinya di dahi Anggi membuat Anggi yang awalnya gelagapan karena rengekan anak-anaknya malah melotot ke arah Diwangga.


"Sakit tau,ih! Belum nikah aja udah KDRT. " Anggi pun mencebik kesal, lebih tepatnya pura-pura kesal. Mana bisa ia kesal apalagi marah pada lelaki yang sangat berjasa membantunya bangkit pasca perceraiannya itu.


"Mangkanya, jangan ngelamun terus. Mas tau kamu senang liatin senyum mas, ntar deh pas kita udah nikah, kamu bisa puas-puasin liat senyum mas." ucapnya pelan sambil terkekeh namun masih bisa ditangkap jelas oleh indra pendengaran Anggi.


Lagi, lagi, dan lagi wajah Anggi merona. Wajahnya seakan mengatakan ,'Oops aku ketahuan.' Lalu Anggi pun membalas keusilan Diwangga dengan mencubit pahanya hingga Diwangga menjerit kesakitan.


"Aw aw aw... sakit ma, ampun!" pekik Diwangga seakan-akan dianiaya Anggi


"Mama, jangan cubit om papa kami." seru Damar dan si kembar bersamaan membuat Anggi melongo, ternyata ketiga anaknya sudah menjadi pengikut setia seorang Diwangga.


"Oh, bagus ya sekarang semua mihak om papa! Oke... Kalau gitu kalian bertiga siap-siap ..." ucapannya ia jeda membuat ketiga Bocil itu penasaran.


"Siap-siap mama kelitikin." Anggi pun bergerak cepat mencoba menangkap anaknya satu persatu, sedangkan ketiga anaknya dengan cepat melesat kabur.


"Lariii ...!" seru mereka bertiga sambil tergelak menghindari kejaran Anggi.

__ADS_1


Setelah puas bermain-main dengan buah hatinya, Anggi pun membereskan semua keperluan Damar, Karin, dan Kevin untuk tinggal di rumah Diwangga. Mereka rencananya akan mengantarkan mereka dahulu ke rumah Diwangga, baru setelah itu mereka akan fitting baju pengantin di bridal house milik sahabat Bu Sofi.


__ADS_2