
Luna dan Aglian kini telah berada di sebuah toko pakaian ternama. Ingin membuat Luna merasa nyaman saat jalan bersamanya, ia pun menuruti saran Luna untuk berganti pakaian dengan yang lebih santai. Memang benar, bila ia masih memakai setelan jas , ia seperti oom yang sedang mengencani anak gadis orang. Walaupun tampangnya masih terlihat sangat muda, bahkan terlihat tak jauh berbeda dengan Luna yang belum genap 20 tahun, tapi perbedaan penampilan tentu akan membuat mereka jadi bahan perbincangan.
Di dalam toko, Aglian menyerahkan semua pilihan pada Luna, alhasil ia hanya duduk-duduk santai di sofa sembari memperhatikan Luna yang sibuk memilihkan pakaian untuknya.
Sebenarnya saat ini pikirannya tidaklah tenang. Bagaimana pun, sahabatnya saat ini akan menjalani operasi. Jakarta dan Singapura memiliki perbedaan waktu 1 jam lebih cepat Singapura. Saat ini di Jakarta sudah pukul 12.23, artinya di sana sudah pukul 13.23, tidak lama lagi proses operasi akan dimulai. Hal tersebut sebenarnya cukup membuatnya gelisah, tapi ia mencoba mengalihkan kekhawatirannya dengan jalan-jalan bersama Luna. Namun dalam hati, terselip doa yang tak henti-hentinya, semoga proses operasinya berjalan lancar dan berhasil.
"Mas ... Mas Lian, hei, kok bengong sih!" Panggilan Luna membuat Aglian tersentak hingga tersadar dari lamunannya.
"Eh, nggak lamunin apa-apa kok." sahut Aglian seraya tersenyum manis ke arah Luna.
Luna yang melihat senyuman Aglian yang jarang ia tampilkan di depan umum, kecuali di hadapan keluarga dekatnya saja cukup membuatnya terpana hingga mematung di tempat.
Aglian yang melihat tingkah Luna yang menggemaskan baginya, mencoba menyadarkan lamunan itu dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Luna. Tapi Luna justru tak bergeming, membuat Aglian makin gemas dan mengigit telinganya.
"Awww ... astaga, Mas Lian, kok gigit kuping Luna sih! Udah kayak drakula aja." seru Luna sambil memanyunkan bibirnya.
Aglian terkekeh melihat ekspresi Luna. "Makanya jangan ngelamun. Mas sadar wajah mas tuh ganteng, senyumnya manis, menarik juga, tapi Mas nggak nyangka sampai bisa buat kamu bengong kayak gitu. Ini juga nih bibir, stop dimanyun-manyunin kalau nggak mau Mas makan." goda Aglian dengan smirk jahilnya dengan jari telunjuk mengarah ke bibir Luna.
Luna sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Emang bibir Luna beef steak , bisa dimakan. Lama-lama Luna takut sama Mas Lian, tadi gigit kuping, sekarang pingin makan bibir Luna, udah kayak keturunan zombie aja Mas, doyan makan makhluk hidup." cerocos Luna polos.
Ia memang tak paham apa maksud Aglian membuat Aglian makin terbahak. Tak sia-sia ia menemui gadis nakalnya itu. Setidaknya, ia bisa sedikit melepas beban dan kekhawatiran yang sedang menghantam batin dan pikirannya.
"Mas lebih menakutkan dari zombie, drakula, bahkan vampir, jadi hati-hati." bisik Aglian di telinga Luna membuatnya bergidik ngeri. Aglian pun berlalu menuju kamar ganti untuk mencoba pakaian pilihan Luna.
Tak lama kemudian, Aglian pun keluar dari kamar ganti. Mata Luna seketika terpana melihat penampilan casual Aglian. Padahal Aglian hanya mengenakan sebuah kaos putih yang dilapisi kemeja flanel motif kotak berwarna biru muda dan celana jeans berwarna hitam, ditambah sepatu kets berwarna putih, tapi sudah bisa membuatnya begitu memesona.
Bahkan Aglian tampak beberapa tahun lebih muda. Malah bisa dibilang mereka jadi terlihat seumuran. Luna yang terbiasa melihat penampilan formal Aglian tentu sangat-sangat terpesona. 'Duh jadi pingin dibawa pulang aja terus di pajang dalam lemari kaca supaya cuma gue yang bisa nikmatin ketampanannya.' monolog Luna dalam hati.
Tersadar pada pikiran bodohnya, Luna segera memukul-mukul kepalanya dengan tangan hingga tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghentikan aksinya.
"Kenapa, hm? Sakit kepala?" tanya Aglian yang entah kapan telah berdiri di hadapannya.
"Eh, ng ... nggak kok, Mas. Luna nggak kenapa-kenapa." ujar Luna sambil tersenyum lebar.
Aglian mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Oh, ya, gimana penampilan, Mas?" tanya Aglian. Luna yang ditanyain sontak mengangkat kedua jempolnya sebagai jawaban. Aglian tersenyum makin lebar.
"Yuk, kita kencan!" seru Aglian seraya menggenggam tangan Luna setelah ia selesai membayar belanjaannya. Sedangkan pakaian yang ia kenakan tadi, telah ia serahkan ke Robi yang sempat menyusulnya setelah ia telepon.
Luna yang mendengar ucapan Aglian, sontak mengerjapkan matanya hingga berkali-kali.
"Apa Mas? Sorry, takut salah denger."
"Emang kamu tadi dengernya apa?" ucap Aglian seraya menatap wajah Luna dari samping. Mau dari samping, dari depan, dari dekat, ataupun dari jauh, tetap terlihat cantik tanpa cela, pikirnya.
"Yuk kita kencan!" jawab Luna mengulangi perkataan Aglian tadi.
"Ayok ..." sahut Aglian dengan seringai menggodanya. Wajah Luna sontak memerah karena malu. Seolah-olah ia-lah yang mengajak kencan.
"Mas Lian ..." pekik Luna seraya mengerucutkan bibirnya.
'Rrrr ... kalau bukan di tempat umum, udah ku makan bibir itu.' gumam Aglian dalam hati.
...
"Aaargh, kamu dimana sih, Je! Bikin khawatir aja." Kentaro mengusap kasar wajahnya karena terlalu frustasi memikirkan keadaan dan keberadaan Jelita.
Kentaro juga sudah menghubungi beberapa teman sesama model yang dekat dengan Jelita untuk menanyakan keberadaan gadis itu, tapi ternyata tak ada satu pun dari mereka yang tau. Kentaro tidak mengetahui apa-apa tentang Jelita, baik dari mana asalnya, keluarganya dimana, ia benar-benar tak tahu. Hal itulah yang membuat Kentaro makin kalut. Ia takut Jelita melakukan hal yang tidak-tidak akibat perbuatannya.
Karena sudah terlalu lelah mencari keberadaan Jelita yang tak tahu rimbanya, Kentaro pun pulang ke rumah ibunya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Saat ia sangat lelah , rumah adalah tempat terbaik untuknya. Ia memang jarang pulang ke rumah. Ia sering tidur di apartemen. Ia hanya pulang saat ia benar-benar sedang merasa lelah dan jenuh. Seperti saat ini, hanya rumah dan mamanya lah tujuannya.
"Assalamualaikum." ucap Kentaro saat sudah berada di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam. Ya Allah, akhirnya kami pulang juga, nak. Mama kangen sama kamu." ucap ibu Kentaro seraya mengecup kedua pipi dan dahi putranya.
"Ma, kangen." ujar Kentaro manja seraya memeluk tubuh mamanya. Ia pun menghirup aroma khas sang mama seraya merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh ibunya.
"Siapa suruh jarang pulang? Udah tau mama sering sendirian tapi malah nggak pulang-pulang. Abang kamu juga gitu. Tapi kan Abang kamu karena suka dinas nggak tentu waktu, beda sama kamu. Harusnya kamu sering-sering pulang, Ken. Mama kesepian." Rajuk mama Kentaro.
Kentaro terkekeh mendengar keluhan mamanya.
__ADS_1
"Ya suruh Abang segera nikah biar ada yang temenin mama di sini." ujar Kentaro memberi saran.
"Hmm ... wanita incaran mama udah ada yang milikin padahal Abang kamu udah tertarik eh baru aja datang mau kenalan sekalian PDKT , taunya udah ada calon terus sekarang udah nikah, patah hati donk mama sama Abang kamu. Mama nggak jadi deh punya mantu idaman." Mama Kentaro mendesah kecewa. Tapi ia tidak bisa berlama-lama dalam kekecewaan, bagaimana pun itu artinya anaknya tidak berjodoh dengan wanita itu. Ia hanya pasrah berharap kelak anak-anaknya bisa mendapatkan jodoh yang baik.
Kini Kentaro sedang merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepalanya berada di atas paha ibunya. Ibunya yang paham tingkah manja sang anak, segera mengusap rambut hitam Kentaro dengan sayang.
"Yah, namanya belum jodoh dong! Semoga Abang bisa segera mendapatkan jodoh yang baik yang sesuai impian mama." doa dan harapan Kentaro tulus .
"Aamiin ... Mama juga berharap kamu begitu. "
"Yeay mama, Kenta aja belum genap 20 tahun, masa' udah di suruh nikah. Nanti dong ma, Kenta mau ngejar karir dulu." kilah Kentaro.
"Terserah kamu deh, tapi kalau kamu mau nikah juga nggak masalah. Toh kamu udah tamat sekolah, terus kamu juga udah kerja, jadi nggak ada masalah, kan!" ujar mama Kentaro, sedangkan Kentaro hanya menyimak tanpa ekspresi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat malam.
Happy reading. 🥰🥰🥰
__ADS_1