
Sama seperti ibu hamil pada umumnya, karena saat ini kehamilan Anggi masih dalam trimester awal, rasa mual dan pusing masih mendominasi. Bahkan hampir setiap kali Anggi mencoba makan , perutnya langsung bergejolak dan berakhir di wastafel, ia memuntahkan semua isi perutnya. Tak jarang Diwangga terpaksa meliburkan diri hanya demi menemani sang istri yang sedang dalam keadaan lemas karena seringnya muntah.
"Hoek ... Hoek ... Hoek ..." Anggi kembali muntah-muntah. Padahal hari masih begitu pagi.
Diwangga yang baru saja dari dapur mengambilkan air hangat, sontak langsung berlari menuju kamar mandi untuk membantu istrinya yang tengah muntah-muntah.
Diwangga membantu memijit tengkuk Anggi hingga muntahnya berhenti. Cemas, sudah tentu Diwangga cemas, baru saja satu minggu yang lalu ia mengetahui kehamilan istrinya, tapi ia sudah merasa sangat tak tega melihat Anggi yang terus-terusan memuntahkan apa yang ia makan.
"Sayang, apa kita perlu ke dokter? Terus terang mas nggak tega liat kamu terus-terusan muntah kayak gini. Makan juga susah banget. Padahal kamu sedang hamil kembar 3, jadi butuh banyak nutrisi." ujar Diwangga seraya mengangsurkan segelas air hangat pada Anggi .
"Aku nggak papa kok, mas. Namanya perempuan hamil ya gini. Ini sudah kodrat kami sebagai wanita. Aku malah bersyukur mas bisa merasakan pengalaman ini lagi apalagi dengan mas di sisiku. " ucap Anggi dengan senyum manis menghiasi bibirnya. "Tapi kadang ada lho suaminya yang ngerasain, tapi syukurlah kamu nggak, mas. Kalau kamu yang ngerasain, bisa-bisa bukan cuma kamu yang pusing, tapi aku juga." ujar Anggi setelah meneguk air hangat yang diberikan Diwangga.
"Andai bisa ditukar, mas rela kok. Justru mas benar-benar nggak tega liat kamu kayak gini. Belum lagi kamu masih mau kerja. Atau sementara kamu liburin diri kamu aja, sampai kamu udah nggak sering muntah-muntah lagi, baru balik lagi kerja. Gimana?" Saran Diwangga.
Anggi tampak berfikir keras. Benar apa yang disarankan suaminya. Kalaupun dipaksakan bekerja, tentu hasilnya takkan maksimal.
"Iya deh, mas. Kalau gitu , aku telepon Lian dulu ya, mas , minta tolong handle Angkasa Mall sementara waktu." ujar Anggi yang diangguki Diwangga.
Gegas Anggi meraih ponsel menghubungi Aglian dan memintanya menghandle Angkasa Mall sementara waktu karena ia belum sanggup untuk bekerja.
.
__ADS_1
.
.
Hari beranjak siang, sebelum mengunjungi Angkasa Mall, Aglian hendak makan siang terlebih dahulu. Ia pun menemui Stefani untuk mengajaknya makan siang.
"Sayang, makan siang yuk!" ujar Aglian setibanya di meja kerja Stefani.
"Hmmm ... sebentar ya, aku beresin mejaku dulu." sahut Stefani seraya membereskan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Setelah beres, mereka pun pergi ke restoran yang biasa mereka hampiri.
Setibanya di restoran, Aglian dan Stefani gegas memesan beberapa menu makanan. Tak butuh waktu lama, berbagai hidangan pun telah tersaji di meja makannya. Mereka pun menyantap hidangan itu sambil berbincang. Aglian juga memberitahukan ia akan pergi ke Angkasa Mall untuk menghandle pekerjaan disana sementara Anggi masih mengalami morning sickness.
"Hmm ..., ya, kenapa?" Stefani mendongakkan kepalanya, menatap wajah Aglian.
"Nggak ada yang mau kamu jelasin ke aku?"
Stefani mendesah kasar. "Jelasin apa sih? Aku pikir masalah kita makan malam itu udah kelar, taunya masih aja ditanyain." Stefani mendengkus kesal.
Aglian tampak jengah, "Okay kalau kamu nggak mau jelasin, gimana kalau aku aja yang bertanya, aku harap kamu jujur." Aglian menarik nafas sejenak dan menghembuskannya. "Sebenarnya aku nggak mau nanayin hal ini, tapi aku terpaksa, aku nggak maksud nuduh, tapi aku harap ada kejujuran dari kamu." uca Aglian membuat Stefani panas dingin, penasaran pertanyaan apa yang akan Aglian lontarkan. "Apa kamu hamil?" tanya Aglian dengan sorot mata tegas ingin kejelasan.
__ADS_1
"What? Hamil? Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu sih? Aneh kamu, Yan!" Stefani mendengus kesal. Benar-benar kesal. Bagaimana Aglian bisa menudingnya sedang hamil. Sedangkan ia tak memiliki hubungan dengan orang lain selain dirinya.
"Ada alasan mengapa aku bisa sampai nanyain ini. Pertama akhir-akhir ini wajah kamu kelihatan pucat. Dua, kamu kelihatan tidak berselera makan. Dan ketiga banyak karyawan kita yang mendengarkan kamu muntah-muntah tempo hari sehingga banyak yang mengira mengira kamu sedang hamil. Sebenarnya aku nggak mau menuduh kamu sembarangan, Stef, karena itu aku nungguin penjelasan kamu. Tolong jelasin, sayang, kamu kenapa? Apa kamu hamil? Kalau iya, karena siapa? Dan kalau tidak, mengapa kamu tampak pucat terus, tubuh kamu juga tambah kurus, dan muntah-muntah juga. Please, sayang. Jangan ada yang kami tutup-tutupi lagi dari aku. Aku akan mendengarkan semua penjelasanmu." tukas Aglian dengan sorot mata sendu.
Stefani tampak menarik nafas dengan berat lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya Kimi berkecamuk, antara harus berkata jujur atau tidak. Tanpa sadar setitik air mata mengalir dari pelupuk mata Stefani. Semua pemandangan itu pun tak luput dari mata Aglian. Ia masih bersabar menunggu Stefani membuka mulutnya, namun hingga beberapa detik berlalu Stefani tetap bungkam. Lalu matanya mendongak saat ia melihat Stefani melakukan pergerakan seperti akan beranjak pergi. Sebelum pergi, Stefani mengarahkan pandangannya ke arah Aglian. Dapat Aglian lihat, sorot mata itu adalah sorot mata penuh luka. Ia pernah melihat sorot mata itu saat Stefani tau ayahnya menduakan ibunya. Hatinya rasanya bagai dicubit, apakah tanpa sadar ia telah menyakiti kekasihnya dengan semua pertanyaannya. Tapi bila hal ini tak ditanyakan secara langsung, maka ditakutkan akan timbul kesalahpahaman yang justru berakibat fatal pada hubungannya dengan sang kekasih. Lagipula ia tak mau menduga-duga. Oleh sebab itu, ia tanyakan secara langsung berharap ada sedikit kejujuran dari Stefani. Ia takkan marah kalau memang Stefani hamil, justru ia akan menanyakan karena siapa. Bila orang yang sudah membuatnya hamil tak mau bertanggung jawab, maka ia bersedia menggantikannya. Asal ia jujur dan terbuka.
"Ya, aku hamil. Kau puas, hah! Mulai sekarang, kita putus." sergah Stefani. Lalu ia pun berlalu dari hadapan Aglian dengan membawa luka. Air mata tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya. Ia tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Tapi mungkin ini lebih baik. Lebih cepat lebih baik.
'Maafkan aku Lian.' gumamnya pelan sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Aglian yang masih mematung di tempatnya.
.
.
.
.
Hola epribadehhh, nyicil 1 bab dulu yah! Semoga ntar malam matanya bisa dikondisikan biar bisa update satu bab lagi. Othor udah nemu visual untuk Aglian, Luna, dan Stefani, cuma belum fiks. hehehe ...
Dia aktor Cina favorit othor. Bagi yang pernah nonton dracin Love 020, pasti tau siapa. wkwkwk ...
__ADS_1
Bye bye epribadeh ...
Happy reading.🥰