
Hari makin larut, tapi Melani tak kunjung pulang. Ingin ia minta tolong dr. Alan mencari keberadaan istrinya itu tapi ia merasa takut merepotkan. Jadilah ia hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Hingga dr. Alan masuk ke dalam ruang perawatan Stefano.
"Om, mau makan apa? Biar saya belikan sekalian di kafetaria rumah sakit di bawah." tawar dr. Alan karena waktu sudah memasuki jam makan malam .
"Eh dr. Alan, e ... itu ... terserah dokter aja deh, saya bisa makan apa aja. Saya nggak suka pilih-pilih." ujar Steven gugup.
"Oh , baiklah. Kalau Tante Melani mau dipesankan apa?" tanyanya lagi sambil matanya mengedar ke sekeliling, tapi ia tak melihat sosok yang namanya baru saja ia sebut.
"Oh, samakan dengan punya saya saja dok. " jawabnya gugup .
Dr. Alan merasa sedikit aneh, tapi ia tak mau banyak berpikir. Toh ia juga tahu bagaimana hubungan ayah dan anak itu. Lalu ia menghampiri Stefano yang tampak memperhatikan mereka.
"Fano , bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya dr. Alan lembut.
Stefano tersenyum lebar, "Baik kak. Oh ya kak, gimana keadaan kak Fani? Kak Fani pasti sembuh kan , kak?" tanya Stefano antusias.
Dr. Alan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Stefano.
"Doakan saja ya, Fano. Percayakan pada Allah, kak Fani pasti akan sembuh dan sehat kembali." ucap dr. Alan dengan tersenyum manis.
"Kak, nanti tolong bilangin ke kak Fani ya kalau Fano sayang banget sama kak Fani. Papa sering cerita tentang kak Fani. Fano seneng akhirnya Fano bisa ketemu sama kak Fani." ucap Stefano dengan mata berbinar. Terlihat jelas rasa cinta anak kecil itu untuk sang kakak. Walaupun ini pertama kalinya ia melihat sang kakak, tapi ternyata rasa sayangnya sudah ada sejak lama karena ayahnya yang sering menceritakan tentang sang kakak.
"Pasti. Makanya, Fano harus cepat sehat supaya bisa main sama jalan-jalan bareng kak Fani. Supaya Fano juga bisa bilang secara langsung kalau Fano sayang kak Fani."
"Emangnya kak Fani mau kak? Fano takut kak Fani benci Fano karena sudah jauhin kak Fani sama papa. Fano udah ambil papa dari kak Fani. Pasti kak Fani benci sama Fano." lirih Stefano tanpa sadar ia mulai terisak. Steven yang melihatnya pun mulai berkaca-kaca, ia sadar perbuatannya yang meninggalkan anak dan istrinya adalah salah. Ia sungguh menyesali perbuatannya dulu, namun apa mau dikata, semua sudah terjadi. Ia tak mungkin kembali ke masa lalu dan mencegahnya. Kini, ia hanya bisa mencoba memperbaiki hubungannya dengan putrinya sembari memohon maaf atas kesalahannya yang lalu. Semoga putrinya dapat memaafkannya, batinnya.
"Sst ... Fano kan jagoan, jagoan nggak boleh nangis! Gimana mau lindungin kak Fani kalo Fano-nya cengeng kayak gini. Fano percaya deh sama kakak, kak Fani itu orangnya baik banget. Kak Fani nggak akan benci Fano kok. Justru sebaliknya, kak Fani akan menyayangi Fano. Apalagi Fano kan adik yang baik." ujar dr. Alan mencoba menenangkan Stefano yang terus terisak.
__ADS_1
Setelah Stefano tenang, dr. Alan pun pergi membeli makanan. Stefani masih belum sadarkan diri jadi ia bisa minta tolong perawat untuk menjaganya selagi ia membeli makanan. Selesai membeli makanan, ia meminta perawat mengantarkan makan malam untuk Steven dan Melani. Sampai saat ini, dr. Alan belum mengetahui bahwa Melani pergi dan belum kembali. Baru setelah ia selesai makan, Steven masuk ke ruangannya dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa om?" tanya dr. Alan.
"Itu itu, om dapat telepon, tapi om nggak ngerti dia bilang apa, om nggak ngerti bahasanya, om takutnya mereka memberitahukan tentang istri om yang belum pulang sampai sekarang." ujar Steven terbata.
"Maksud om, Tante Melani pergi dan belum kembali?" tanya dr. Alan minta penjelasan.
Steven mengangguk lalu menyerahkan ponselnya pada dr. Alan. Dr. Alan pun mengangkat panggilan itu, dahinya tiba-tiba mengernyit saat mendengar penjelasan dari orang di seberangnya.
"Om ..., Tante Melani sepertinya sudah menjadi korban perampokan sore tadi dan sudah dibawa ke rumah sakit ini." ujarnya sambil mengembalikan ponsel Steven.
Steven mematung di tempatnya, apa yang ia khawatirkan ternyata jadi kenyataan. 'Semoga Melani baik-baik aja.' batin Steven. Lalu ia ikut berlari mengikuti langkah dr. Alan menuju ruang perawatan Melani.
...
Saat ini Luna sudah berada di rumah. Ia tengah membersihkan diri dan setelah berpakaian ia pun menyiapkan pakaian tidur dan pakaian yang akan dipakainya bekerja esok hari. Setelah selesai, ia pun segera menemui Aglian yang tengah menunggu di ruang tamu. Tita dan Lia belum pulang ke rumah karena ada yang mesti mereka kerjakan terlebih dahulu sehingga hanya ada mereka berdua di rumah.
"Udah?" tanya Aglian singkat dan Luna pun mengangguk.
Aglian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, 'Udah jam 7.30 malam.'
Tapi tiba-tiba, ia teringat adegan yang belum sempat ia selesaikan tadi. Di pandanginya wajah Luna yang tampak merona membuat batin Aglian bertanya-tanya, apakah Luna juga memikirkan apa yang seperti di pikirannya. Lalu perhatiannya beralih ke bibir merah muda Luna yang tampak lembab karena hanya diberi lip balm. Bibir itu entah mengapa tampak begitu menggoda batin Aglian.
Aglian pun berdiri mendekati Luna. Luna yang melihat pergerakan Aglian yang hendak mendekatinya, sontak salah tingkah. Baru saja ia hendak membalikkan badan menghindari Aglian, tapi sepasang tangan sudah memerangkap dirinya dari belakang membuat Luna terkesiap. Dipandanginya, lengan kokoh yang melingkari perutnya itu. Tubuhnya meremang saat merasakan hangatnya dekapan itu. Perlahan Aglian membalik tubuh Luna agar mereka saling berhadapan. Tangan kanan Aglian terangkat dan mengusap pelan pipi Luna membuat Luna menaikkan pandangannya ke arah Aglian. Seketika, Luna terperangkap dalam lautan jernih pada netra Aglian. Seakan terhipnotis, Luna tak mampu mengalihkan pandangannya walau hanya satu detik.
"Na ..." bisik Aglian parau. Luna yang tatapannya sedang terkunci oleh netra Aglian hanya bisa menjawab singkat.
__ADS_1
"Ya, Mas."
"Mas, boleh lanjut yang tadi?"
"Yang ... yang tadi mana? Yang tadi apa?" Luna seketika gugup. Jantungnya seakan dipompa begitu kencang.
Aglian tersenyum, lalu tanpa aba-aba ia mendekatkan bibirnya ke bibir Luna hingga bibir keduanya saling menempel. Aglian terdiam sejenak untuk memperhatikan reaksi Luna.
Luna yang hanya mematung seolah memberi isyarat lanjutkan sehingga Aglian pun melanjutkan apa yang ingin ia lakukan. Aglian mulai menyatukan kedua benda kenyal milik mereka. Dengan perlahan ia mulai me*u*at bibir Luna bergantian atas dan bawah.
Luna yang baru pertama kali merasakan ini hanya bisa mematung tanpa bereaksi apa-apa. Aglian yang paham kalau itu adalah ciuman pertama Luna pun mencoba membimbingnya. Ditekannya tengkuk Luna dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya membimbing tangan Luna agar mengalungi lehernya. Setelah itu, tangan kanannya melingkari pinggang Luna. Aglian mulai menggerakkan bibirnya dengan memberikan hisapan lembut pada bibir atas dan bawah milik Luna. Namun, gerakan lembut itu kian lama kian menuntut. Aglian sedikit menekan tengkuk Luna agar ciuman mereka semakin dalam. Tanpa sadar Luna mengerang di sela-sela ciumannya hingga mulutnya sedikit terbuka. Matanya pun sudah menutup. Tak mau membuang kesempatan, lidah Aglian segera menerobos celah itu dan melakukan gerakan sensual seperti mencecap, menghisap, dan m*lum*t. Aglian pun mengeksplor isi mulut Luna dengan lidahnya. Suara decapan pun sudah memenuhi ruang tamu itu. Luna benar-benar terbawa suasana, pun Aglian. Mereka begitu menikmati ciuman itu. Mereka melakukannya seakan sedang melepas rindu karena sekian lama terpisah. Mereka melakukannya dengan penuh perasaan. Beruntung suasana sedang sepi jadi tak ada yang dapat mengganggu kegiatan mereka. Aglian bahagia, bahkan sangat bahagia. Akhirnya apa yang tadi sempat tertunda bisa ia tunaikan.
Aglian baru melepaskan ciuman itu saat dirasanya Luna mulai kehabisan nafas. Nafas mereka berdua tampak memburu. Dengan dada naik turun, mereka tersenyum malu-malu. Diusapnya wajah Luna yang memerah. Aglian sangat menyukai rona itu. Ia juga merasa bahagia karena menjadi yang pertama bagi Luna. Ia harap bisa segera memiliki Luna seutuhnya. Namun, ia masih harus memastikan keadaan Stefani dahulu. Bila suasananya sudah kondusif, ia ingin segera memiliki Luna seutuhnya, hanya untuk dirinya, miliknya.
"Na ... terima kasih." bisik Aglian , tapi Luna hanya membisu , bukan karena marah, tapi karena terlampau malu. "Na ..." bisiknya lagi, lalu Aglian mengangkat dagu Luna agar mata mereka saling beradu, "I Love you." ucapnya pelan tepat di depan wajah Luna lalu Aglian mulai menyatukan bibir mereka kembali.
.
.
.
.
.
Happy Reading ...
__ADS_1
🥰🥰🥰
😘😘😘