
Anggi dan Diwangga kini telah tiba di kediaman Davindra, tepatnya kediaman orang tua kandung Anggi. Saat sudah di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Tampak keluar wanita yang sudah cukup berumur menyambut kepulangan Davindra, Ajeng, dan Aglian. Namun matanya tiba-tiba membola saat melihat sosok Anggi yang berdiri di antara Davindra dan Ajeng. Hatinya begitu penasaran, tapi kemudian ia mempersilakan tuan dan nyonya ya masuk dahulu sebelum mulai menanyakan sosok wanita cantik dan ayu yang sedang diapit pasangan suami istri itu.
"Selamat malam, Nya. " ucap bik Rumlah.
"Selamat malam, bik." jawab Ajeng. "Ayo sayang masuk, Ngga , kamu juga. Anggap aja rumah sendiri."
"Oh ya bik tolong buatin saya teh seperti biasa ya, untuk tuan Davin sama Lian, seperti biasa juga. Kalau kamu mau minum apa sayang, Angga juga biar bik Rum buat sekalian?"
"Anggi teh samain kayak mama aja ,ma! " jawab Anggi. "Mas Angga juga teh aja, udah malam ntar susah tidur kalau minum kopi." ujar Anggi dengan tersenyum sambil menatap bik Rumlah.
"Baik tuan, nyonya. Kalau begitu, saya permisi ke dapur dulu." ujar Rumlah sebelum berlalu dari hadapan Ajeng dan yang lainnya.
"Bik, sekalian sama kue dan camilannya juga, ya!" pekik Ajeng saat melihat Rumlah makin menjauh menuju dapur.
Rumlah menoleh sebentar dan mengangguk sebagai jawaban.
"Sayang, kamu mau ganti baju dulu nggak? Biar lebih nyaman? Mama ada simpan piama yang cocok buat kamu di kamar, kalau mau." tawar Ajeng.
"Baik, ma." sahut Anggi. Tak ada salahnya berganti pakaian, biar lebih nyaman pikirnya. Apalagi kalau mau tidur, tak mungkin ia memakai gamis panjang seperti yang ia pqkqi saat ini.
__ADS_1
Selagi Anggi dan Ajeng berganti pakaian, Diwangga, Davindra, dan Aglian menuju ruang keluarga. Mereka pun berbincang bertiga membahas berbagai hal.
Tak lama kemudian, Anggi dan Ajeng telah kembali dari berganti pakaian. Walau hanya mengenakan piyama bermotif bunga dipadukan hijab instan berwarna merah muda, kecantikan Anggi tak pernah pudar. Bahkan Diwangga sampai tak berkedip memandang wajah calon makmumnya itu. Anggi tak tahu saja, setiap Diwangga melihat Anggi , jantungnya selalu berdebar tiga kali lebih kencang. Kadang ia merasa malu, takut bila Anggi mendengar debaran jantungnya yang tak biasa itu.
Kini mereka tengah duduk bersama, lalu bik Rumlah datang menyajikan minuman dan cemilan di atas meja. Sebelum kembali ke dapur, Ajeng memanggilnya.
"Bik Rum," panggil Ajeng.
"Iya, Nya. Ada yang dibutuhkan lagi?" tanya Bik Rumlah.
"Sini, bik. Bibik bisa mengenali si cantik yang ada di samping saya, nggak?" tanya Ajeng sumringah.
"Wajahnya mirip wajah, Nyonya masih muda. Apa mungkin dia ... eh, maaf nyonya, bukan maksud saya mengingatkan." ujar Bik Rumlah tak enak hati. Hampir saja ia mengingatkan Ajeng dengan anak perempuannya yang menghilang.
"Anggi, dia Anggi, bik. Bibik nggak salah. Bibik benar, dia Anggi, putriku." ujar Ajeng sendu dengan mata berkaca-kaca.
"A-Anggi, Nya. Nona kecil?" tanya Bik Rumlah meyakinkan dan Ajeng mengangguk.
"Benar, bik. Anakku telah kembali. Putriku telah ditemukan." tukasnya bahagia.
__ADS_1
"Masha Allah." seru bik Rumlah sambil berhambur memeluk Anggi. "Ya Allah non, ternyata kamu udah gede. Cantik lagi. Mbok kangen non, kangen banget malah. Maafin mbok ya non, andai dulu mbok tidak pergi ke pasar sesuai permintaan Rada, pasti dia nggak bakal bisa nyulik non. Semua salah mbok, non. Gara-gara mbok, non jadi terpisah sama nyonya dan tuan." ucap bik Rumlah penuh penyesalan.
"Udah mbok, nggak usah pikirin yang lalu. Anggi nggak nyalahin mbok kok. Cuma sebelumnya Anggi mau tau cerita selengkapnya bagaimana Anggi bisa terpisah dari mama dan papa." Anggi berujar.
"Untuk itu, non bisa langsung tanyakan sama tuan dan nyonya. Tapi bagaimana non bisa ditemukan?" Mbok Rumlah penasaran bagaimana bisa nona muda keluarga ini tiba-tiba kembali setelah sekian tahun menghilang. Tidak mungkin kan ia pulang sendiri apalagi saat hilang usia Anggi baru 3 tahun.
"Kami juga belum tahu jelasnya, bik. Kalau bibik pingin tau, bibik gabung aja duduk di sini. Nggak usah merasa sungkan. Bibik sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri." ujar Davindra.
Atas saran Davindra, bik Rumlah pun ikut bergabung dengan duduk di salah satu sofa berwarna coklat emas.
Lalu mengalirlah cerita yang dimulai dari bagaimana Aglian menemukan Anggi. Awalnya ia melihat Anggi di sebuah minimarket saat ia mampir hendak membeli minuman ringan, karena merasa tak asing dengan wajah Anggi , dan malah menyerupai wajah sang mama tapi versi mudanya, ia pun mulai melakukan penyelidikan dan pendekatan. Aglian yang saat itu memiliki keyakinan kuat bahwa Anggi adalah kakak kembarnya yang hilang, terus menyelidiki hingga melakukan test DNA secara diam-diam guna memperkuat keyakinannya. Akhirnya keyakinannya pun terbukti, sesuai rencana awalnya ia akan mengungkapkan semuanya di hari ulang tahun sang mama yang kini telah menjadi malam paling istimewa bagi keluarga mereka.
Pun Ajeng dan Davindra, ia pun mulai menceritakan awal mula yang jadi penyebab diculiknya Anggi. Semua karena dendam. Dendam sang mantan asisten pribadi bernama Carlos yang ketahuan melakukan korupsi besar-besaran yang menyebabkan Angkasa Grup hampir gulung tikar sehingga ia pun dilaporkan ke polisi. Saat masa pelariannya, ia memanfaatkan sang ibu yang ternyata bekerja sebagai pengasuh si kembar. Ia memaksa ibunya menculik si kembar tapi Rada hanya mampu membawa salah satu saja , yaitu Anggi. Setelah Anggi berhasil diculik, ia kembali memaksa ibunya untuk membunuh Anggi, tapi karena tak tega, ibunya hanya membuangnya saja ke suatu tempat namun ia tak memberitahukan pada Carlos yang saat itu telah berhasil diringkus polisi. Saat anak buah Davindra berhasil menemukan tempat persembunyian Rada, ternyata itu adalah saat-saat terakhir wanita itu. Rada hanya sempat mengatakan bahwa Anggi masih hidup dan ia tinggalkan di suatu tempat. Baru saja ia ingin menyebutkan dimana tepatnya, ia malah menghembuskan nafas terakhir. Akhirnya, keberadaan Anggi pun tetap jadi rahasia yang dibawa mati oleh Rada.
Mereka sudah mencari kemana-mana, tapi tak kunjung jua ditemukan. Mereka juga mencari ke panti-panti asuhan di kota itu, tapi tak jua menemukan kabar baik. Tanpa mereka sadari, sebenarnya Anggi dibawa ke panti yang letaknya jauh dari kota, tepatnya di desa kelahiran Rada. Baru 10 tahun kemudian, panti itu pindah ke kota karena tanah tempat panti itu didirikan diambil alih oleh anak pemilik sebelumnya. Mereka tak rela bila tanah tersebut dihibahkan untuk pembangunan panti. Alhasil mereka bermigrasi ke kota. Syukurnya, berkat bantuan salah satu donatur, panti asuhan Kasih Bunda bisa berdiri hingga sekarang. Bila tidak, mungkin anak-anak panti termasuk Anggi akan kehilangan tempat bernaung dan semakin sulit untuk ditemukan.
Anggi kini merasa lega. Ia dulu berfikir bahwa ia sengaja dibuang orang tuanya. Ia bukan anak yang diinginkan. Ia bukan anak yang diharapkan, tapi ternyata ia salah. Justru kedua orangtuanya sangat menyayanginya.
Anggi amat sangat bersyukur, ia masih diberikan kesempatan berkumpul lagi dengan orang tua dan saudaranya. Ia merasa kebahagiaannya kini makin sempurna. Ternyata tak selamanya badai akan menghantam kehidupan dan meluluhlantakkan kebahagiaannya. Buktinya, kini kebahagiaan datang bertubi-tubi, melengkapi hidupnya yang dulu hampa dan penuh kedukaan. Benar kata pepatah, habis gelap terbitlah terang. Jadi jangan pernah berputus asa pada kesulitan, kesukaran, kesedihan, kepedihan, penderitaan, dan perpisahan, karena yakinlah bahagia itu pasti ada. Bahagia itu nyata. Mungkin belum datang pada saat ini, tapi nanti , bila saatnya tiba, semua kan menjadi indah. Semua kan indah pada waktunya.
__ADS_1