Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.172 (S2) Yes, I Do


__ADS_3

'Benarkah? Apakah aku sedang bermimpi? Hello, tolong semua, jangan bangunkan aku ya kalau ini semua mimpi! Kapan lagi coba bisa mimpi semanis ini.' teriak Erika dalam hati.


Cup ...


"Jangan melamun! Ini bukan mimpi. Ini real." bisik Azam membuat wajah Erika tiba-tiba bersemu merah.


"Eh ..." Erika mulai tersadar dari lamunannya, lalu ia menatap lekat mata Azam yang kini posisinya makin dekat kepadanya. Lalu tangan Erika tanpa sadar terangkat dan mengusap pelan bibirnya, membuat Azam tersenyum simpul.


"Kenapa? Masih mikir ini mimpi, hm? Atau ... kamu mau lagi ...?" Erika masih terbengong-bengong menatap lekat wajah Azam. 'Ini mimpi atau kenyataan sih?' gumamnya dalam hati.


"Zam, aku ... aku nggak lagi mimpi kan? Atau kamu lagi sakit terus ngigo ? Kalau mimpi, ini kan belum sore, aku nggak pernah tidur di sore hari? Duh, imajinasi mungkin! Ah, benar, ini pasti hanya imajinasi." gumam Erika sendiri dengan tampang bodohnya membuat Azam terkekeh geli. "Ni otak kebanyakan bayangin Azam sih! Pasti kalo aku pegang, imajinasi Azam ini akan ngilang!' gumamnya lagi. Lalu Erika memandang tangannya yang digenggam Azam. Kemudian diangkatnya tangan itu ke depan wajahnya dan mengigitnya kuat.


"Awww ..." pekik Azam saat tangannya digigit Erika. "Udah kayak Zombie kamu, Ka." Azam mendelik.


"Astaga!" ucapnya seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jadi ini bukan mimpi, bukan imajinasi, dan kamu ..."


"Stop!" pekik Azam tepat di depan wajah Erika. "Kamu tuh ya, ternyata punya sisi lucu juga. Bikin aku gemes pingin gigit, tau nggak!" decak Azam sambil mencubit pipi Erika. "Ka, dengerin ya, apa yang semua aku ucapin tadi beneran lho, bukan kamu mimpi, bukan kamu imajinasi, bukan aku sakit terus ngigo juga, it's real, Ka. Di sini, di dalam sini, entah sejak kapan tertulis nama kamu. Aku juga belum lama sadarnya. Sekarang aku tanya sama kamu, bagaimana perasaan kamu? Jangan bohong ya! Harus jujur! " ancam Azam dengan sorot mata tajam.


"Astaga nanya perasaan anak perawan udah kayak maksa penjahat ngakuin kejahatannya aja, Zam!" Erika mencebikkan bibirnya.


cup ...


Lagi-lagi Azam mencuri kecupan singkat di bibir Erika.


"Azam, ih, apaan sih kamu nyosor-nyosor nggak permisi lagi!" kesal Erika.


"Lah, aku kirain bibir kamu dimajuin kayak tadi karena minta lagi!" seringai Azam dengan kekehannya.


"Gila!" umpat Erika. "Jadi mau dijawab nggak nih?" sambungnya sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Hmm ..." kini Azam memasang mimik wajah serius membuat Erika menghela nafas berat.


"Zam, jujur nih ya, aku jujur, sebenarnya ... aku ... aku udah suka sama kamu sejak masa pelatihan kita." cicit Erika dengan suara pelan , namun masih bisa didengar Azam membuat Azam menyeringai puas.


"Jadi?"


"Jadi gimana maksud kamu?" tanya Erika bingung.


"Kamu masih mau menerima lelaki lain jadi calon suami kamu?"


"Ya,... tergantung." jawab Erika ambigu.


Azam mengerutkan keningnya, "Tergantung apa?"


"Tergantung siapa yang gercep." sahut Erika santai, namun dalam hati ketar ketir, apa reaksi Azam selanjutnya, mau memperjuangkan dirinya atau menyerah.


Azam menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Erika terdiam dengan mata menatap lekat ke netra Azam. Ia sedang mencari kesungguhan pria di hadapannya itu. Azam yang paham kalau Erika sedang bingung, lantas mengambil tangannya dan menciumnya sekilas.


"Aku tau, kamu pasti bingung, tapi aku sungguh-sungguh, Ka! Ini emang dadakan, bahkan aku nggak bawa cincin, tapi aku tak bisa menunda untuk mengatakan ini, Will you marry me?" tanya Azzam dengan sorot mata penuh kesungguhan.


Erika menganga tak percaya atas apa yang didengarnya. Namun, itu tak berlangsung lama, ia lantas mengulum senyum kemudian menganggukkan kepalanya antusias, "Yes I do, Zam. I'm ready to marry you." jawab Erika dengan binar penuh kebahagiaan.


...***...


Saat ini Kentaro sedang berada di apartemen Azam yang ditempati Jelita. Mata Kentaro kini tampak hanya terpaku pada satu sosok yang sedang sibuk di meja dapur. Ya, Jelita sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Kentaro. Kentaro tidak mengizinkannya masak sendiri karena khawatir wanita hamil itu kelelahan jadi ia memesan makanan via delivery order.


Jelita mengeluarkan satu per satu makanan dari cup plastik yang membungkusnya. Ada sup daging, sambal udang, dan perkedel kentang. Jelita juga mengupas buah melon sebagai pencuci mulut.

__ADS_1


"Ken, yuk kita makan!" panggil Jelita. Kentaro pun segera beranjak dari sofa dan duduk di meja makan tepat di seberang Jelita.


Lalu Jelita mulai menyendokkan nasi putih ke piring Kentaro, memberinya sambal udang dan perkedel, serta semangkuk sup daging. Jelita melayani Kentaro seperti seorang istri melayani suami. Kentaro merasa terharu diperlakukan seperti ini oleh Jelita. Kemudian, mereka pun makan dengan diam. Sesekali Kentaro melirik bagaimana cara Jelita menyantap makanannya, begitu pun sebaliknya. Kadang kala tanpa sengaja mereka saling bertatapan membuat mereka berdua jadi salah tingkah.


"Je. " panggil Kentaro saat kini mereka tengah duduk berdua di sofa ruang tamu.


"Ya, Ken! Ada apa?" sahut Jelita seraya pura-pura mengotak-atik ponselnya.


Kentaro yang tau akan hal itu, lantas mengambil ponsel di tangan Jelita, dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia pindah duduk tepat di sebelah Jelita dengan kedua kaki dilipat ke atas hingga ia menghadap ke arah Jelita sepenuhnya.


"Je, kita married yuk! Kita nikah di KUA aja dulu supaya resmi, baru next mikirin resepsi. Sebelum baby dalam perut kamu membesar." ucap Kentaro seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Jelita. "Aku pingin segera memberi status sama baby kita. Aku nggak mau ada yang meledek dia di kemudian hari saat menyadari dia ada sebelum kita menikah. Mumpung usianya baru 8 Minggu dan perut kamu belum membesar. Gimana Je, kamu mau kan?" sambung Kentaro dan Jelita masih bergeming menatap mata Kentaro. "Maaf kalau lamarannya nggak romantis, aku cuma mau melakukan secepatnya. Melakukan yang terbaik buat kamu, buat baby, buat kita. Please, jawab aku Je, jangan diam aja!" ucap Kentaro dengan wajah memelas.


"Aku akan nerima kamu, tapi kamu bisa janji nggak?"


"Janji apa?"


"Janji kalau kamu nggak akan pernah menduakan aku?"


"Nggak perlu kamu suruh aku janji, Je, aku bahkan sudah bersumpah pada diriku sendiri akan berusaha mencintaimu dan anak kita, menyayangi dirimu dan anak kita, dan selalu setia padamu hingga akhir hayat hidupku. You're only one. Now and forever." ucap Kentaro dengan penuh kesungguhan.


Jelita tersenyum bahagia. Hingga tanpa sadar, bulir kristal bening telah turun dari pelupuk matanya.


"Oke, aku mau menikah denganmu, Ken." jawab Jelita dengan mantap.


Lalu tanpa aba-aba, Kentaro menarik bahu Jelita dan memeluknya erat. Jelita yang merasakan kehangatan tulus dari Kentaro makin terisak. Ia merasa sangat lega dan bahagia, seperti kebahagiaan tah mulai berjalan ke arahnya. Perlahan tapi pasti, bahagia akan segera dia raih.


"Terima kasih, Je. Terima kasih karena sudah menerima diriku yang hina dan penuh salah dan dosa ini. Terima kasih juga karena terus mencintaiku meski aku telah menyakitimu. Aku berjanji, akan berusaha membalas cintamu, Je. Aku akan membayar semua kesalahanku dengan mencintaimu seumur hidupku." ucap Kentaro dengan raut wajah penuh kelegaan dan kebahagiaan.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2