Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.61 Luna meet Lian


__ADS_3

Kini Luna dan pemuda yang menabraknya sudah berada di dalam mobil menuju ke sekolah Damar. Sembari melajukan mobilnya, pemuda itu mencoba mengenalkan dirinya kepada sang gadis yang diperkirakannya masih berusia sekitar 20 tahunan.


"Oh iya, kita belum kenalan. Perkenalkan namaku Aglian Saputra, biasa dipanggil Lian. Kalau boleh tau namamu Siapa?" tanya Aglian seraya menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, sedangkan tangan kiri mencoba mengendalikan stir mobil.


"Luna, om." jawabnya singkat sambil menyambut uluran tangan Aglian untuk bersalaman.


"Om?" gumamnya seraya mengembalikan tangan kanannya ke posisi semula, mengendalikan kemudi.


Luna melirik Aglian sekilas. "Kenapa? Emang situ om-om, kan!" tanya Luna polos sambil menaikkan alisnya ke atas


Aglian mendesah kasar. "Aku nggak setua itu kali. Usiaku aja baru 26 tahun. Emang tampangku keliatan tua banget ya?" tanya Aglian sambil mengusap wajahnya di depan dear mirror saat mobil berhenti karena terjadi sedikit kemacetan


"Hmmm... keliatan kayak usia 30 tahunan. Berarti kamu seumuran sama mbakku donk. Dia juga 26 tahun."


"Ah, masa' aku keliatan setua itu? Ah mungkin karena efek kurang tidur nih. Aku sering begadang hampir setiap malam soalnya. Eh, tadi kamu bilang mbak mu juga 26 tahun. Nah, masa' aku yang seusia mbak kamu malah dipanggil om, aneh. Panggil yang lain ih." protes Aglian


"Lah, kita kan selisih 8 tahun. Lumayan jauh, jadi nggak masalah donk panggil om." ketus Luna dengan mata memicing.


'Gadis unik.' kekeh Aglian dalam hati


"Panggil kakak , Abang, atau mas deh ya, please!" pinta Aglian membuat Luna menjengit.


"Idih, sok akrab banget sih loe! Kenal aja baru." ketus Luna lagi


"Jadi cewek jutek banget sih, kayak cewek lagi PMS aja." Aglian terkekeh. "Nih, udah sampai. Cepat turun gih, jemput keponakanmu."


"Biarin jutek. Wekkk.." balas Luna sambil menjulurkan lidahnya mengejek Aglian. Aglian hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengjan kepalanya melihat tingkah Luna


"Awww...ish..." Luna tampak meringis saat ingin turun dari mobil menuju gerbang sekolah


Aglian yang mendengarnya sontak menahan tangan Luna yang sudah menurunkan satu kakinya keluar mobil.


Luna menoleh, "Kenapa?" tanya Luna heran tiba-tiba dia dihentikan


"Kaki kamu kayaknya sakit banget. Biar aku aja yang cari ponakan kamu. Kamu punya fotonya? Namanya siapa?" Aglian menawarkan bantuan sebab bagaimanapun luka-luka yang dialami Luna akibat perbuatannya yang melajukan mobil sambil membuka ponsel.


"Tapi.... nggak ngerepotin kan?" tanya Luna mencoba meyakinkan

__ADS_1


"Nggak papa, anggap aja ini sebagai pertanggungjawaban ku atas apa yang menimpamu." ujar Aglian tulus sehingga mau tak mau Luna pun menuruti permintaannya.


Luna pun mengeluarkan ponselnya lalu ia menunjukkan foto dirinya dengan Damar dan si kembar, seketika Aglian membelalakkan matanya.


"Apa yang kamu sebut mbak itu, Anggi?" tanya Aglian penasaran


Luna yang mendengar nama Anggi disebut oleh orang asing di depannya merasa tak aneh lagi. Toh sekarang Anggi terkenal jadi wajar kalau banyak orang yang mengenalinya termasuk dengan pemuda yang ada ada di hadapannya ini, mungkin.


Luna mengangguk tanda mengiyakan. Ekspresi Luna tampak santai, tapi tidak dengan Aglian. Ia justru heran kenapa ekspresi Luna malah tampak santai saat tau ia mengenali Anggi.


"Kamu kok santai aja?"


"Maksudnya?"


"Waktu aku nyebut nama Anggi, kok bukannya nanya aku kenal dimana, tapi malah cuek." Aglian kini benar-benar penasaran


"Yah, orang-orang hampir se-Indonesia juga udah tau siapa itu Anggi. Mbak Anggi kan sekarang terkenal jadi wajar banyak yang mengenalinya. Termasuk kamu, ya kan! Atau jangan-jangan om salah satu fansnya?" ucap Luna dengan memicingkan mata


"Apa? Fans?" seketika tawa Aglian pun meledak bersamaan ia melihat Damar berdiri di depan gerbang sekolah. "Yayaya, terserah otak kamu mau mikir kayak gimana, yang pasti next kita bakal sering ketemu. Aku jemput Damar dulu di sana!" ujarnya yang masih tertawa


Aglian pun menghampiri Damar dan langsung memberitahukan tujuannya. Ia juga menunjuk ke arah mobilnya dimana Luna sudah menunggu.


"Kalau nggak percaya, tuh liat ke arah sana, tuh Tante Luna kamu udah nungguin." tunjuk Aglian ke arah mobilnya


"Onty Luna." seru Damar, ia pun segera berlari menuju Luna yang sudah melambaikan tangan melalui jendela mobil


"Onty Luna kenapa? Wah, luka. Onty Luna kecelakaan. Om kita ke rumah sakit ya bawa onty Luna." ucap Damar cemas


"Siap bos . Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Atau kamu juga mau sekalian ngunjungin adik kamu, hm?" Yanwar Aglian setelah ia dan Damar telah duduk di dalam mobil


"Hah, om kenal sama Karin dan Kevin?" seru Luna dan Damar bersamaan membuat Aglian lagi-lagi garuk kepala


"Iya kenal. Eh Lun, nggak bisa apa panggil yang lain masa' kamu manggil aku sama kayak Damar sih!" dengus Aglian dengan wajah kesal ia lun melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Melihat Aglian kesal Luna justru tertawa cekikikan


"Apa yang lucu, hm?" tanya Aglian dengan sorot mata memicing, seketika Luna menutup mulutnya yang tak mau berhenti tertawa


"Oke oke mas Lian, nah gimana aku panggil mas Lian aja nggak masalah kan?" tanya Luna dengan sorot mata puppy eyesnya membuat Aglian gemas

__ADS_1


"Ternyata cewek jutek kayak kamu bisa gemesin juga ya!" ujar Aglian sambil mengacak rambut Luna, sedangkan Damar hanya melongo melihat interaksi Luna dan Aglian


"Om, om beneran kenal sama Karin dan Kevin ya?" tanya Damar penasaran dengan kepala menyembul dari bangku belakang


"Hmmm... malah om kemarin sempat temenin adik-adik kamu pas mama lagi diperiksa."


"Emang mbak Anggi sakit juga mas?" tanya Luna


"Cuma kelelahan aja kok. Sudah dikasi vitamin juga jadi kamu nggak perlu khawatir."


"Aku itu khawatir banget lho mas. Apalagi waktu Karin dan Kevin tiba-tiba sakit , mbak Anggi panik banget. Semua karena mas Adam sialan itu. Eh ...oops...lupa " ujar Luna sambil menutup mulutnya, ia lupa di mobil itu juga ada Damar. Tak seharusnya ia mengumpat


"Apa? Jadi anak-anak sakit karena Adam?" tanya Aglian penasaran. Terlihat dari sorot matanya, ia sangat kesal sampai -sampai ia mengeratkan pegangannya pada kemudi


Ntah dorongan dari mana , Luna pun menceritakan kronologis kejadiannya.


Setibanya di rumah sakit, Aglian langsung memapah Luna menuju ruangan dokter. Luna pun segera di obati. Setelah mendapatkan perawatan, Aglian pun mengajak Luna dan Damar ke ruangan Karin dan Kevin.


"Abang, onty Luna." seru Karin dan Kevin bersamaan saat melihat Luna dan Damar muncul dari pintu masuk


"Luna, Damar, kok kalian bisa barengan Lian?" Anggi penasaran


"Gini Nggi, aku tadi nggak sengaja menabrak Luna di jalan. Jadi dia sedikit luka-luka. Untung lukanya nggak parah." ujar Aglian dengan nada menyesal


"Ya sudah, yang penting sekarang sudah nggak apa-apa. Ayo duduk dulu, Lian." Anggi mempersilakan Aglian duduk di sofa


Tok tok tok...


Pintu pun terbuka, ternyata itu Robi yang membawakan makan siang untuk mereka. Tadi sebelum melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Aglian menyempatkan diri mengirim pesan pada Robi untuk membeli makanan.


Setelah meletakkan makanan, Robi pun izin untuk kembali ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakannya.


"Makasih ya Rob, maaf sudah merepotkan."


"Ah, tidak masalah Bu. Sudah kewajiban saya melayani keluarga tuan Davindra." ujarnya membuat Anggi mengernyitkan dahi


"Tuan Davindra? Siapa itu..."

__ADS_1


"Saya permisi dulu, Bu." potong Robi sebelum Anggi bertanya lebih banyak lagi


__ADS_2