
Robi tampak terpaku dalam diam di balkon kamar hotel miliknya. Robi mengusap kasar rambutnya , bingung memikirkan konsep lamaran yang cukup berkesan dan romantis untuk melamar Safa.
Tidak seperti asisten pribadi lainnya yang hampir semua tugas diserahkan padanya hingga urusan percintaan sang bos, Robi justru hampir tak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Kalaupun ada campur tangannya, hanya sebatas perantara, namun untuk konsep semua Aglian lakukan secara otodidak. Robi jadi gusar sendiri sebab ia benar-benar buta akan hal-hal yang romantis. Sekedar menyenangkan wanita saja ia kadang bingung harus bagaimana. Katakanlah ia bodoh, bodoh dalam hal cinta dan bodoh dalam hal memperlakukan wanita.
Hari sudah menginjak tengah hari, bahkan mentari pun kini telah berada tepat di atas kepalanya, tapi ia belum juga terpikir konsep yang sekiranya menarik dan romantis untuk ia terapkan.
"Astagaaa, bodoh banget sih gue! Mikirin konsep lamaran aja kayaknya butek banget nih otak. Kemana hilangnya otak cerdas gue ya!" omelnya gusar seraya mengacak-acak rambutnya hingga berantakan sempurna.
Robi lantas terpikir untuk menelpon Aglian, ia tahu, bos potong gajinya itu sangatlah brilian dalam hal melakukan hal-hal romantis. Bukan hanya itu sih, tapi hampir semua hal mampu ia tangani dengan tepat dan cepat. Karena itu, tanpa orang sadari, ia pun mengidolakan atasannya sendiri.
Namun sepertinya ego dalam diri Robi kini sedang tinggi. Ia merasa sungkan dan enggan meminta saran dari pak bos kesayangannya itu. Padahal tinggal kring ide brilian pun akan ia dapatkan. Tapi tetap saja, ego kadang membuat seseorang yang buta dan tuli.
"Berfikir ... berfikir ... berfikir ..." gumam Robi seraya mengetukkan jari telunjuknya di dahi.
Tring ...
Seperti tokoh dalam serial kartun, lampu ide di atas kepala Robi seketika menyala sempurna. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide brilian.
Robi tersenyum sumringah setelah sekelebat ide mampir di otak Gegas ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang yang nomornya pernah ia pinta dari Aglian.
Robi tampak serius berbincang dengan seseorang di seberang telepon. Setelah berbincang sekitar 15 menit, Robi menutup panggilannya dengan senyum yang kian melebar. Senyumannya udah kayak habis menang kuis Who wants to be a millionaire. Ia yakin 💯% lamaran ini akan berkesan bagi Safa.
"Wish me luck!" gumamnya seraya mengepalkan tinju ke udara.
...***...
Senja kini telah berganti malam, cahaya mentari pun telah menghilang, berganti kerlap kerlip lampu kota .
Sydney, adalah salah satu kota yang terbesar dan teramai di negara Australia. Pemandangannya begitu indah. Di sana juga terdapat berbagai destinasi wisata yang mampu membuat para turis berdecak kagum seperti taman, pantai, dan tempat mengagumkan lainnya.
Dan di kota ini pula, seorang gadis yang berasal dari Indonesia tinggal. Awalnya ia tinggal di sana karena ingin meneruskan pendidikannya di sana, namun beberapa hari yang lalu ia sempat berfikir untuk tinggal di sana selamanya sebelum akhirnya ia membatalkan niatnya itu hanya karena permintaan satu orang.
Menurut netijen yang baik, ramah, rajin, pandai menabung, dan tidak sombong siapa ya?
__ADS_1
Yah, benar, jawabnya adalah si Emak. Seratus ribu untuk netijen tapi uangnya ambil di dompet masing-masing ya! 😂
Yang jawab Si Emak tadi cung angkat tangan. ☝️
Emak bang Obi memang pahlawan sejati.
Malam ini, Robi berpenampilan tidak terlalu formal, tapi cukup berkesan. Safa sampai meneguk ludahnya sendiri saat melihat sosok di hadapannya kini terlihat berkali-kali lebih tampan .
"Malam, bang Obi." sapa Safa canggung secarya meremas kedua tangannya
Robi tersenyum kikuk kali ini. Ia menarik nafas pelan lalu menghembuskannya seraya menatap manik mata Safa yang tengah sibuk mengaguminya.
"Malam, Fa. Ayo kita berangkat!" ajak Robi yang telah terlebih dahulu meminta izin pada Sofiyan yang kini tampak menggendong bayi mungil dalam pelukannya.
"Hmmm ... hati-hati di jalan." ujar Sofiyan dengan senyum sumringah yang dibalas Robi dan Safa demgan anggukan dan jempol yang terangkat ke atas.
Kini tibalah Safa dan Robi di sebuah restoran yang berada di hotel tempat Robi menginap. Sebelum melancarkan aksinya, Robi ingin mengajak Safa menikmati makan malam berdua perdana mereka. Perkenalan yang singkat, nyatanya cukup mampu memutarbalikkan hati Safa dan Robi hingga membuat mereka kini makin dekat. Tanpa sadar, kini hati mereka berdua saling tertaut. Hingga menciptakan suatu gelenyar yang mampu memporak porandakan kesendirian yang selama ini menemani hari mereka.
Di bawah remangnya cahaya lampu restoran, Safa dan Robi tampak menikmati hidangan demi hidangan yang tersaji di depan matanya. Mereka menikmati makan malam itu dalam diam, namun mata mereka sesekali saling melirik seolah mereka sedang berkomunikasi via lirikan.
'Ternyata bsa juga map plastik laminating emak bersikap lembut dan mesra. ' batin Safa bicara.
Lalu Robi menarik perlahan tangan itu agar Safa mengikuti langkahnya yang entah mengajaknya kemana. Robi sesekali melirik Safa sambil mengulum senyum. Jujur saja , jantungnya rasanya ingin meledak saat tangannya saling bersentuhan dengan tangan Safa. Hingga sampailah mereka di sebuah taman yang terletak di belakang hotel.
Mata Safa seketika membelalak sempurna saat melihat apa yang ada di hadapannya kini. Sebuah tulisan Marry Me yang begitu besar terpampang nyata di hadapannya dengan dikelilingi lampu kecil-kecil warna warni membuat kesan romantis yang begitu indah di mata Safa.
Tak lama kemudian, dari belakang tubuhnya keluar orang-orang terdekat dirinya sambil memegang sebuah rangkaian huruf Yes or no membuat Safa seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mata Safa seketika memanas hingga bulir-bulir kristal bening pun lolos dari pelupuk mata indah itu. Robi mendekat ke arah Safa lalu menekuk satu lututnya sambil menyodorkan sebuah cincin emas putih bermatakan berlian putih kecil nan indah.
"Safa, Abang tau, selama mengenal Abang pasti Safa sering kesal bahkan marah pada sifat abang yang cuek dan jutek. Jujur, itu bukanlah kehendak Abang, namun itu karena Abang belum terbiasa dekat dengan perempuan. Pasti Safa nggak percaya, namun itulah kenyataannya. Abang bingung harus bersikap bagaimana. Katakanlah Abang begitu bodoh dalam hal perempuan. Tapi satu hal yang Safa harus tau, entah sejak kapan Abang sudah memulai tertarik pada Safa. Dan makin kesini perasaan Abang makin besar dan terasa. Di depan Tante Amel, kak Sofiyan, dan keluarga Safa lainnya, Abang ingin menyatakan perasaan Abang yang sesungguhnya kalau Abang menyukai Safa, menyayangi Safa, bahkan kini Abang mencintai Safa. Safa, Will you marry me ?" ucap Robi dengan penuh kesungguhan.
Safa menyeka air matanya yang makin deras keluar dari pelupuk matanya. Lalu ia berjalan mendekati sang mama yang kini sedang memegang tulisan Yes dalam huruf yang besar. Safa memandang mata ibunya dengan lekat, seakan meminta persetujuan, lalu Amel pun mengangguk membuat Safa tersenyum lebar. Lalu ia ambil tulisan itu dan menggerakkan di depan dada dengan senyuman 1.000 Watt.
__ADS_1
"Yes." serunya. "Yes, i do bang Obi. Yes, I do." serunya setengah berteriak membuat senyum Robi merekah indah.
Tak lama kemudian terdengar sorak sorai dari mulut semua orang yang menyaksikan itu. Robi pun langsung merentangkan kedua tangannya, Safa yang paham pun langsung berhambur ke pelukan Robi dengan kebahagiaan yang membuncah. Kemudian Robi pun menyematkan cincin yang ia pegang tadi ke jari manis Safa lalu mengecupnya mesra membuat Safa tersipu malu.
"Makasih bang . I like your proposal. So romantic." puji Safa.
"If you like it, kiss me, please!" bisik Robi membuat wajah Safa bersemu merah.
"Malu, ih. Ada mama sama kakak, ada Adrian juga." ucapnya pelan dengan bibir mengerucut.
"Ya sudah, nanti saat kita berdua aja kasinya, oke!" bisiknya lagi lalu Safa pun mengangguk sembari menunduk malu.
"Woi, lepas! Pelukannya kelamaan. Nikah dulu, baru bebas mau peluk sampai lebaran monyet juga bebas." Adrian menggoda Safa dan Robi membuat mereka terpaksa melepaskan pelukan itu.
"Ish, sirik aja loe!" gerutu Safa membuat Adrian, Amel, dan Sofiyan terkekeh.
Di lain tempat, ada sesosok ibu tua dan pembantu setianya tampak berjoged ria saat mendapatkan kabar keberhasilan putranya melamar calon menantu idamannya. Ia tak menyangka, akhirnya si map plastik laminating kesayangannya bisa lumer juga di tangan seorang gadis bernama Safa.
"Yeay, emak berhasil! Emak dapat mantu. Yeay, akhirnya doa emak diijabah Allah ." seru si Emak begitu bahagia sambil berjoged ria tak peduli encoknya yang bisa saja tiba-tiba kambuh akibat aksi jogednya itu.
"Selamat ya, Mak. Leha ikutan seneng." seru bik Leha sambil bertepuk tangan.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
Oh ya akak-akak semua, makasih ya yg udah berpartisipasi dg terus mendukung karya saya di Battle Popularitas Karya. Kalau gk salah sih semalam nangkring di posisi no. 11, mau cek lagi subuh tadi, tapi udah hilang. Nah, ini 3 pelindung teratas yang berhak get hadiah pulsa ya! Yg namanya tertera di sini bisa DM ke Ig Mak othor di @dhewi01 ya! Sertakan juga screenshot profil akun NT kalian.
Maaf kalo pulsanya gk gede² amat. ☺️
Buat pelindung yg lain , makasih ya kak. Tanpa dukungan kalian, apalah artinya karyaku ini.
Salam hangat utk keluarga tercinta.
__ADS_1
I love you all. 🥰🥰🥰