
Setelah kepergian Anggi dan Diwangga dari hadapan Lea, gadis itu pun beranjak menjauh sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia merasa sangat kesal karena merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Anggi di hadapan teman-temannya.
"Awww ... lepasin aku, brengsek!" teriak Lea saat merasakan tangannya ditarik kencang hingga tubuhnya terseret ke sudut ruangan.
Setelah tiba di sudut ruangan, tiba-tiba beberapa orang meringsek tubuh Lea dengan tatapan kesal.
"Rin, loe apa-apaan sih nyeret gue sampe ke sini!" bentak Lea. "Dan juga loe Dil, Mer, kalian kenapa sih tiba-tiba nyeret gue , udah kayak kambing gue tau nggak!" bentaknya pada ketiga wanita yang merupakan teman Lea dan juga Sunny, sang mempelai wanita.
"Loe tu yang apa-apaan, Le! Ini nih pesta pernikahan teman kita, harusnya loe hargain dan jangan buat keributan. Ini apa, loe udah kayak orang nggak waras tiba-tiba ngajak berantem calon istri Angga." tukas Rini
"Iya Le, loe udah gila apa? Cinta sih cinta Le, tapi jangan sampai bikin loe udah kayak orang gila gitu. Apa loe nggak malu sama teman-teman yang lain. Tamu di sini bukan hanya teman-teman kita, tapi juga ada tamu Rafad, rekan bisnis keluarga besar mereka, nggak mikir apa loe risikonya ntar." Dila ikut menimpali
"Loe tau Le, sekarang Anggi itu udah jadi rekan bisnis pak Aglian. Loe kan kerja di departemen persiapan dan perencanaan perusahaan Angkasa Grup, harusnya loe tau. Perbuatan loe ini bisa jadi bencana buat loe sendiri tau nggak!" Meri mencoba mengingatkan
"Alah baru juga rekan bisnis. Palingan kerja sama dia itu cuma berupa nyewa kios di Angkasa mall dan itu juga nggak mungkin berhubungan langsung. Setau gue orang yang mau sewa kios juga datangnya ke bagian marketing dan Humas, jadi mereka nggak mungkin berhubungan langsung." bantah Lea
"Ck ... Ternyata loe nggak tau apa-apa. Tau nggak, itu kerja sama buat partner bisnis biasa, kalo ini luar biasa. Bahkan tuan Aglian sampai mengutus pak Robi langsung untuk menawarkan kerja sama itu. Mereka bahkan bertemu tatap muka langsung. Tuan Aglian juga mengajak dia makan siang bareng." jelas Meri lagi.
Tiba-tiba tubuh Lea menegang. Bagaimana bila mereka punya hubungan baik, bisa-bisa ia tersingkir dari perusahaan Angkasa Grup. Padahal ia sudah susah payah berjuang agar bisa lolos bekerja di perusahaan bonafit itu. Tidak mudah untuk menjadi bagian perusahaan Angkasa Grup yang perusahaan nomor 1 di negara ini. Tentu harus dengan prestasi yang mumpuni, dedikasi dan loyalitas, serta kedisiplinan yang tinggi untuk terus bertahan dan maju di perusahaan itu. Ia tak mau hanya karena masalah sepele ini, ia harus kehilangan pekerjaan kebanggaannya itu.
Berbagai pikiran negatif mulai berseliweran di otak Lea. Mulai dari pikiran bahwa kemungkinan besar ia akan dipecat, hingga pikiran tentang kemungkinan Anggi memiliki hubungan khusus dengan pemimpin tertinggi perusahaan tempat ia bekerja tersebut.
"Oh ya!" seru Lea sambil menyeringai. "Kalian tau, bisa saja itu karena tuan Aglian memiliki hubungan khusus dengan janda murahan tersebut. Pasti Angga nggak tau sifat buruk wanita itu. Aku harus segera mengingatkannya agar ia tidak jatuh ke dalam rencana licik perempuan tersebut." tukas Lea masih dengan pikiran piciknya
__ADS_1
Plakkk...
"Aaaaarg... sakit bodoh." bentak Lea saat pipinya tiba-tiba ditampar oleh seseorang.
Lea segera mengangkat wajahnya. Ia pun tersentak. Ia benar-benar terkejut setengah mati. Ia tak tak pernah sekalipun melihat kemarahan dari temannya tersebut yang kini seharusnya sedang berada di atas pelaminan, bukannya di sini, di sudut ruangan bersama ketiga temannya. Lea merasakan tenggorokannya tercekat saat menatap mata Sunny yang menatapnya tajam.
"Sun-Sunny, sedang apa loe di sini? Bukankah seharusnya loe ada di atas pelaminan? Dan ... kenapa loe malah menampar gue?" tanya Lea frustasi
"Loe masih tanya kenapa? Loe nggak nyadar tindakan konyol loe tadi udah mengacaukan hari bersejarah dalam hidup gue ? Loe tau, orang tua sama mertua gue sampai malu menghadapi para tamu karena perbuatan konyol loe itu. Sekarang loe cek sosial media milik loe. Loe benar-benar bakal hancur sekarang, Le. Loe udah hancurin diri loe sendiri." tukas Sunny
Lea yang masih sibuk mengusap pipinya yang perih karena tamparan Sunny, segera mengambil ponsel dalam clutch miliknya. Ia pun segera membuka laman sosial media. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Bagaimana tiba-tiba dirinya menjadi viral. Bukan viral dalam hal yang baik dan menyenangkan, tapi sebaliknya. Perbuatan bodohnya tadi kini mengundang caci maki banyak orang. Malu, itu yang kini ia rasakan.
Lea menatap wajah Sunny dengan tatapan kosong. Ia sudah benar-benar jatuh kali ini. Harga diri yang ia junjung tinggi kini benar-benar remuk tak bersisa. Bahkan ibunya pun mengirimkan pesan berisi caci maki karena ikut terseret urusan anaknya tersebut. Hancur, malu, tak dapat ia tutupi lagi hingga tanpa sadar air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
"Iya Le, benar kata Meri. Mending loe sekarang minta maaf sama mereka." timpal Rini
"Ta-tapi apa mereka akan menerima permintaan maafku." lirih Lea frustasi seraya mengusap kasar wajahnya
"Mereka orang baik, Le. Gue yakin, mereka pasti bakal maafin loe. Asal loe minta maaf dengan tulus dari dalam hati loe." tukas Dila ikut menimpali
.
.
__ADS_1
.
Setelah hampir 2 hari tak sadarkan diri, akhirnya Bu Tatik mulai mengerjapkan matanya. Matanya berusaha menyesuaikan pencahayaan yang berpendar masuk ke netranya. Adam yang sedang duduk bersandar di sofa sambil memejamkan mata sontak berdiri saat mendengar suara lirih sang mama.
"Ma, mama udah sadar?" tanya Adam
"Haus, Dam. Mama mau minum." pinta Bu Tatik
Adam pun segera membantu Bu Tatik minum dari gelas yang telah di sediakan pihak rumah sakit.
Setelah membantu sang ibu minum, ia segera menekan tombol di sisi ranjang agar dokter segera datang kemari memeriksa keadaan sang ibu.
"Sulis mana, Dam?" tanya Bu Tatik
"Sulis pulang dulu, ma. Dia mau mandi dan ambil baju ganti untuk besok." ujar Adam.
Setelah menanyakan tentang Sulis, Bu Tatik pun kembali terdiam seribu bahasa.
Tak lama kemudian, datanglah dokter yang ditemani seorang perawat. Selagi menunggu Bu Tatik diperiksa, Adam pun keluar ruangan dan duduk di kursi yang sudah disediakan pihak rumah sakit untuk para pengunjung pasien.
Saat sedang duduk bersandar di bangku, tiba-tiba mata Adam melihat sosok yang ia kenal. Matanya membulat sempurna, ia yakin dengan siapa yang dilihatnya. Ia pun segera mengikuti gadis itu yang ternyata adalah Tita. Sepertinya Tita baru saja membeli kopi dan makanan ringan dari kantin rumah sakit. Adam pun tanpa sadar mengikuti ke mana tujuan Tita.
'Mau kemana Tita? Siapa yang dirawat di rumah sakit ini? Apa Anggi? Ah, semoga saja bukan. Tapi ... bila pun benar, bukankah ini kesempatanku untuk memberinya perhatian agar ia mau kembali ke pelukanku.' seringai Adam dengan mata berbinar penuh harap.
__ADS_1