
Malam kian beranjak dan pesta pernikahan terhebat abad itupun telah sukses digelar. Hanya tersisa decak kagum orang-orang baik yang diundang sebagai tamu maupun yang melihat beritanya dari berbagai media.
Kini Anggi telah kembali ke kamarnya, sedangkan Diwangga masih sibuk dengan beberapa koleganya di lantai bawah. Tubuhnya merasa sangat lelah sebab dari subuh ia sudah diminta untuk bersiap. Segera ia melepaskan satu per satu baik pakaian maupun aksesoris yang menempel di tubuhnya. Ia pun masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat yang diberi beberapa tetes minyak aromaterapi beraroma lavender kesukaannya. Setelah berendam sekitar 15 menit, ia segera beranjak dari dalam bathtub dan mulai membersihkan diri di bawah guyuran shower. Ia sengaja tak membasahi rambutnya sebab hari sudah terlalu malam. Ya saat itu sudah pukul 10. Andai tubuhnya tidak terasa lengket karena keringat, mungkin ia lebih memilih tidak mandi karena Anggi tak menyukai mandi pada malam hari.
Setelah mandi, Anggi pun membalut tubuh polosnya dengan bathrobe. Ia segera beranjak menuju lemari pakaian dan mengambil baju tidur dari berbentuk dress berbahan satin berwarna pink. Setelah memakainya, ia segera menuju meja rias dan mulai menyisir rambut hitamnya yang panjangnya sebatas pinggang. Namun, mungkin karena terlalu lelah atau terlalu khusuk saat menyisir rambutnya, ia tak menyadari ada sepasang mata elang yang menatapnya penuh arti.
Perlahan pemilik mata elang itu mendekati Anggi yang kini sedang menerapkan beberapa tahap skincare ke wajahnya lalu dilanjutkan memakai body lotion ke sekujur tubuhnya. Sontak pemilik mata elang itu membelalakkan matanya. Tak pernah sekalipun ia melihat lekuk tubuh wanita secara gamblang seperti ini. Tanpa diminta, libidonya naik drastis. Jakunnya naik turun. Tubuhnya seketika terasa terbakar. Namun ia coba kendalikan dirinya. Ia tak mau tergesa. Ia ingin menikmati setiap momen berharganya dengan Anggi, istri tercintanya.
Anggi pun selesai memakai semua rangkaian perawatan wajah dan tubuhnya. Ia segera berdiri dan membalikkan tubuhnya , hendak menuju ke ranjang. Refleks ia memundurkan langkahnya hingga membentur kaki meja.
"Awwh ...!" pekik Anggi.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanya Diwangga khawatir. Dengan segera ia berjongkok untuk memeriksa kaki Anggi.
"Ish, mas Angga , ngejutin orang aja, ih!" Rajuk Anggi. "Cuma kebentur sedikit, nggak usah sok panik gitu deh! Biasa aja kali." Anggi mendelik.
"Namanya juga khawatir, sayang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Diwangga sambil mengusap puncak kepala Anggi dan menatapnya intense. "Kamu cantik banget, sayang. Dulu seingatku, sebelum kamu pake hijab, rambutmu cuma sebatas bahu, ternyata sekarang sudah panjang banget, ya! Syukurnya kamu sudah pakai hijab jadi orang-orang nggak bisa lihat keindahan rambutmu dan kecantikanmu dengan rambut terurai panjang," puji Diwangga.
"Gombal," ucap Anggi sambil tersipu malu.
"Mas nggak gombal, Nggi. Mas serius.m," sahut Diwangga sambil mengapit dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Mas mandi dulu, gih! Bau keringet." delik Anggi, mencoba menghindari gombalan Diwangga yang semua itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Diwangga yang melihat ekspresi mendelik istrinya dengan mata melotot justru tergelak hingga ia memegang perutnya menahan sakit karena terlalu kuat tertawa.
"Nggak usah melotot, kamu lucu kalau melotot kayak gitu." ujarnya sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Tak butuh waktu lama untuk Diwangga membersihkan diri. Hanya dalam 15 menit, Diwangga telah kembali dengan memakai atasan kaos polo berwarna biru muda dan celana pendek denim hitam.
Kini keduanya sedang duduk di balkon sambil menikmati secangkir coklat hangat di bawah taburan bintang menambah kesan romantis malam itu. Tampak Anggi sedang menyandarkan kepalanya di dada kekar Diwangga dengan lengan Diwangga melingkari pinggang Anggi.
"Sayang ..." panggil Diwangga.
"Hmmm ..." sahut Anggi.
"Sumpah, mas sangat bahagia akhirnya mimpi mas menjadikan kamu istri mas bisa menjadi nyata," ucap Diwangga dengan mata berbinar.
"Mas ..." gantian, kini Anggi yang memanggil Diwangga.
"Ya sayang, ada apa, hmm?" tanya Diwangga sambil sedikit menundukkan wajahnya agar dapat memandang wajah cantik wanita idamannya itu.
__ADS_1
"Kata mas mau cerita sesuatu kalau udah halal, jadi kapan mau ceritanya? "
"Cerita apa?" Diwangga lupa cerita apa yang ia janjikan itu.
"Is, udah pikun aja!" cibir Anggi. "Itu lho, kan mas mau cerita, emang sejak kapan mas cinta sama Anggi apalagi mas selalu bilang sudah lama banget lah, bertahun-tahun lah, bikin penasaran aja." Anggi melengoskan wajahnya kesal.
Diwangga terkekeh setelah ingat apa yang dimaksud istrinya itu. Lalu Diwangga menangkupkan wajah Anggi dengan kedua lengannya.
"Sejak 8 tahun ah sudah hampir 9 tahun yang lalu." ucap Diwangga masih ambigu. Jantungnya sontak berpacu dengan hebat saat netra mereka berdua bertemu.
"Hah! Itu kan artinya waktu Anggi masih atau udah lulus SMA." sahut Anggi dengan mata melotot. "Emang kita pernah kenalan atau gimana sih mas? Anggi bingung. Anggi bener-bener nggak ingat tentang mas Angga." ungkap Anggi.
Diwangga tersenyum lalu mengecup dahi Anggi lama.
"Kita emang nggak kenalan, nggak saling kenal juga cuma kita pernah nggak sengaja bertemu satu kali dulu. Kala itu kamu sedang jalan dengan masih memakai seragam putih abu-abu, terus tiba-tiba kamu dihadang 2 preman lalu ...."
"Stop." sentak Anggi memotong ucapan Diwangga. "Itu mas? Mas yang udah nolong aku?" ucap Anggi penuh keyakinan dan Diwangga mengangguk.
Seketika air mata Anggi meleleh membasahi pipinya. Lantas ia segera memeluk erat tubuh suaminya. Ia tak menyangka, bisa bertemu lagi dengan orang yang pernah menolongnya. Dulu bahkan ia sempat berharap berjumpa lagi, namun ternyata takdir mempertemukan mereka lagi di masa kini.
"Anggi nggak nyangka bisa ketemu mas lagi. Makasih ya mas sudah nolongin Anggi. Mas itu seperti malaikat tak bersayap yang selalu ada dan siap menolong Anggi di saat-saat genting. Anggi bahagia akhirnya Anggi justru berjodoh dengan malaikat penolong dan pelindung Anggi," ujar Anggi bahagia dan dibalas senyuman oleh Diwangga.
Di sela ciuman mesra mereka, Diwangga menyelipkan lengannya di antara lipatan kaki dan lengan Anggi, dengan pelan ia mengangkat tubuh Anggi menuju kasur kingsize hotel untuk menuntaskan apa yang seharusnya dituntaskan. Namun kegiatan mereka tiba-tiba terinterupsi oleh nyaringnya suara ketukan di pintu. Membuat Anggi dan Diwangga seketika menghentikan kegiatannya. Dengan langkah lebar, Diwangga membuka sedikit pintu itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat ketiga anak sambungnya telah berdiri di depan pintu.
"Maaf mas, anak-anak maksa pingin tidur sama mama dan papanya katanya. Luna, Tita, dan Lia , bahkan mas Lian udah bujukkin tapi mereka nggak mau. Mereka maksa mau ke mari." ucap Luna dengan wajah memelas , tak enak hati mengganggu pasangan pengantin itu.
Di luar dugaan justru Diwangga tersenyum lebar, ia menyambut ketiga anaknya dengan bahagia. Artinya mereka benar-benar menerima kehadirannya sebagai papa mereka. Luna yang ditemani Tita dan Aglian pun akhirnya bernafas lega.
"Papa, kami mau bobok baleng papa, boleh kan!" ujar Karin dengan puppy eyesnya membuat Diwangga gemas.
"Boleh kan papa kalau Abang, Epin, dan Ayin bobok baleng mama sama papa?" timpal Kevin.
"Boleh kok sayang, ayo kita masuk temuin mama," ajak Diwangga.
"Mamaaa ....." pekik trio bocil saat melihat Anggi sedang duduk di pinggir ranjang.
"Lho kok belum tidur, sayang?" tanya Anggi pada ketiga buah hatinya.
"Tadi udah sempat tidur sebentar ma, terus mereka bangun lagi, pingin tidur bareng mama dan papa kata Kevin dan Karin," jelas Damar.
"Yeay, kan ini Abang juga yang mau, kok kami aja yang disebut mau bobok sama mama dan papa, emang Abang nggak?" Karin mendelik dengan bibir mengerucut membuat Anggi dan Diwangga terkekeh.
__ADS_1
Damar terlihat salah tingkah. Sebenarnya ia juga mau, tapi malu mengatakannya karena ia merasa sudah besar , sudah tidak pantas tidur ditemani orang tuanya.
"Udah nggak usah malu, kalau mau tidur sama mama dan papa, bilang aja. Mama dan papa nggak apa-apa kok. Cuma jangan sering-sering, nanti proses pembuatan calon adik kalian terganggu." ujar Diwangga membuat Anggi melotot kesal dan mendaratkan sebuah cubitan ke lengan Diwangga.
"Emang mama sama papa mau buatin adek buat Ayin?" tanya Karin polos, Kevin dan Damar pun ikut menantikan jawabannya.
"Hmmm ... kalian mau kan," tanya Diwangga dengan raut wah was,-was.
"Oke donk, tapi malam ini kami bobok dusun, ya pa, ma." timpal Kevin.
Anggi melirik Diwangga. Ia merasa tak enak hati pada suaminya tersebut. Namun Diwangga malah tersenyum lebar ke arahnya. Anggi merasa lega karena Diwangga tak mempermasalahkannya. Ia juga merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian.
"Mas akan sabar nunggu kok. Masih ada hari esok." bisik Diwangga di telinga Anggi membuat wajahnya seketika merona.
.
.
.
.
Di ruangan temaram yang letaknya di tengah hutan Adinda kini tampak kian pucat. Sekuat tenaga ia coba melepaskan diri tapi usahanya seakan sia-sia. Hingga tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang yang tengah mengintip ke dalam ruangan tempat ia terikat. Ia baru saja hendak berteriak meminta pertolongan, tapi sosok tersebut memberi isyarat agar diam dengan meletakkan telunjuknya di bibir. Ia pun menurutinya. Sosok itu memberi isyarat lagi untuk Adinda bersabar hingga terdengar suara letusan senjata api yang memekakkan telinga disertai dobrakan keras pintu.
Dorrr ...
brakkk ...
"Angkat tangan!"
.
.
.
.
**Good Night.
Happy reading**.
__ADS_1