Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch. 55 Poor Adam


__ADS_3

Ceklek, Anggi masuk ke ruangan perawatan Karin dan Kevin.


"Gimana hasilnya pemeriksaannya, Nggi?"


"Belum keluar, nggak sampai satu jam lagi hasilnya udah bisa diliat kok " ujarnya santai sambil berjalan menghampiri kedua anak kembarnya


"Semoga hasilnya baik-baik saja ,ya."


"Aamiin." sahut Anggi tak mau banyak berbasa-basi


"Karin lagi ngapain?" tanya Anggi saat menghampiri anak gadis satu- satunya itu


"Ayin lagi liatin gambal hewan-hewan di buku yang dikasi om Lian, ma " jawab Karin yang melirik sekilas ke arah Anggi lalu tatapannya kembali memperhatikan gambar-gambar hewan yang ada di buku pemberian Aglian


"Kalau Kevin lagi apa?" giliran Kevin yang ia hampiri


"Lagi nyusun lublik ini ,ma. Cucah banget." ujar Kevin tapi tetap mata dan jemarinya menyusun rubrik agar warna-warnanya sejajar


"Assalamualaikum. Halo cucu Oma." sapa Bu Sofi saat Diwangga membuka pintu dan mempersilakan Bu Sofi dan Suseno masuk


"Omaaaa...Yeay, Oma datang sama opa juga." teriak Karin dan Kevin girang

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, ma, pa." sahut Anggi seraya menyalami dan mencium punggung tangan Bu Sofi dan Suseno bergantian


Aglian yang memang belum pergi dari sana karena masih menunggu Robi yang dalam perjalanan pulang dari membeli makanan, tampak mengernyitkan dahi lalu tersenyum sumringah saat melihat siapa yang datang.


Suseno yang melihat keberadaan Aglian pun sontak terkejut, ia langsung tersenyum lebar.


"Lian." sapa Suseno


"Papa kenal Aglian?" tanya Diwangga


"Bukan kenal lagi, tapi kenal banget. Kamu kenal om Davindra kan, nah ini dia putranya." ujar Suseno


Aglian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Baru ingat bang." ujarnya sambil terkekeh


"Jadi kamu udah tau?" raut muka Diwangga tampak terkejut


"Ya iyalah, yang namanya CEO Angkasa Grup itu harus cerdas , sigap, dan cekatan. Abang pengacara, tapi kurang cekatan. Masa' nggak bisa mengenali aku." ejek Aglian


"Emang situ penting?"


"Penting lah, penting banget malah. Ntar kita malah bakal sering berhubungan." ujar Aglian ambigu

__ADS_1


"Ya, kalau bukan karena urusan Anggi aku juga malas berurusan sama kamu. Bocah tengil yang suka ingusan, hii.." ejek Diwangga pura-pura jijik.


Ia ingat saat kecil dia berumur 12 tahun dan Aglian sudah berusia 7 tahun, saat itu Davindra sering mampir ke rumah Suseno untuk membahas suatu masalah sehingga Aglian pun jadi ikut sering main ke rumah Diwangga. Diwangga masih ingat dengan jelas, saat itu Aglian sangat suka mengikutinya kemana pun sampai Aglian berdecak kesal sendiri. Yang membuatnya kesal bukan karena sering diikuti, tapi ia jijik saat melihat hidung Aglian yang tak pernah kering dari ingus. Sebab itu ia selalu menjauh, tapi ketika ia mau menjauh kemana pun, tetap saja Aglian mengekori sampai suatu ketika, karena kesal Diwangga berlari menyebrangi jalan raya untuk menghindari Aglian , namun Aglian masih mengekor dengan tampang bodohnya tanpa melihat bahaya di jalan raya sebab ia menyebrangi jalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri lagi. Akibatnya, karena mata Aglian yang terlalu fokus pada tubuh Diwangga yang berlari semakin jauh, Aglian pun tertabrak mobil. Saat mendengar keributan ada seorang anak kecil tertabrak mobil, sontak Diwangga menegang, dengan cepat ia berlari membelah kerumunan itu untuk melihat siapa sosok anak kecil yang ditabrak itu. Dunia seakan berputar-putar, kepalanya pening seketika hingga akhirnya ia pun jatuh tak berdaya. Pingsan. Saat ia sadar ternyata ia telah berada di rumah sakit. Diwangga yang tiba-tiba mengingat kejadian yang baru saja ia alami sontak langsung bertanya pada ibunya dimana putra om Davindra, teman papanya itu. Ternyata karena kondisi yang parah , Aglian harus dilarikan ke rumah sakit di Singapura untuk menjalani pengobatan yang lebih baik


"Lho jadi sebenarnya mas Angga sama Lian udah kenal lama ya?" tanya Anggi penasaran


"Kenal lama tapi baru tau sekarang." jawab Diwangga enteng. "Oh ya ,maaf aku dulu pergi meninggalkanmu begitu saja sehingga kau harus mengalami kecelakaan. " ujar Diwangga penuh penyesalan


"Udah ah bang, nggak usah bahas masa lalu. Lagipula aku sudah sehat wal Afiat kok ."


.


.


.


Sementara itu, siang itu karena kepala Adam yang sakit hingga rasanya berdentam, ia sengaja izin untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menghubungi Adinda sama sekali sebab memang semenjak Adinda keguguran, hubungan mereka sudah agak renggang. Lagi pula percuma menghubungi istrinya itu sebab seperti biasa pasti Adinda tidak sedang berada di rumah. Seperti biasa ia gemar jalan-jalan ntah kemana, Adam tak pernah tau sama sekali.


Adam telah menijikkan kakinya di rumah. Ia pun segera membuka pintu rumah dengan kunci yang ia miliki. Namun , saat memasuki rumah itu, ia melihat tv masih menyala tapi Adinda tak ada di situ. 'Ah, mungkin ia sedang berada di toilet." pikir Adam.


Ia pun segera melangkahkan kakinya menapaki tangga rumah satu per satu menuju kamarnya hingga beberapa langkah lagi ia akan memasuki kamar, ia mendengar suara-suara yang tak semestinya. Dengan perlahan ia mendekati pintu kamar yang tak terkunci lalu dengan pelan ia mendorong pintu itu hingga matanya fokus ke arah ranjang dimana biasa ia tidur. Matanya membelalak, wajahnya pun menghitam, kelam, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih,bahkan giginya pun bergemeletuk menahan emosi saat menyaksikan adegan yang tidak seharusnya ia lihat di sini, di rumahnya, di kamarnya, dan di atas ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2