
Hari berganti hari seakan begitu cepat. Pagi itu Anggi bangun tidur dengan kepala yang sedikit berat. Tapi karena ingat tanggung jawabnya yang besar, ia segera bangkit dari peraduan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Anggi membangunkan Diwangga agar segera membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya. Begitu pun ke tiga anaknya. Mereka kini sudah terbiasa menjalankan kewajiban secara berjama'ah. Sesuatu yang pernah dulu Anggi idam-idamkan justru terwujud di pernikahan keduanya. Oleh sebab itu, ia tak pernah menyesali perpisahannya dengan Adam sebab karena perpisahan itulah akhirnya ia dipertemukan dengan seorang suami, seorang ayah, sekaligus seorang imam yang sempurna di matanya dan anak-anaknya.
Oh ya, kini keluarga kecil dan bahagia itu juga telah menempati rumah yang Diwangga jadikan mahar saat ijab kabulnya lho. Rumah yang cukup besar dengan halaman depan cukup luas untuk menampung beberapa mobil dan halaman belakang yang juga luas untuk dijadikan tempat bermain, kolam renang, dan kebun mini bagi Anggi yang gemar bercocok tanam dari bunga maupun buah dan sayuran.
Bukan hanya Anggi yang menjalani pernikahannya dengan sangat bahagia, tapi Diwangga pun begitu. Sejak menikah , setiap pagi ia memiliki rutinitas membantu anak-anaknya bersiap ke sekolah, sedangkan Anggi bertugas menyiapkan sarapan. Si kembar kini juga telah sekolah di sebuah PAUD yang tak jauh dari rumahnya. Sedangkan Damar tetap di sekolah sebelumnya karena jaraknya pun tak terlalu jauh dari rumah.
Sebenarnya di rumah itu sudah ada ART yang bertugas mengurus rumahnya, tapi untuk memasak Anggi memang sudah menginstruksikannya akan memasak sendiri. Sesibuk apapun ia, Anggi tetap mengusahakan memasak untuk anak dan suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Diwangga saat melihat Anggi tampak memijat pelipisnya. Ia usap surai Anggi yang terurai karena baru saja selesai disisir.
"Aku nggak papa kok, mas. Cuma sedikit pusing aja." Jawab Anggi seraya tersenyum manis.
"Kalau pusing, mending kamu istirahat aja dulu." saran Diwangga.
"Maaf mas, nggak bisa. Hari ini aku ada meeting penting jadi nggak mungkin aku cancel gitu aja." ucap Anggi penuh rasa penyesalan.
"Ya udah, tapi ingat jaga kesehatan ya! Kalau kamu ngerasa badan kamu makin nggak enak, telepon mas aja biar mas jemput ke sana ."
"Baik, mas. Makasih ya. cup ..." sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Diwangga membuatnya beku seketika.
.
__ADS_1
.
.
"Moza, bisa tolong bilangin ke OB buatkan saya segelaa air lemon." pinta Anggi melalui interkom.
"Baik, Bu." lalu Moza pun mulai menghubungi orang-orang yang ada di pantry untuk membuat apa yang diinginkan sang bos besar.
Setelah Moza menelfon ke bagian pantry, ruangan yang biasanya sepi itu justru menjadi gaduh. Ternyata Adam dan Lea lah penyebabnya. Mereka ribut dan berebutan ingin membuatkan pesanan bos mereka. Awalnya Adam lah yang menjawab panggilan itu. Namun saat Lea mendengar Anggi-lah yang meminta minuman tersebut, Lea jadi bersemangat untuk membuatkan dan mengantarkannya langsung. Tentu dengan niat terselubungnya. Tetapi Adam menolak keras, tentu ia tidak mau. Inilah kesempatannya untuk dapat menemui Anggi. Wanita yang ternyata masih bercokol di hati dan fikirannya. Wanita yang sangat ia rindukan. Ibu dari anak-anaknya. Tentu kesempatan itu takkan Adam lepaskan begitu saja
tok tok tok
"Masuk." titah Anggi.
'Anggi sudah terlalu tinggi, Dam Ia sudah tak mungkin kau capai lagi. Kau memang lelaki terbodoh yang pernah ada. ' rutuk Adam dalsm hati.
Mengetahui orang yang mengantarkan minumannya tetap bergeming, tak beranjak 1cm pun, membuat Anggi mendongakkan kepalanya. Matanya membelalakkan lebar saat ia mengetahui sosok yang berdiri di hadapannya.
"Ehem m... " Anggi tampak mengendalikan keterkejutannya dengan berdeham. "Apa Anda masih ada perlu dengan saya?"
brukkk....
Tiba-tiba saja Adam berlutut di hadapan Anggi membuatnya terkejut setengah mati. 'Apa maksudnya ini? Kenapa mas Adam tiba-tiba bersujud di hadapanku? Dia tidak menginginkan yang aneh-aneh kan!'
__ADS_1
"Mas Adam, apa yang kau lakukan! Cepat berdiri? Aku tak mau orang-orang kantor berfikir yang macam-macam tentangku." cecar Anggi dengan wajah panik.
"Nggi, maafin semua kesalahan mas! Mas mohon maaf atas segala khilaf mas, Nggi. Mas akui mas bodoh selama ini. Mas jahat. Mas emang bener-bener bodoh, membuang berlian dan memungut arang. Mas bodoh Nggi, mas bener-bener bodoh menyia-nyiakan dirimu dan anak-anak. Mas menyesal Nggi , benar-benar menyesal. Mas mohon, maafkan mas , Nggi!" Raung Adam sambil bersimpuh di hadapan Anggi.
Dapat Anggi liat seraut wajah penuh penyesalan di wajah Adam. Jujur saja, Anggi sudah lama memaafkan Adam. Bahkan semenjak ia mulai menyadari perasaannya pada Diwangga. Tapi ia bingung, apa tujuan Adam meminta maaf, hanya untuk mengakui kesalahannya atau ada tujuan lain.
"Berdirilah mas! Aku bukanlah orang yang suka memendam kebencian dalam hati yang berbuntut dendam. Aku sudah memaafkan, mu. Maafkan aku juga bila selama kita bersama, aku tak bisa menjadi yang terbaik buatmu."
Adam menggeleng tegas. Ia tidak membenarkan perkataan Anggi bahwa dia tidak bisa menjadi yang terbaik. Justru sebaliknya, Anggi adalah wanita terbaik yang pernah ada dalam hidupnya.
"Nggak Nggi, nggak, justru sebaliknya. Engkaulah wanita, istri, dan ibu yang terbaik yang pernah ada dan yang pernah aku temui. Aku saja yang bodoh tak menghargai perjuangan dan ketulusanmu. Andai waktu dapat ku putar kembali, aku takkan pernah menyakiti dan menyia-nyiakan dirimu. Tapi sayang ... semua sudah terlambat. Kita ... tak mungkin bisa bersama lagi. Maafkan mas , Nggi atas segala kebodohan, mas ." ujar Adam dengan air mata yang terus menetes.
"Sudah mas. Aku sudah bilang aku telah memaafkanmu. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, mas. Yang penting sekarang kamu berubah dan jadilah seorang pria yang bertanggung jawab. Buang sifat-sifat burukmu dan dekatkanlah dirimu dengan yang Kuasa agar hidupmu bisa lebih bahagia dan damai. "
"Terima kasih Nggi, engkau memang wanita yang sangat baik. Kau seperti bidadari tak bersayap. Semoga kau selalu bahagia Nggi." ujarnya tulus. Anggi hanya tersenyum menanggapi. " Nggi, boleh kah kapan-kapan mas menemui anak-anak? Mas merindukan mereka." mohon Adam dengan wajah memelas
"Baiklah, katakan saja kapan mas ingin menemui mereka. Aku akan memberitahu mereka." ucap Anggi dengan seulas senyuman penuh ketulusan.
"Terima kasih, Nggi atas waktunya. Kalau begitu, mas permisi dulu." Adam pun bangkit dan berlalu ke luar ruangan dengan perasaan yang lebih tenang dan bahagia.
Sementara Adam telah menyadari semua kesalahannya di masa lalu, Lea justru semakin terpuruk dengan dendam dan amarahnya. Apalagi setelah mendapat cerita dari sang ayah, keluarga Angkasa lah penyebab mereka harus terpisah bertahun-tahun.
'Aku takkan melepaskan diri kalian begitu saja. Aku akan membalas semua dendamku. Aku takkan membiarkan kalian bahagia sedangkan aku di sini terpuruk. Tunggu saja, aku pasti akan membalaskan dendamku ini .'
__ADS_1