Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.81 Dipingit


__ADS_3

Dengan perasaan kesal yang kian bercokol di hati, Adam melajukan mobilnya dengan kencang seraya memukul-mukul kemudi untuk menyalurkan luapan amarah di dadanya.


"Brengsek ... sombong sekali kau Anggi. Kau pikir dia akan tetap mencintaimu bila ia sudah menikah dengan salah satu pewaris perusahaan Angkasa. Kau pasti akan ditinggalkannya, bodoh! Apalagi wanita itu merupakan saudara kembar tuan Aglian, aku yakin dia pasti sangat cantik. Dimana-mana, pria akan lebih memilih wanita cantik dan kaya. Ayo kita lihat, siapa yang nanti akan menangis darah karena kecewa! Bila saat itu tiba, kau pasti akan bersimpuh memohon maaf untuk kembali padaku dan di saat itu pula aku akan menertawakan kebodohanmu." gumam Adam dengan kilat amarah di matanya.


Di saat Adam sedang meluapkan amarahnya dengan memacu kendaraan roda empatnya dengan kencang, maka di tempat lain ada seorang wanita dengan ketiga temannya sedang tertawa bahagia. Bagaimana ia tak bahagia, orang yang ia benci karena hampir saja menjadi saingan yang dianggapnya tak pantas, akhirnya kalah sebelum berperang. Sungguh, Lea sangat membenci Anggi karena merebut Diwangga. Ia tak masalah sebenarnya bila Diwangga menemukan jodoh yang lain, tapi asal itu pantas dan sebanding, tidak seperti Anggi yang hanya yatim piatu dan tak jelas asal-usulnya karena dibesarkan di panti.


"Ngapain loe senyam-senyum sendiri, udah persis orang gila, tau nggak sih loe!" ejek Rini.


"Tau tuh, ada berita apa nih kayaknya bahagia banget." timpal Dila.


"Woy, Lea! Berhenti senyam-senyum nggak jelas gitu, horor tau. Buruan cerita gih, ada kabar bahagia apa sampai bikin loe happy banget kayak gitu!" sindir Meri.


Lea mendengus, horor? Memangnya dia hantu apa dibilangin horor!


"Untuk malam ini gue traktir kalian semua makan sepuasnya." ujar Lea dengan wajah berbinar.


"Serius loe! " tanya Rini meyakinkan.


"Loe lagi dapat lotre ya, Le?" tanya Dila.


"Atau loe dapat gebetan baru yang kaya raya?" timpal Meri.


"Ck ... bawel banget loe pada. Mau nggak nih?" tanya Lea sambil bersedekap di dada. Sedetik kemudian ia terkekeh geli pada ketiga temannya yang menatapnya aneh.


"Oke oke, gue cerita alasan gue happy. Loe tau nggak ternyata tuan Aglian, ..."


"Tunggu-tunggu ...!" tiba-tiba Rini menyela ucapan Lea sebelum Lea sempat menceritakan alasan ia merasa bahagia.


"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Angga yang bakal nikah sama saudara kembarnya CEO kita?" tebak Rini yang juga bekerja di Angkasa Grup tapi di departemen pemasaran.


Lea mengangguk pasti.


"Kok loe bahagia sih? Emang apa hubungannya? Bukannya seharusnya loe patah hati ?" cecar Meri.

__ADS_1


Lea tergelak mendengar pertanyaan temannya itu. "Patah hati sih iya, itu udah pasti sebab Angga bukannya nikah sama gue, tapi dibanding patah hati rasa puas di hati gue lebih besar sebab itu artinya Angga nggak jadi nikah sama tuh janda." tukas Lea menjelaskan pada teman-temannya.


"Kenapa sih loe nggak suka banget Angga nikah sama Anggi? Mereka cocok gitu. Anggi juga kayaknya baik." sergah Dila tak suka pada sikap Lea yang sama saja merendahkan status janda .


"Dia emang cantik, tapi dia itu janda. Dia nggak pantas berdampingan sama Angga, belum lagi asal usulnya itu, nggak jelas. Pokoknya nggak banget deh. Nah, setelah ada pengumuman di Angkasa kalau putri dari pendiri perusahaan Angkasa yang merupakan saudara kembar CEO Angkasa bakal nikah sama Angga, gue seneng dong. Artinya Angga nggak akan jatuh ke tangan janda kampungan itu." ujar Lea antusias membuat ketiga temannya hanya bungkam.


"Sulis!!!" teriak Adam dengan nada suara naik beberapa oktaf saat melihat adik pulang ke rumah dengan sempoyongan.


"Eh, mas Adam." ujar Sulis sambil terkekeh. "Mas, lagi ngapain?"


"Kamu mabuk?" tanya Adam saat ia mencium bau alkohol menguar dari tubuh Sulis.


"Hehehe... iya mas. Tenang aja, aku minum sedikit kok." sahut Sulis sambil berjalan sempoyongan menuju kamarnya.


Adam hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Semenjak terkuaknya peristiwa perselingkuhan Anton dan Adinda, Sulis mulai bersikap aneh. Namun Adam tak bisa mencegahnya, masalah dirinya saja sudah rumit, ia tak mampu lagi bila harus memikirkan adiknya juga.


"Dam, mama besok minta duit 5 juta." ujar Bu Tatik santai.


"Ma, tapi besok Adam harus bayar cicilan rumah, kalau nggak bisa-bisa rumah Adam diambil ." jelas Adam dengan wajah memelas.


"Mama nggak mau tau, pokoknya uangnya harus ada besok. Titik." tegas Bu Tatik sambil melemparkan majalah yang tadi dibacanya.


Adam meraup kasar wajahnya. Ia bingung, mana yang harus didahulukan. Keuangannya benar-benar memburuk semenjak berpisah dengan Anggi. Ia tak pernah lagi menerima bonus karena setiap rancangannya meleset dari target. Sekarang Bu Tatik dan Sulis sudah tinggal di rumah Adam. Beberapa hari yang lalu orang yang mengaku sudah membeli rumah peninggalan almarhum ayahnya itu datang dan kini mereka telah menempati rumah tersebut. Bila rumah yang ia tempati sekarang tidak dibayar cicilannya, dikhawatirkan akan disita bank. Adam tak bisa melakukannya. Ia dan keluarganya akan tinggal di mana bila rumahnya di sita oleh bank. Adam kini dalam posisi simalakama, bila uangnya diberikan kepada ibunya, maka siap-siap rumah disita, bila tidak diberikan, bukan tak mungkin Bu Tatik akan mengamuk.


Kini Anggi tengah di rumahnya bersama kedua orangtuanya dan juga Diwangga. Hari ini Anggi tidak tidur di rumah orang tuanya karena banyaknya wartawan yang telah stand by tak jauh dari kediaman orang tuanya demi mencari berita tentang anak perempuan keluarga Davindra tersebut, tapi sebagai gantinya orang tua Anggi-lah yang menginap di kediaman Anggi. Tentu Anggi sangat bahagia dengan kehadiran kedua orang tuanya di kediamannya. Anggi menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan bahagia. Ia bahkan memasak berbagai macam masakan dan kue-kue demi menyambut mereka.


Kini Anggi , Diwangga, dan kedua orang tua Anggi , serta kedua orang tua Diwangga yang baru saja turut bergabung tengah berbincang di ruang tamu selepas mereka makan malam.


"Ngga, mulai besok sampai hari H, kamu nggak usah temui Anggi dulu, ya!" pinta Ajeng.


"Lho, kenapa gitu Tan?" tanya Diwangga heran.


"Angga, kok masih Tante sih! Mama, mulai sekarang kamu panggil kami mama dan papa juga sama kayak Anggi, oke!" titah Ajeng dengan sorot mata tegasnya mengabaikan pertanyaan Diwangga sebelumnya.

__ADS_1


"Iya, ma. Tapi ma, jawab dulu pertanyaan Angga tadi, kenapa kami nggak boleh ketemu dulu?"


Ajeng dan Sofi saling melirik lalu tersenyum lebar. "Karena Anggi harus dipingit dulu." ujar Ajeng santai.


"Tapi ma, Angga nggak bisa kalau nggak ketemu Anggi 1 hari aja. Apalagi ntar sampai beberapa hari, duh Angga nggak bisa ngebayanginnya, ma. Please, bolehin kami ketemu ya, ma!" bujuk Diwangga dengan wajah memelas.


"Ish, udah jadi bucin kakak gue loe bang!" sergah Aglian saat ia tiba-tiba sudah berdiri di depan rumah Anggi bersama Stefani.


"Biarin ,bucin juga sama calon istri sendiri, ya nggak ,Yang?" Diwangga meminta dukungan tapi yang dimintai dukungan hanya tersenyum simpul tak mengeluarkan satu patah kata pun.


"Wah, ma, udah berani sayang-sayangan di depan umum dia! Mana si Diwangga pengacara handal , tegas, dan garang yang orang-rang kenal. Adanya pengacara bucin." ejek Aglian seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Stefani.


Anggi yang melihat tautan tangan antara Aglian dan Stefani menunjukkan sorot mata meminta penjelasan.


"Hai Nggi, kakakku yang paling cantik, nih kenalin , calon adik iparmu, Stefani. Stef, ini Anggi." ujar Aglian mencoba memperkenalkan.


"Hai mbak, kenalin aku Stefani." ujar Stefani seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Anggi . Yuk , silahkan duduk!"


"Malam Tante." sapa Stefani pada Ajeng seraya mencium punggung tangan Ajeng, bergantian juga pada Sofi, Suseno, dan Davindra.


"Wah, udah punya calon istri juga kamu , Lian " ujar Suseno.


"Iya donk om, emangnya hanya Anggi yang pingin nikah, Lian juga donk." ujar Aglian dengan tersenyum lebar.


"Masalah yang tadi gimana, ma? Angga masih boleh kan nemuin Anggi ?" Ternyata Diwangga belum menyerah juga ingin tetap menemui Anggi setiap hari.


"NGGAK BOLEH! TITIK." tegas Ajeng dan Bu Sofi membuat Diwangga tampak menggeram frustasi. Melihat ekspresi frustasi di wajah Diwangga, yang lainnya justru tertawa kencang.


Anggi kini sangat bahagia, akhirnya ia bisa juga berada di tengah-tengah kehangatan keluarga. Impiannya kini, satu per satu mulai terwujud. 'Hamba bersyukur pada-Mu ya Allah atas segala karunia-Mu. Semoga kebahagiaan ini nyata, bukan mimpi adanya .' gumam Anggi dalam hati.


Selamat malam semua.

__ADS_1


Happy Reading.🥰


__ADS_2