
Sesuai rencana, hari ini Anggi membawa Luna ke Royal Hotel . Di sana sudah ada MUA ternama yang bertugas me-make over penampilan Luna. Di sana juga sudah ada penata busana yang akan membantu Luna mengenakan gaun pengantin yang katanya akan dimasukkan ke dalam katalog.
Sebenarnya Luna kurang yakin dengan apa yang dikatakan Anggi. Tapi ia juga tidak bisa menebak alasan sebenarnya. Apalagi dia sampai harus menjalani semua prosesi seperti pengantin sungguhan. Bahkan pagi tadi ia harus mandi susu bercampur bunga 7 rupa hingga membuat kulitnya begitu halus, lembut, harum, cerah, dan tampak bersinar. Luna hanya menyerahkan dan mempercayakan semuanya pada kakak iparnya tersebut. Ia yakin, Anggi tidak mungkin akan berbuat yang aneh-aneh apalagi semua ini dilakukan atas izin sang suami. Aglian juga semalam sudah mengatakan ia tak masalah, jadi apa yang perlu dikhawatirkan pikirnya.
Luna telah selesai dirias. Rambutnya juga sudah dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dengan sebuah mahkota bertahtakan permata yang Luna tidak pahami permata apakah itu karena warna birunya sangat cantik dan berkilau.
Luna juga sudah memakai gaun pengantin berwarna broken white berkerah sabrina hingga membuat lehernya terlihat lebih jenjang. Bagian atas gaun sangat press body sedangkan bagian bawah mengembang sempurna. Di beberapa titik seperti leher , lengan, dan pinggang gaun juga ditaburi Swarovski hingga membuat gaun itu terkesan sangat mewah.
Luna berdecak kagum saat selesai mengenakan gaun itu. Ia seakan menjelma sebagai seorang putri kerajaan saat memakai gaun itu.
"Masya Allah, Na, kamu cantik banget pake gaun ini." puji Anggi saat memasuki ruangan Luna. Di belakangnya tampak Ajeng dan Sofi ikut mengekori.
"Ya ampun, putri mama udah kayak princess beneran deh! Kamu cantik banget sayang." puji Ajeng dengan mata berbinar.
Tak dapat dipungkiri, mereka benar-benar kagum akan kecantikan Luna saat ini. Mungkin ini juga pengaruh kehamilan Luna. Bukankah ada yang bilang, aura seorang perempuan akan lebih memancar saat hamil.
"Kamu bener banget , Jeng. Ah, coba Tante punya putra satu lagi." ujar Sofi.
"Kalau punya satu putra lagi emang kamu mau ngapain, hm? Bukan mau jadiin menantu aku jadi menantu kamu kan?" Ajeng mendelik lantas Sofi terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kalau boleh sih!" sahutnya. "Tapi sayangnya putraku cuma Diwangga seorang. Nggak mungkin kan aku suruh dia nikah lagi. Bisa-bisa menantuku yang cantik ini ngambek terus kabur." ujar Sofi terkekeh dan makin tergelak saat melihat wajah cemberut Anggi.
"Nggak kok sayang, mama cuma bercanda. Mama nggak mungkin lakuin itu. Kalau pun suatu hari nanti Angga yang mau berbuat kayak gitu, biar anunya mama sunat biar impoten sekalian." canda Sofi membuat Ajeng , Anggi, dan Luna menyemburkan tawanya.
...***...
__ADS_1
Anggi, Ajeng, dan Sofi tampak menggandeng Luna yang berjalan pelan dengan gaun pengantin membalut tubuhnya. Luna mengerutkan keningnya, lantaran terlampau bingung mengapa Ajeng dan Sofi sampai harus ikut mendampingi dirinya. Bukankah seorang model itu seharusnya didampingi seorang manager, tapi kini kenapa justru ibu mertua dan ibu Anggi yang menggandeng tangan kanan dan kirinya. Sedangkan Anggi tak mungkin menggandeng tangannya, dia saja berjalan dengan tertatih karena perutnya yang sudah sangat besar hingga membuatnya sedikit kesusahan berjalan. Beruntung Diwangga merupakan suami siaga, sebab ia selalu mendampingi saat Anggi dan aktivitas di luar. Itu pun benar-benar Diwangga batasi, demi keamanan dan keselamatan Anggi dan calon buah hati mereka.
Kini Luna, Ajeng, Sofi, Anggi, dan Diwangga telah berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup tirai putih. Mereka berhenti sejenak di sana. Entah mengapa, tiba-tiba jantung Luna berdetak kencang. Bahkan sangat kencang seolah ia baru saja selesai berlari puluhan kilometer saja.
Luna meneguk ludahnya kasar. Tangan dan kakinya tiba-tiba saja terasa dingin sedingin es. Luna mengalihkan pandangan matanya pada Anggi untuk meminta kekuatan. Anggi mengangguk sekilas seraya tersenyum, hingga tiba-tiba tirai putih itu terbuka lebar membuat mata Luna membelalak seketika saat melihat apa yang ada di hadapannya.
Kini mata Luna justru hanya fokus pada Aglian yang tampak sangat tampan bahkan ketampanannya bertambah berkali-kali lipat dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya. Jangan lupakan seikat mawar putih yang dipegangnya. Ia berdiri di tengah-tengah taman bunga yang tampak begitu indah dan asri.
Di kanan dan kiri Aglian, tampak kursi-kursi tersusun rapi dan semuanya telah di duduki oleh entah siapa, pikiran Luna tampak sedang tidak konek saat ini. Ia masi belum bisa menangkap maksud dari semua yang terlihat di hadapannya kini.
Luna berjalan menuju ke tengah taman bunga tempat suami tercintanya sedang berdiri dengan dibantu Ajeng dan Sofi.
Semua orang tampak bertepuk tangan dan bersorak bahagia saat melihat kedatangannya. Luna hanya bisa tersenyum kikuk, bingung. Ya siapa yang tidak bingung bila ia pikir ia akan menjalani sesi pemotretan sendirian, tapi tiba-tiba sang suami ada di sana.
'Sebenarnua apa maksudnya ini?' lirih Luna dalam hati.
"Bunga mawar putih merupakan simbol cinta yang murni dan kesetiaan abadi. Di hari yang spesial ini, yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunmu, mas sengaja mempersiapkan acara resepsi pernikahan kita. Dan terimalah bunga mawar putih ini sebagai simbol besarnya cinta mas untuk Nana . Dan terimalah persembahan spesial dari mas untuk memperkenalkan Luna Calista aka Luciana Calista sebagai istri dari Aglian Saputra Putra Angkasa. Selamat ulang tahun, sayang dan semoga kamu suka dengan resepsi kejutan ini." tukas Aglian penuh rasa percaya diri.
Luna menitikkan air mata haru. Lalu ia menyambut bunga mawar putih itu dan memeluknya erat setelah menciuminya.
"Terima kasih mas atas segala cintanya. Terima kasih juga atas kejutan tak terduga ini. I love it. Nana suka benget. Ya Allah, mas Lian, bikin Nana makin melting deh." ujar Luna yang sudah berlinangan air mata.
Lalu Aglian berdiri dan menghapus bulir-bulir air mata itu. Kemudian tanpa aba-aba, Aglian menempelkan bibirnya pada bibir Luna dan melakukan sedikit cecapan dan lum*t*n pada bibir itu.
Semua tamu undangan tampak bersorak gembira melihat aksi Aglian itu dan memberikan ucapan selamat. Tak terkecuali pasangan koplak Safa dan Robi.
__ADS_1
"Ya ampun, bang ... Kakak ipar yang diromantisin kok Safa yang meleleh ya! Romantis banget sih Kak Lian. Jadi pingin ngerasa jadi Luna, sehariiiii aja. Nggak masalah kok." ucapnya yang masih sibuk memperhatikan gerak gerik Aglian dan Luna yang baginya sangat romantis. Dia bahkan menekankan kata sehari karena terlalu ingin diperlakukan seperti itu.
Robi berdecak kesal. Bagaimana tidak, Safa memuji sang atasan tepat di samping telinganya. Andai telinga bisa keluar asap, mungkin sekarang kupingnya sudah mengeluarkan asap tebal karena terlalu jengkel mendengarkan segala pujian Safa terhadap Aglian.
"Bang ... kok cemberut?" panggil Safa saat melihat wajah ditekuk Robi.
"Kamu tanya kenapa setelah memuji tuan Aglian habis-habisan, heh? " Mata Robi mendelik tajam membuat Safa kebingungan setengah hidup.
"Emang kenapa kalau Safa muji keromantisan kak Lian? Kan emang kenyataan. " ujar Safa tanpa rasa bersalah.
"Jadi kamu ingin menguji keromantisan abang, begitu?"
Safa mengangguk antusias tapi otaknya masih ngeblank.
Lalu Safa mendekatkan wajahnya pada Robi, "Emang Abang mau ngapain? Atau mau praktekin yang barusan kita liat? Kalo iya, Safa ada cuplikan video Drakornya. Kalo yang tadi kan terlalu singkat, nggak jelas juga karena ketutupan, Abang mau nontonnya nggak?" bisiknya pada Robi.
Mata Robi melotot dengan alis terangkat, lalu ia mengangguk antusias.
"Beneran kamu ada cuplikan video tutorialnya?" Safa mengangguk pasti. "Yuk, kita nonton sekalian belajar!" ajak Robi penuh semangat.
"Mau langsung coba dipraktekin apa nggak?" bisik Safa lagi.
"Kita liat aja nanti, kalau suasana mendukung, kenapa nggak." sahut Robi membuat keduanya mengulum senyum dengan otak yang sudah sibuk bertraveling.
...****...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...