Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.130 (S2) Sayang anak


__ADS_3

Kini mobil yang dikendarai Aglian telah memasuki basemen rumah sakit, disusul juga oleh mobil yang dikendarai Raju di belakangnya. Gegas Aglian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Luna. Mereka pun masuk ke rumah sakit sambil bergandengan. Banyak pasang mata menatap iri pada mereka berdua. Bagaimana tak iri, mereka berdua sangat cantik dan tampan. Sungguh pasangan serasi pikir orang-orang. Dari pakaian yang mereka kenakan juga memberi kesan bahwa mereka orang kaya. Ya, pakaian yang Luna pakai saat ini merupakan hadiah dari pemilik butik yang memakai jasanya untuk peragaan busana. Tentu pakaian itu bukan merk biasa. Jadi wajar saja orang-orang mengira Luna juga orang kaya.


Saat menyusuri koridor, Aglian pun melihat orang tuanya, Diwangga, dan juga orang kedua orang tua Diwangga tampak duduk di kursi depan ruang UGD. Gegas Aglian dan Luna menghampiri mereka.


"Ma, pa, om, Tante, bang, gimana keadaan Anggi?" tanya Aglian dengan seraut wajah penuh kekhawatiran.


"Kami juga belum tau, Anggi masih diperiksa dari 30 menit yang lalu." jawab Diwangga. Aglian dapat melihat jelas betapa pucat wajah kakak iparnya itu. Ia yakin, dalam hati Diwangga pasti sangat mengkhawatirkan keadaan saudara kembarnya itu .


Aglian menepuk pundak Diwangga. "Udah mau masuk ashar, kita sholat dulu aja bang, sekalian kita berdoa semoga Anggi dan dedek bayinya nggak kenapa-kenapa." ujar Aglian mencoba menguatkan padahal dalam hatinya sendiri pun Aglian sudah sangat risau. Namun, ia tak boleh menunjukkan kegelisahan yang itu. Ia harus bersikap optimis, ia yakin Allah akan menyelamatkan saudara perempuannya dan calon keponakan-keponakannya.


"Hmm ... ayo, Pa, mau ikut kami sholat di mushola?" tanya Diwangga pada Davindra dan Suseno.


"Baiklah, ayo!" jawan Suseno.


"Baiklah, sebentar lagi masuk waktu sholat. Cepat kabari kami kalau terjadi sesuatu." pesan Davindra sebelum berlalu menuju musholla rumah sakit .


Mereka pun pergi ke mushola rumah sakit. Raju dan Aji pun ikut menyusul. Para perempuan akan menyusul bergantian setelah para pria selesai.


Detik demi detik pun berlalu, para lelaki tengah sibuk sholat dan memanjatkan doa dan harapan untuk kesembuhan dan keselamatan Anggi. Hingga tak lama kemudian, Aglian, Diwangga, Davindra, Suseno, Raju, dan Aji pun kembali lalu duduk di tempat semula . Tak lama kemudian, lampu ruang UGD pun mati, lalu dokter yang menangani Anggi pun keluar. Dengan senyum sumringah, ia menghampiri Diwangga yang wajahnya masih diliputi kecemasan.


"Bagaimana keadaan istri dan calon anak-anak saya dok?" tanya Diwangga panik.


Aglian dapat merasakan betapa besar cinta dan sayang seorang Diwangga untuk saudara kembarnya itu. Ia hanya bisa mengulas senyum karena turut bahagia akhirnya Anggi bisa benar-benar mendapatkan kebahagiaan dan imam yang sempurna.


"Bapak bisa bernafas lega sekarang, Alhamdulillah, ibu tidak apa-apa. Tadi memang sempat pendarahan tapi itu karena ibu Anggi terlalu banyak shock. Tapi Bu Anggi tetap membutuhkan perawatan intensif karena luka yang beliau dapatkan di bagian belakang kepala cukup dalam." jelas sang dokter membuat senyum terkembang di bibir semua orang yang ada di sana.


"Alhamdulillah ya Allah." seru semua orang di dalam ruangan itu. Mereka sangat bersyukur, Anggi tidak kenapa-kenapa. Wajah-wajah panik itu , kini telah berganti senyum cerah.


"Syukurlah ibu Anggi dibawa ke sini tepat waktu, bila terlambat sedikit saja, mungkin hasilnya akan berbeda. Namun, lain kali harus lebih hati-hati, ya pak pesankan sama ibunya. Apalagi kehamilan ibu Anggi masih trimester awal, tentu masih sangat rawan dan rentan." pesan dokter itu .


"Baik dok, terima kasih atas bantuan dan sarannya ." balas Diwangga.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Anggi pun dipindahkan ke ruang perawatan. Semua orang tampak mengikuti brankar yang di dorong para perawat. Setelah Anggi ditempatkan di ruang perawatan, Diwangga pun masuk diikuti yang lainnya. Karena Anggi masih dalam pengaruh obat, ia tampak masih tertidur nyenyak.


Diwangga duduk di kursi samping tempat Anggi berbaring. Lalu ia menggenggam erat tangan Anggi yang tak dipasangi jarum infus dan menciumnya cukup lama sambil memejamkan mata. Semua yang dilakukan Diwangga tentu menjadi pemandangan indah bagi semua yang melihatnya. Besarnya cinta Diwangga pada Anggi tertuang secara nyata. Bukan hanya lisan, tapi tindakan. Dalam hati, Diwangga tak henti-hentinya mengucap syukur pada yang Kuasa karena telah memberikan keselamatan pada istri dan calon buah hatinya.


"Puji syukur pada kehadirat-Mu ya Allah. Puji syukur atas bantuan dan keselamatan yang telah Engkau berikan pada istri dan calon buah hatiku. Hamba sangat mencintai dan menyayanginya ya Allah. Lindungilah selalu istri dan anak-anakku ya Allah, kapan pun dan dimana pun mereka berada. Aamiin ...' lirih Diwangga dalam hati hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi.


Luna yang juga ada di situ, terkesiap. Ia begitu kagum pada Anggi hingga bisa dicintai sebegitu besarnya oleh Diwangga. Ia pun berharap kelak ia bisa dicintai seperti itu.


'Semoga aku kelak bisa mendapatkan jodoh yang mau mencintai dan menyayangiku dengan tulus seperti Mas Angga yang mencintai dan menyayangi mbak Anggi .' lirih Luna dalam hati.


Lalu semua orang secara bergantian menghampiri Anggi dan mendoakannya. Anggi wanita yang baik tentu semua orang sangat menyayanginya.


"Oh ya, anak-anak dimana?" tanya Luna pada orang-orang yang ada di sana.


"Mereka ditinggal sama mbak Asih. Tadi sih mereka maksa mau ikut ke mari, tapi Mas larang, rumah sakit bukan tempat yang bagus untuk anak-anak ." sahut Diwangga.


"Kalau gitu Luna, Lia, dan Tita kesana aja Mas temenin mereka. Kasian mereka pasti mencemaskan mamanya." sahut Luna.


Diwangga berpikir sebentar, lalu menyetujui saran itu.


"Lun, tapi gue sore ini ada kelas baking. Ajak Lia aja, Raju dan Aji juga tuh!" ujar Tita.


"Gue juga ada kuliah sore ini sampai malam, Aji dan Lia juga mau ambil laporan keuangan di Anggrek Fashion cabang Thamrin " ujar Raju menjelaskan.


"Ya udah, Luna sama Lian aja liat anak-anak. Mereka pasti senang liat kedatangan om dan tantenya. Mama dan papa masih mau di sini sampai Anggi sadar." ujar Ajeng dan Sofi juga menyetujui perkataannya.


Tak lama kemudian, satu persatu baik itu Tita, Lia, Aji, dan Raju pamit undur diri. Mereka akan ke sana lagi besok pagi. Disusul kemudian oleh Aglian dan Luna.


"Kayaknya nggak lama lagi kamu bakal dapat mantu perempuan nih, Jeng." ujar bu Sofi sambil bercanda. Mereka sudah tau perihal hubungan Aglian dan Stefani yang kandas. Mereka tak berkomentar apa-apa. Mereka hanya mendoakan, semoga baik Aglian maupun Stefani segera menemukan jodoh yang terbaik untuk mereka .


Ajeng terkekeh, "Kayaknya sih gitu! "

__ADS_1


...


Kini Aglian dan Luna sudah dalam perjalanan menuju rumah Diwangga. Saat di tengah jalan, Luna meminta Aglian menepi sebentar untuk membelikan anak-anak sate dan martabat keju. Setelah selesai membeli sate dan martabak, Aglian kembali melajukan mobilnya. Hanya butuh 20 menit, mobil Aglian sudah memasuki pekarangan rumah Anggi dan Diwangga.


Setelah turun dari mobil, tampak anak-anak menyambut mereka dengan derai air mata. Ternyata mereka sedang mencemaskan sang mama.


"Om, onty, mama ... Mama ... Mama masuk lumah sakit ." pekik Karin histeris.


"Om, Tante, bagaimana keadaan mama kami? hiks ... hiks ... hiks ... " Kevin pun terisak ingat bagaimana mamanya terjatuh karena menginjak tumpahan sabun.


"Mama ... Mama gimana, om? Om sama onty sudah tau keadaan mama belum?" kini Damar yang bersuara. Mata Damar tampak sangat merah. Luna dan Aglian paham, pasti Damar sedang mencoba menahan tangisnya.


"Sudah, jangan khawatir lagi, mama nggak apa-apa kok sayang. Sebentar lagi mama juga sembuh." ujar Luna.


"Benarkah onty, onty nggak bohongin kami, kan?" tanya Damar .


"Ngapain onty bohong, kalau nggak percaya tanya aja sama om Lian. Onty dan om baru pulang dari rumah sakit jenguk mama ."


"Emang bener, om?" tanya Karin, Kevin, dan Damar.


"Iya, sayang. Mama nggak kenapa-kenapa kok. Kalian jangan takut, mama kan wonder woman, mama itu wanita kuat, pasti mama akan segera sehat kembali." Aglian mencoba menenangkan anak-anak.


"Semua salah Epin om, Epin yang sudah tumpahin sabunnya ke lantai. Gala-gala Epin, mama jadi jatuh . Epin nakal . Hua ...." Kevin mengakui kesalahannya dan menangis histeris.


"Udah, jagoan kok nangisnya kenceng banget. Yang penting, Kevin udah menyadari kesalahan Kevin. Lain kali, harus lebih hati-hati ya, numpahin sabunnya juga hati-hati biar kejadian kayak gini nggak terulang lagi." pesan Aglian .


Lalu Luna menyerahkan kantong berisi sate dan martabak keju kesukaan mereka. Mereka pun berlari dengan riang menuju dapur untuk menyantap makanan kesukaan mereka .


Lalu Aglian dan Luna pun duduk di kursi tamu. Bi Asih datang menghidangkan minuman untuk mereka berdua .


"Kamu kayaknya sayang banget sama anak-anak?" tanya Aglian.

__ADS_1


"Iya lah Mas, mereka itu lucu, gemesin, penyayang, baik, paket komplit pokoknya jadi wajar kalau semua orang sayang mereka. Kecuali si bodoh Adam dan keluarganya dulu aja yang matanya buta. Setetes semua kacau, baru mereka nyadar." ujar Luna sambil bersungut-sungut.


"Kamu sama keponakan aja sayang banget, apalagi sama anak-anak kita ntar, ya Na!" ujar Aglian ambigu dengan senyum usil yang tercetak jelas di wajahnya membuat Luna menganga tak percaya dengan apa yang barusan Aglian ucapkan.


__ADS_2