
Di sepanjang jalan menuju Angkasa Grup, Luna tak henti-hentinya berdoa semoga suaminya baik-baik saja. Ia begitu khawatir saat ini sebab menurut Ajeng yang dulu pernah bercerita, Aglian itu sangat jarang sakit tapi sekalinya sakit, butuh waktu lama untuk pulih.
Karena waktu sudah memasuki jam makan siang jalanan jadi cukup macet. Perjalanan Luna ke Angkasa grup pun menjadi terhambat.
Jalanan kini tampak dipadati berbagai macam kendaraan baik yang roda 2 maupun roda 4. Mereka terdiri dari para pekerja yang sibuk mencari makan siang maupun anak-anak sekolah yang baru pulang membuat jalanan makin terlihat padat merayap.
"Duh, kok macet banget sih! Biasanya nggak terlalu macet kayak gini." gumam Luna pelan dengan nada khawatir. "Itu kenapa ya pak kayak rame-rame di sana?" tanya Luna panik saat melihat keramaian.
Sebenarnya ia masih cukup trauma naik mobil. Tapi ia berusaha menguatkan diri walaupun kadang bayang-bayang kecelakaan yang ia alami seakan memaksa berputar-putar dalam otaknya membuat Luna gemetar dan berkeringat dingin.
"Itu sepertinya ada kecelakaan, bu." sahut sang sopir tenang. Ia tak sadar, majikan di belakangnya sudah tampak pias.
Tak berapa lama kemudian, jalanan sudah cukup lengang sehingga mobil yang membawa Luna dapat kembali melaju dengan lancar. Luna mendesah lega. Ia segera mengambil sapu tangan di dalam tasnya dan mulai mengusap keringat yang tadi bercucuran di dahinya.
20 menit kemudian, Luna telah tiba di Angkasa Grup. Luna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Setelah ia sudah merasa lebih baik, baru ia keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan Angkasa Grup.
Sesampainya di meja resepsionis, Luna pun menanyakan keberadaan Aglian. Namun, karena hanya beberapa orang saja yang tahu perihal Luna merupakan istri Aglian, sang resepsionis malah memandang sinis keberadaan Luna membuatnya berdecak kesal.
"Maaf mbak, ruangan tuan Aglian di lantai berapa ya?" tanya Luna sopan pada resepsionis yang tampak sedang duduk di mejanya.
Resepsionis bername tag Triana memandangi penampilan Luna dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mencemooh. Luna yang merasa diperhatikan menautkan kedua alisnya.
"Apa Anda sudah memiliki janji?" tanya Triana dengan nada mencibir.
"Janji? Tidak. Saya tidak memiliki janji. Cepat, katakan saja dimana ruangan tuan Aglian! Biar saya sendiri yang naik ke atas." tegas Luna yang sudah merasa kesal.
"Maaf, Anda tidak bisa menemui tuan Aglian tanpa membuat janji sebelumnya. Jadi lebih baik Anda segera pergi dari sini." ketus Triana.
Luna tersenyum miring mendengar pengusiran secara halus dari resepsionis itu.
Luna sudah khawatir pada keadaan Aglian, tapi ketika ia tinggal selangkah lagi bisa menemui suaminya, malah dihalangi.
Luna paham itu memang pekerjaan seorang resepsionis. Ia tidak bisa sembarangan menerima tamu tanpa adanya janji. Tapi bukankah ia bisa menelepon atasannya atau asisten pribadi atasannya untuk bertanya, bukannya menatap dengan pandangan mencemooh apalagi mengusir. Atau bisa juga menanyakan siapa Anda dan ada kepentingan apa Anda ingin menemui atasannya.
"Oh, oke!" sahutnya singkat.
Malas berdebat, Luna lantas mengeluarkan ponselnya dan menelpon Aglian.
"Assalamualaikum, sweetheart." ucap Aglian pelan saat panggilan Luna telah diangkat.
"Wa'alaikum salam, Mas." sahut Luna.
"Ada apa, hm? Kamu butuh sesuatu atau lagi kangen sama, Mas." goda Aglian.
"Mas, aku ada di lantai bawah, di depan meja resepsionis. Aku mau jenguk kamu, tadi mama bilang kamu muntah-muntah jadi aku buru-buru kesini. Tapi aku malah diusir sama resepsionis kamu." ucap Luna manja dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Triana yang masih berdiri dan tadinya menatap sinis Luna, lantas membulatkan matanya. Dalam hati ia berdoa, semoga orang yang diajak bicara Luna itu bukan atasannya.
Aglian yang sedang berbaring di sofa ruangannya, sontak berdiri karena terkejut.
"Apa? Kamu di sini, sayang. Ya sudah, kamu tunggu di sana. Mas turun sekarang." ucap Aglian senang lalu menutup panggilan itu untuk segera menuju lantai bawah.
Luna pura-pura acuh dengan Triana. Ia lebih memilih bersandar di meja resepsionis. Triana hanya bisa memandangi Luna dari balik punggungnya. Dalam hati, Triana bertanya-tanya siapa Luna ini sebenarnya.
10 menit kemudian, denting lift khusus petinggi Angkasa Grup berbunyi. Dengan tergesa, Aglian keluar dari lift dan langsung berhambur ke pelukan Luna membuat semua karyawan Angkasa Grup tercengang di tempatnya.
"Siapa gadis yang dipeluk tuan Aglian?"
"Iya ya, siapa gadis itu? Kok tuan Aglian meluknya mesra banget. Jadi iri deh!"
"Duh, jadi pingin dipeluk tuan Aglian juga!"
"Wah, CEO kita udah punya gebetan baru ya?"
"Apa gadis itu pacar barunya tuan Aglian?"
"Wah, berati bener dong kabar tentang Stefani yang udah putus sama tuan Aglian!"
"Ya pasti lah udah putus, Stefani aja udah mau nikah Minggu nanti."
Hiruk pikuk para karyawan terjadi di Angkasa Grup terutama yang melihat adegan romantis bak drama Korea itu.
Aglian menghela nafas, lalu ia pun memberi kode pada Robi yang telah berdiri dibelakangnya untuk memberitahukan perihal Luna yang merupakan istrinya. Lalu Robi pun mulai memperkenalkan Luna sebagai istri CEo mereka yang disambut antusias oleh semua karyawan Angkasa Grup.
"Wah, kami patah hati berjamaah nih, pak Robi!" celetuk salah seorang karyawan wanita membuat yang lainnya terkekeh.
"Tenang aja, pak Robi kan belum sold out jadi nanti fans tuan Aglian kita alihkan ke pak Robi aja, gimana?" celetuk yang lainnya.
"Wah, boleh juga tuh!" seru yang lain.
Merasa tak ada lagi yang ingin disampaikan, Aglian pun segera mengajak Luna ke ruangannya. Namun, baru saja mereka hendak beranjak, Triana langsung menghadang dan bersimpuh di hadapan Luna dan Aglian.
"Tuan, nona, mohon maaf atas kecerobohan saya yang tidak mengenali nona muda sebagai istri Anda. Saya mohon maafkan saya." ucap Triana dengan memelas.
"Saya tidak apa-apa, saya paham, itu memang tugas kamu." sahut Luna. "Sudah , ayo berdiri. Tidak enak dilihat yang lain." imbuhnya.
"Terima kasih, nona, terima kasih,tuan. Sekali lagi maafkan saya."
"Sebenarnya saya belum bisa memaafkan kamu. Kamu memang menjalankan tugas kamu. Tapi bukankah seharusnya kamu bertanya dulu siapa dia, apa kepentingannya datang kemari, atau menelpon Robi untuk memberitahu kedatangan seseorang walau di luar janji, bisa jadi itu orang penting, dan kau malah mau mengusirnya tanpa bertanya. Saya harap, tidak terjadi lagi hal serupa karena kalau sampai terjadi lagi, artinya kamu harus siap-siap keluar dari perusahaan ini." tegas Aglian yang membuat Triana tertunduk malu.
di ruangan Aglian,
__ADS_1
"Mas, kamu sakit?" tanya Luna seraya mengusap kepala Aglian yang sedang ia rebahkan di pangkuan Luna.
"Nggak kok. Kamu nggak usah khawatir, sayang."
"Tapi kata mama kamu muntah-muntah."
"Mungkin Mas masuk angin. Beberapa hari ini emang kadang begitu. Karena itu mas selalu bawa minyak angin freshpeduli."
"Kamu udah makan?"
"Ah iya, belum. Kamu belum juga kan, sayang? Mas minta pesankan kita makan siang gimana? Kamu mau makan apa?"
"Apa aja deh mas. Minta mas Robi beliin Nana es krim juga ya, Mas. Rasa durian." pinta Luna.
"Oke." sahut Aglian
Lalu Aglian pun segera memanggil Robi dan memintanya membelikan mereka makan siang.
"Mas, kok tumben kamu makannya banyak banget?" tanya Luna heran saat melihat Aglian makan dengan lahap hingga nambah beberapa kali.
"Nggak tau nih , yang. Berapa hari ini juga ***** makan mas tinggi banget." jawab Aglian seraya menyantap makan siangnya dengan lahap.
" Wah, bisa-bisa perut sixpack Mas jadi odading dong kalau makan banyak terus kayak gini " ledek Luna sambil terkekeh.
"Biarin, yang penting odadingnya miliknya Luna, bukan odadingnya mang oleh." sahut Aglian yang ikut terkekeh.
...***...
Jelita dan Kentaro kini sedang berada di sebuah klinik ibu dan bayi. Kentaro menemani Jelita pemeriksaan sekaligus melakukan USG.
Jelita tampak sedang berbaring di ranjang pasien. Tak lama kemudian, seorang perawat mengoleskan gel ke perut Jelita lalu menempelkan transducer ke perut yang tampak mulai membuncit itu. Dengan gerakan pelan, perawat itu menggerakkan transducer, sedangkan dokter tampak fokus pada layar monitor memperhatikan pertumbuhan janin di dalam perut Jelita. Lalu dengan tersenyum, dokter itu menjelaskan perkembangan calon bayi Jelita dan Kentaro yang tumbuh dengan baik. Jelita dan Kentaro tampak berkaca-kaca, saat melihat buah hati mereka dari layar monitor.
Kentaro mengecup dahi Jelita dengan lembut. Jelita memandang wajah Kentaro yang tampak bahagia melihat perkembangan calon buah hati mereka. Mereka tak dapat menyembunyikan betapa bahagianya mereka saat ini. Dalam hati Jelita tak henti-hentinya bersyukur karena Allah telah membuka mata hati Kentaro hingga mau menikahinya dan mengakui keberadaan buah hati mereka yang kini sedang ia kandung.
"Terima kasih sayang sudah mau mengandung anak kita. I love you, calon bunda." bisik Kentaro mesra di telinga Jelita hingga membuat Jelita hampir mau menangis.
"I love you, too, calon ayah." sahut Jelita bahagia.
...***...
...Halo kak, Alhamdulillah, karya Pesona Mantan Istri yang Disakiti masuk dalam event battle popularitas karya, mohon dukungan dan votingnya ya!...
...Terima kasih....
...***...
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...