
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Cih, ini otak apa? mana bisa bikin pinter," cibir Sagara yang menolak suapan dari istrinya.
"Seegaknya kamu peka gitu loh," sahut Aisyah tak mau kalah dan pastinya memaksa hingga Sagara mau tak mau membuka mulutnya juga.
"Pemaksaan!" cetus Si calon ayah.
"Duh, Si ganteng ngeledekin diri sendiri." Aisyah mencebik juga, meski tak terlihat tapi Sagara tahu itu.
Memang benar yang di katakan Aisyah jika Sagara memang type pemaksa jika berurusan dengannya, apalagi jika sudah 'Kelaparan' ia rela wanitanya itu pasrah asal tetap di layani dengan baik.
Semua keturunan Singa memang sama semua jika urusan ranjang. Mereka yang setia dan cukup dengan wanita saat selalu mencari solusi bersama bukan justru mencari tantangan baru di luar yaitu mampir sana sini.
Begitu juga dengan Sagara, dia muda, tampan, kaya raya dan juga punya pergaulan yang cukup luas dan bebas. Bukan tak jarang ia menekan rasa ego dan penasaran, menguatkan iman dengan terus menyebutkan nama Aisyah dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Puas berkali-kali keluar masuk toko untuk membeli banyak oleh-oleh dan juga stok cemilan untuk Aisyah dan Sagara sendiri kini mereka melanjutkan lagi perjalanan dengan tujuan akhir yaitu, Rumah.
"Mas Fatih beneran ada kan?" tanya Sagara, kali ini ia cukup bersemangat karna ada kakak iparnya, setidaknya ia ada teman saat bapak sibuk di PonPes.
"Ada, dari kemarin. Tapi entah kapan pulang lagi," sahut Aisyah yang mengantuk, ini pasti karna ia sudah makan apa saja selama perjalanan.
"Kenapa gak tinggal di rumah Bapak sih? kan kasihan mereka gak ada yang nemenin."
Aisyah hanya menggeleng kan kepala, bukan tak tahu alasannya hanya saja ia malas membahas perihal rumah tangga kakaknya itu.
"Assalamu'alaikum," seru Aisyah saat ia sudah di depan pintu sedangkan Sagara menurunkan semua barang mereka termasuk oleh oleh yang memenuhi bagasi mobil tersebut.
"Waalaikumsalam war rahmatullah wabarakatuh," jawab suara seorang wanita yang di yakini itu adalah Ibu.
Dan benar saja, setelah pintu terbuka munculah sosok malaikat tak bersayap bagi Aisyah, dua wanita itu berpelukan melepas rasa rindu, padahal setiap hari bisa berkali-kali mereka mengobrol lewat sambungan telepon, apalagi saat tahu Aisyah tengah hamil, semua di lakukan Ibu karena tahu putrinya di Ibu kota tak di dampingi oleh sosok Ibu mertua yang bisa memberi perhatian dan juga pengertian.
"Ibu tunggu sejak sore, Nak," ucap Ibu yang matanya langsung berkaca kaca karna senang.
__ADS_1
"Maaf, tadi--,"
"Tadi kebanyakan mampir, Bu." jawab Sagara meledek yang lalu di teruskan dengan ucapan salam.
"Masuklah, Bapak belum pulang, mungkin sebentar lagi. Kalian masuk saja ke kamar untuk Istirahat," titah Ibu yang takut anaknya kelelahan, ia harus ingat jika dalam kandungan putrinya bukan dari keturunan orang biasa.
"Hem, iya, Bu. Tapi Aish mau beresin ini dulu," tolak nya halus tapi di larang oleh Ibu.
"Biar nanti Ibu yang bereskan, ada Anti yang bisa bantu, " jawab Ibu yang langsung membuat dahi Aisyah mengernyit.
"Anti? dia disini, Bu? sejak kapan? kok Ibu gak cerita sama Aish?" tanya wanita itu kaget.
.
.
.
Baru dua jam yang lalu, ia akan tinggal disini..
__ADS_1