Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


"Assalamu'alaikum--."


"Waalaikumsalam," sahut yang lain secara bersamaaan dengan tatapan semua tertuju pada sosok yang kini sedang berdiri tak jauh dari mereka.


"Nak Agam," seru Ibu yang tak percaya jika pria yang terlihat khawatir itu datang ke rumah sakit.


"Nek, gimana kondisi kakek? Agam tahu dari Abah, beliau belum bisa kemari," tanya Agam setelah ia menyalami semua yang ada di sana kecuali SyahRaa.


"Doakan saja ya, Nak. Belum ada kabar dari Dokter, semoga Kakek segera sadar," jawab Nenek.


Bukan hanya Agam, karna semua ikut mengAamiinkan. Rasa resah, khawatir, takut tetap saja mengalahkan harapan meski yakin jika pria baya yang sedang berjuang dengan team dokter akan segera sadar. Semua yang terbaik sedang di lakukan termasuk doa yang tak henti dari seluruh anggota keluarga yang ada di sana.


"Kita makan dulu ya, ini sudah hampir sore," ucap Sagara yang takut jika istri dan ibu mertuanya justru akan ikur drop karna lupa mengurus diri sendiri.

__ADS_1


"Beli saja, Mas. Kita makan disini," jawab Ibun yang padahal ia sendiri tak lapar bahkan tak janji akan memakannya.


"Biar Agam saja yang beli di luar, Om," tawar pria itu karna tahu jika yang lain sedang menunggu kabar.


"Nanti merepotkanmu, Nak," sahut Ibun yang masih memeluk tubuh nenek yang kian lemas.


"Tak apa, Tante. Kalian bisa tunggu disini," jawab Agam dengan senyum yang membuat para santriwati di pondok pesantren selalu histeris tapi tidak dengan SyahRaa yang nampak masih tak acuh dengan kehadiran pria teduh tersebut.


"Ya sudah, di antar Aga dan SyahRaa ya, Gam," titah PanDa Sagara yang langsung membuat si kembar menoleh padanya dengan tatapan tak biasa.


"Apa? kok Aga ikut?" tanya Si bungsu yang sedari tadi memang sibuk dengan ponselnya, apa lagi jika bukan sedang mencoba menghubungi Deeva.


"Kalian pasti jenuh disini, ikut saja dengan Agam sekalian bisa pilih menu makan sendiri terutama kamu Aga," kata PanDa Sagara yang langsung menatap ke arah anak laki laki satu-satunya tersebut, makanan kesukaannya saja akan lama di habiskan jadi jangan tanya bagaimana jika makanan itu bukan seleranya.


"Aga mie instan juga gak apa-apa," sahut Si bungsu tapi ia langsung mengunci lagi mulutnya saat PanDa mulai berdecak pinggang.

__ADS_1


"Iya--iya! Ayo kak," ajak Aga yang merengut kesal sambil bangun dari duduknya lalu menarik tangan SyahRaa yang reflek bangun juga.


Melihat drama adik kakak yang sedang berdebat dengan ayahnya hanya bisa membuat Agam tersenyum simpul, tentu itu menambah rasa senangnya karna bisa bertemu dan pergi bersama dengan SyahRaa setelah beberapa waktu berpisah sebab Agam harus pulang ke kota ini lagi setelah urusannya di ibu kota selesai.


Meski punya nomer ponsel gadis itu, bisa di hitung dengan jari berapa kali SyahRaa membalas pesannya sebab untuk menelepon, rasanya Agam belum seberani itu.


"Apa kabat, Ra?" tanya Agam saat berjalan di lorong rumah sakit yang cukup sepi.


"Baik," jawab SyahRaa tanpa balik bertanya lagi.


"Alhamdulillah, itu yang selalu ku doakan. Kamu baik baik saja di mana pun dan kapanpun itu," balas Agam yang rasanya tak pernah berubah meski gadis itu seolah menganggapnya tak pernah ada.


.


.

__ADS_1


.


Ini Aga gak di tanya?


__ADS_2