
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di rumah sakit hanya para orang tua yang saling bertukar cerita, sedangkan Agam dan SyahRaa menunggu di sofa, gadis itu sedikit kecewa saat mengetahui ternyata Kakek tak jadi di bawa ke ibu kota dan itu artinya entah sampai kapan juga dia ada di sini mengingat Ibun pun rasanya tak akan tega meninggalkan orang tuanya jika belum sembuh total.
"Raa, ke kantin yuk,:" ajak Agam karna takut SyahRaa bosan.
SyahRaa yang sedikit melamun langsung menoleh tapi ia hanya mendengar suara saja tanpa tahu apa yang di katakan pria di sampingnya tersebut barusan.
"Ke kantin, Raa, mereka sepertinya masih lama mengobrol," ulang Agam yang peka dengan ketidak pahaman gadis itu.
Tak seperti biasanya kali ini SyahRaa langsung mengiyakan bahkan ia sambil bangun dari duduknya untuk berpamitan pada Kakek, Abi dan Umi.
"Sekalian saja kalian makan malam, biar Abi nanti minta jemput dari Pondok, " pesan Abi pada putranya yang nampak berpikir sejenak.
"Kami percaya pada kalian," timpal Umi yang akhirnya membuat Agam mengangguk.
__ADS_1
Keduanya memilih mengisi perut di sebuah warung makan lesehan yang tak jauh dari rumah sakit agar tak terlalu lama juga berduaan di dalam mobil.
"Raa, apa kamu tak nyaman denganku?" tanya Agam, ia yang ingin berjuang melangkah lebih serius tentu ingin kepastian dulu dari SyahRaa yang selama ini selalu tak acuh padanya.
"Aku nyaman berteman denganmu," jawab SyahRaa terlalu jujur.
'"Tapi aku ingin hubungan kita lebih dari pertemanan, Raa. Aku tak main main dengan perasaan ini sejak pertama melihatmu, rasa ku semakin kuat setelah semakin mengenalmu," jelas Agam yang akan terus meyakinkan SyahRaa jika ia adalah cinta pertama dan terakhir pria itu.
Tak ada jawaban dari SyahRaa, tatapannya kosong ke depan jalan dan Agam paham apa yang kini sedang di pikirkan SyahRaa.
Tebakan Agam benar adanya, tapi ia pun sedang berusaha untuk tenang meski rasa cemburu itu terselip sedih di hatinya. Agam sadar, jika ia memang hadir di tengah hubungan SyahRaa dengan Christ yang belum selesai.
"Bukan orangnya yang membuat mu sedih dan sulit kamu lupakan kan, Ra? tapi kenangan kalian," ucap Agam sambil tersenyum padahal hatinya bak teriris iris perih.
SyahRaa mengangguk, dan Agam jelas melihat ada satu tetes air mata di wajah cantiknya yang jarang sekali di tatap lama olehnya tersebut.
__ADS_1
"Melupakan tak semudah kamu membalikkan tangan, sebab kamu tulus memberi rasa itu padanya, Ra. Aku paham karna jika aku di minta untuk melupakanmu aku akan bersikeras menolak nya, meski tak ada kenangan diantara kita."
"Kamu terlalu baik bila hanya ingin denganku. Di luaran sana banyak wanita yang ilmunya jauh dariku, aku hanya akan mempermalukanmu saja," timpal SyahRaa yang kadang tak percaya di cintai oleh pria seperti Agam.
"Aku ingin berproses bersama, karna pernikahan itu adalah ibadah terpanjang."
SyahRaa tertawa kecil, dunia dan takdir benar-benar sedang tak adil untuknya, ia takut apa yang di ucapkan Christ menjadi kenyataan jika ia akan hidup dengan pria yang mencintainya tanpa ia bisa balik mencintai, dan itu rasanya sakit dan serba salah.
.
.
.
Tenang saja, Raa... aku akan menunggumu. Datanglah kapan pun itu, karna apa pun yang terjadi kamu tetap pemenangnya...
__ADS_1