
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sagara yang baru sampai di sekolah langsung masuk ke kelasnya. Disana sudah ada ketiga sahabatnya yang lain yang menatap lain kearahnya.
"Tumben gak di kantin?" tanya Sagara masih biasa. Tak rasa curiga apapun pada semua yang kini ada di dekatnya.
"Dari mana? kemarin aku kerumah mu gak ada," tanya Tata tanpa basa basi.
"Ada urusan di luar, ada apa?" tanya balik Sagara.
"Sekarang kayanya gak bisa banget ya weekend sama kita? lo ngilang mulu!" cetus Marcel, ia yang sebelumnya sabar nyatanya kini tak tahan lagi dengan perubahan sikap Sagara yang sudah tiga tahun bersama namun beberapa bulan ini tampak berbeda tepatnya saat sahabatnya itu menghilang lalu datang kembali tapi seolah punya dunianya sendiri.
"Hem, kan udah 5 hari sama kalian," jawab Sagara masih santai.
"Tapi kan biasanya tetep sama kita pas akhir pekan!" Bian yang sedari tadi diam pun mulai angkat bicara.
"Maaf, tapi gue beneran gak bisa. Gue ada urusan."
"Pacaran? iya!" tebak Tata yang berusaha berani menatap Sagara.
"Enggak.. Pacaran sama siapa? guling?" jawab Si tampan yang kembali terkekeh.
Nada bicaranya santai karna memang ia tak merasa punya pacar dan pacaran. Yang di miliki Sagara hanya istri yaitu Aisyah.
Perdebatan berhenti saat bel masuk berbunyi, ketiga orang itu bubar barisan ke kursi mereka masing-masing kecuali Sagara yang memang sudah di tempatnya.
.
.
Beberapa jam berlalu, satu persatu siswa keluar dari kelas begitu pun dengan Marcel, Bian dan Tata menuju Kantin tapi lagi lagi tidak dengan Sagara. Ia meminta tiga temannya itu untuk pergi lebih dulu tanpa memberi alasan pasti dan itu sudah berulang kali terjadi.
Rasa rindu yang di rasakan Sagara membuatnya ingin menelepon Sang istri hanya karna ingin tahu sedang apa wanita itu sendiri di rumahnya.
"Hallo Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam, kamu lagi apa?" tanya Sagara, mendengar suara salamnya saja sudah berhasil membuat pria berstatus murid SMA itu menyunggingkan senyum bahagia.
"Gak tau lagi apa, bingung. Tapi siang nanti Olla mau kesini, boleh ya?"
"Sama siapa?" tanya balik pria itu.
__ADS_1
"Sama Senja sama Ara juga," jawab Aisyah, untung saja hanya dua orang yang di bawa oleh Olla jadi ia tak sulit untuk mengingat.
"Ya sudah, kalau mereka ajak kamu keluar kabari aku ya," pinta Sagara.
"Iya, aku pasti izin dulu sama kamu, tapi kalau kamu belum bales gak apa apa kan, aku langsung pergi?" tanya Aisyah yang masih saja takut akan hal itu.
"Gak apa apa, aku juga udah tahu kamu mau pergi, aku cuma mastiin jam berapa kamu pergi."
"Tapi, nanti kamu pulang akunya gak ada," kata Aisyah lagi.
Sagara pun tertawa mendengar hal tersebut, sepertinya banyak yang di takuti hingga Aisyah banyak menimbang keputusan, statusnya sebagai Istri benar-benar di pakai hingga ia ingat selalu apa yang boleh dan tak boleh serta sampai mana batasan yang harus ia lakukan di luar rumah ketika tak bersama suaminya.
"Gak apa-apa, nanti kamu minta pulang ke rumah utama, biar aku juga pulang kesana ya."
"Iya, ya udah, kamu ke kantin sana. Inget ya, banyakin minum air putih," pesan Aisyah yang malah membuat Sagara kembali tergelak.
"Gak ah, ntar aku bolak balik ke toilet terus," jawab Sagara.
Candaan yang terus mereka lontarkan benar-benar menjadikan Sagara tak ingat apapun lagi termasuk tak sadar saat ada sepasang mata yang memperhatikan Sagara denga perasaan hancur.
.
.
.
"Takut salah, kali aja selera lo berubah kaya orangnya," sindir salah satu dari kedua teman Sagara.
"Emang lo pikir gue ini power Rangers?" jawabnya sambil tertawa, tak ada rasa lapar jadilah ia hanya mengambil satu botol air mineral biasa.
"Nah,. beda kan? lo itu kaya ikan Mujaer doyan air putih sekarang! dulu anti banget padahal," cibir Bian.
"Berubah ke yang jauh lebih baik gak ada salahnya kan?"
Marcel dan Bian hanya saling pandang, rasa curiga dan penasaran yang ada dalam hati selalu di patahkan dengan jawaban santai Sagara.
Tapi, ia sadar akan satu hal.
"Tata mana?"
"Katanya mau balik ke kelas, emang gak ada? ini yang mau gue tanya tadi, kok Tata gak bareng sama lo kesini?" tanya balik Marcel yang di jawab gelengan kepala oleh Sagara, andai tak terlalu fokus menggoda Aisyah pasti ia tahu jika di ambang pintu sedang berdiri gadis cantik dengan berurai air mata menatapnya.
__ADS_1
Perasaan gadis itu sangat peka, ia sadar dengan penuh keyakinan jika Sagara yang sekarang jauh berbeda hingga Tata bertekad untuk terus mencari tahu, ada apa dengan pria yang di cintainya itu.
.
.
.
Lain di sekolah tentu lain juga yang ada di rumah mewah milik Papa Zico dan Mama Aluna, Si empunya bangunan mewah tersebut malah jarang pulang layaknya bang Toyib selama tiga kali puasa dan tiga kali lebaran. Aisyah pun hanya bertanya sekedarnya karna ia takut ayah mertuanya justru tak nyaman dengan kehadirannya. Jika benar begitu mungkin Ia akan meminta suaminya untuk mengalah.
"Maaf, lama ya?" ucap Aisyah saat ia turun ke lantai bawah menemui tiga saudarinya yaitu Olla, Senja dan Ara si imuut yang tak mau diam.
"Gak apa apa, santai aja."
"Kita langsung makan aja ya, Ara udah laper banget ini," pinta calon mantu Rahardian yang jodohnya sudah menunggu sejak ia dalam kandungan.
"Iya, Ara. Kak Senja lagi cari Restonya dulu nih," jawab anak bungsu Biantara tersebut.
Salah satu tempat makan pun di pilih mereka berempat. Saatnya Aisyah kini keluar rumah setelah mengirim pesan lebih dulu pada Sagara.
Dibalik senyumnya, Aisyah tak henti bersyukur karna ia yang bukan siapa siapa dan datang jauh dari kota lain nyatanya di Terima baik di keluarga besar yang terkenal akan kekayaan dan kedermawanan nya.
"Jangan sungkan ya, kita gak gigit," bisik Olla yang justru takut wanita itu tak nyaman dengan ajakannya.
"Tentu, kalian itu baik, sangat baik, bukan?" jawaba Aisyah pada Olla yang penampilannya sama persis dengannya. Jika tak ada Olla dan Ummi Yayang pastinya ia kan minder sendiri sebab Saudara yang lain kebanyakan bukan Ukhti tapi Kunti.
Begitu banyak yang mereka obrolkan karna bukan hanya makan siang saja, melainkan jalan-jalan ke beberapa butik yang ternyata langganan keluarga. Aisyah sampai sakit kepala saat ia melihat berapa harga dari tiap tiap barang disana. Karna untuk satu hijab saja nyatanya itu setara dengan hampir satu bulan gajinya di tempat Les.
"Kita pulang sekarang?" tanya Senja.
"Iya, tapi Sagara minta aku pulang ke rumah utama, biar nanti dia juga pulang kesana."
"Oh, iya. Gak apa-apa, kita pulang kesana juga kalau begitu, lumayan bisa makan sama Amma juga Appa," sahut Olla, tapi semua mata tertuju pada Ara yang berjingkrak senang sekali.
.
.
.
Yeeeee, bisa ketemu sama Kak Sam, Si Tutut jajah...
__ADS_1