Sagara

Sagara
Part 73


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Keluar dari rumah utama, Mobil Sagara langsung melaju ke pemakaman mewah khusus kelangan atas. Disana tak nampak seperti tempat peristirahatan terakhir karena ada bukit bukit hijau bahkan gazebo serta Restauran. Aisyah yang baru pertama kali datang saja tak ada rasa takut sama sekali.


"Kita mau Ziarah atau mau tamasya?" bisik Aisyah.


"Enak ya, kamu mau pesen yang di sebelah mana?" ejek Sagara yang langsung mendapat cubitan di pinggang.


"Kamu mau jadi Duda muda, hem?" tanya Aisyah.


"Siapa bilang, kan aku ikut kamu juga. Aku gak mau di tinggal sendiri," sahut Sagara yang bergidik ngeri ngeri sedep.


Jangan sampai status duda menjadi status turun menurun di keluarga Pradipta karna cukup Daddy Ricko dan Papa Zico saja yang mengalami cerai mati hingga status DuRen tersemat pada dua laki laki tampan itu. Daddy Ricko meski Duda tapi ia sudah di tunggu oleh Mommy Ameera sejak masih beristri, jadi tak menuggu lama untuk mencari tambatan hati lagi. Tapi, berbeda dengan putra mereka yang meski sudah tiga tahun berlalu rasanya tak bisa move on dari almarhum Sang istri yang memang cantik, dewasa dan juga baik. Sama seperti Aisyah, wanita itupun mendapat suami yang umurnya jauh lebih muda, berondong kaya raya seorang CEO tampan di perusahaan Pradipta Group.


"Jangan bilang gitu, aku takut."


Setelah sampai ke pemakaman Mama Aluna, anak dan menatu itu duduk bersimpuh di sisi kanan dan kiri. Gundukan tanah itu teramat sangat cantik dengan rumput hijau di atasnya yang tertata rapih, belum lagi selalu ada bunga mawar putih di dekat batu nisan Mama Aluna yang di berikan secara rutin oleh Si pengurus Makam atas permintaan Papa Zico, ia tahu betul jika mendiang istrinya sangat suka bunga itu.


"Mah, Saga datang bersama istri Saga, Mama pasti seneng ya, Saga kirim doa dulu ya, nanti kita ngobrol lagi," ucapnya yang belum apa-apa sudah menitikan air mata.

__ADS_1


Katanya, pria yang begitu mengasihi ibunya akan bersikap baik pada pasangannya meski tak smuanya begitu, bahkan ada itu justru jadi boomerang bagi rumah tangga si Anak. Namun, rasanya Aisyah kebalikan dari kasus yang sering terjadi, saat Sang suami begitu memuliakan Surga Nya ia juta sangat meRatukan wanita yang menjadi pusat dunia akhiratnya.


Aisyah yang terharu dengan apa yang sedang di lakukan Sagara sampai tak kuasa menahan tangis, Pria manja yang kadang menyebalkan dengan tingkah mesumnya itu tak di sangka begitu merdu melantunkan ayat demi ayat yang ia harap semua akan sampai pada Mamanya. Sedangakan Aisyah hanya bisa khusyuk mengAamiinkan.


"Alhamdulillah, selesai," ujar Sagara sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.


"Mama pasti bangga padamu." puji Aisyah


"Kalau Mama bangga, pasti dia tak akan pergi meninggalkanku," jawab Sagara, meski tak terisak tapi air mata begitu deras mengalir.


"Tapi, bukankan kamu sudah mendapatkan gantinya?"


"Aku, bukankah Tuhan akan mengambil yang baik untuk di ganti ke yang jauh lebih baik?" tanya balik Aisyah yang sudah bisa di tebak semerah apa kedua pipi wanita itu di balik cadarnya hitamnya.


"Iya, Tuhan mengambil kasih sayang Mama lalu menggantikannya dengan sosok istri yang baiknya luar biasa sepertimu, begitu kan maksudmu?" goda Sagara Devano Pradipta.


Aisyah yang malu dan salah tingkah mulai melakukan hal lain seperti membersihkan daun daun kecil di pinggir Makam Mama Aluna, dan Sagara selalu suka akan hal itu. Tak perduli berapa umur wanita tersebut karna nyatanya akan terlihat menggemaskan jika balik di puji.


"Tetaplah begini, Saga. Aku suka."

__ADS_1


"Siap Bu Guru," kekehnya yang masih berbalut seragam SMA.


Aisyah yang tak lagi mengajar tak pernah marah saat di goda seperti itu, karena setiap malam ia akan menjadi Ibu Guru sungguhah dengan membantu Sagara mengerjakan tugas dan mengecek semua hasil nilainya di sekolah. Jika sudah begitu keduanya bagai kakak dan adik meski setelahnya mereka akan kembali menjadi suami istri di atas ranjang.


"Ada yang mau kamu adukan pada Mama, hem?"


"Banyak, tak cukup dua hari rasanya jika harus ky ceritakan semua pada Mama," jawab Aisyah yang menyipit kedua matanya dan Sagara yakin jika bidadari dunia nya kini sedang tersenyum.


"Ish, aku lapar sungguhan, cepat katakan yang penting saja pada Mama," titah Sagara yang memang perutnya sudah keroncongan.


"Hem, apa ya? dua hal yang ingin ku sampai kan pada Mama yaitu permohonan maaf dan ucapan terima kasih."


"Yaudah cepat katakan!" Sagara yang tak sabar justru mendapat cibiran dari istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Mah, maaf karna aku sudah ikut menyayangi dan mencintai putramu.. Dan Terima kasih sudah melahirkan seorang anak yang kini jadi Imam terbaikku.


__ADS_2