
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari berlalu tanpa ada perubahan kecuali sikap Sagara yang semakin posesif pada istrinya dan itu terbukti sampai hari kelulusan tiba. Ia yang di curigai oleh ketiga sahabatnya mulai memperbaiki sikap dengan sedikit demi sedikit meski tak melupakan sosok Sang istri sama sekali. Sagara benar-benar tak ingin ada yang tahu tentang Aisyah bukan perkara ia malu sudah beristri.
Seperti malam ini, lusa yang adalah hari kelulusan membuat teman-teman Sagara yang lain membuat acara sendiri di salah satu Club Malam sebuah hotel baru di ibu kota. Ia yang sebenarnya malas untuk pergi masih berguling tak jelas di tengah ranjang.
"Jadi pergi gak?" tanya Aisyah yang melirik ke arah jam di dingin kamar.
"Sudah jam 9, kalau mau pergi sekarang saja jadi kamu bisa pulang lebih awal," sambungnya lagi yang sudah duduk di tepi ranjang.
Sagara masih diam, ia lempar ponselnya secara asal kemudian menatap lekat penuh damba kearah istrinya.
"Kenapa?"
"Aku LAPAR, Sayang." ucap Sagara dengan nada kesal.
Dalam satu bulan Si SosTel di wajibkan untuk libur beberapa hari karna Mie Keriting kesukaannya sedang mengalami tumpahan Saos yang tak memungkinkan mereka teraduk sempurna seperti biasa.
Seperti malam ini, sudah tiga malam pasangan itu tak melakukan hal yang menyenangkan membuar Sagara uring uringan tak jelas menahan hasrat.
"Besok malam ya, aku janji."
"Aku tinggal makan, Ok," pinta Sagara mulai bernegosiasi. Bagi yang tak paham ini adalah obrolan biasa tapi untuk mereka ini adalah kode kemesuman yang hakiki.
"Iya, nanti masak sendiri, kamu tahu kenyang aja," goda Aisyah.
Seperti itu saja nyatanya sudah sangat membuat Sagara senang luar biasa, terbukti pria tampan calon mahasiswa itu langsung bangun dari baringnya kemudian memeluk Aisyah dari samping, tak lupa Ia juga mengusap perut rata sang istri dengan harapan jika kerja kerasnya esok akan membuahkan hasil yaitu datangnya malaikat kecil yang mengisi rahim Aisyah Nura Pradipta.
"Kamu nggak apa-apa aku tinggalin?" tanya Sagara yang sebenarnya ragu untuk pergi ke acara teman-teman itu
"Iya nggak apa-apa. Asal kamu jangan pulang malam-malam ya, ingat aku di rumah menunggumu," jawab Aisyah dengan kedua tangan menangkup wajah tampan suaminya.
Ya sudah, aku berangkat sekarang, jika ada sesuatu cepat hubungi aku. Kamu juga jangan tidur malam-malam ya," pesan Sagara yang membalas dengan memberikan banyak ciuman mulai dari kening, kedua pipi hingga bibir tipis Sang istri.
Sagara turun dari ranjang mencoba merapikan dirinya lagi sebelum ia benar-benar pergi ke pesta perpisahan yang dibuat oleh teman-temannya. Di sana juga ada Marcel Bian dan juga Tata, keempatnya akan berkumpul sebelum akhirnya datang ke acara pelepasan murid murid SMA dan Setelah itu mereka akan berpisah karena harus melanjutkan pendidikan di Universitas yang kebetulan berbeda-beda.
"Aku pergi ya, Sayang," ucap Sagara lagi sebelum menutup pintu kamar, ia sengaja tak ingin meminta Aish untuk mengantarnya sampai pintu utama.
"Iya, Hati-hati," jawab Aisyah yang jika boleh jujur ia begitu berat melepas kepergian suaminya yang dah seperti biasa. Ada rasa yang menganjal dalam hati Aisyah seolah sebuah Firasat untuk rumah ya tangganya.
"Tidak, semua pasti baik baik saja, aku percaya pada suamiku," bathin Aisyah yang baru ini tidur sendiri yang tak tahu Sagara akan pulang di jam berapa.
Suka tak suka, ia pun mencoba memaksakan diri untuk tidur meski kedua matanya enggan terpejam. Jika terjadi sesuatu pada Sagara, ia tak akan memaafkan dirinya Sendiri sebab pria itu pergi atas izinnya padahal Sagara sudah enggan berangkat dengan alasan Aisyah jauh lebih penting dari acara tersebut
.
.
.
Beda dengan Aisyah yang tak bisa tidur padahal sudah hampir tengah malam, Sagara yang sudah sampai di Club malam mulai menikmati acara yang semakin malam justeru semakin ramai. Suara musik dan sesekali sorak ramai teman-temannya yang sedang berdansa mulai memekakkan telinga.
Bukan tak pernah atau ini yang pertama kali karna. nyatanya sebelum menikah Sagara sering keluar masuk Club hingga pulang pagi. Antara ibadah dan maksiat tentu keduanya di jalani oleh Sagara
dan semua tahu itu termasuk Daddy Ricko dan Appa Reza.
Keduanya tak ikut campur karna tak sekali pun mendapat laporan jika cucu kesayangan mereka pulang dengan keadaan mabuk atau keluar masuk hotel dengan seorang perempuan.
Tapi, entah untuk malam ini, apakah Iman Sagara akan kuat seperti biasa?
__ADS_1
"Ayolah, cicip sedikit," rayu Rama, teman Sagara namun beda kelas.
"Ini udah lebih dari cukup, Ram," ucap Sagara sambil melirii kearah Minuman soda diatas meja Bar.
Meski kadang ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Club, tapi bukan berarti Sagara sama seperti mereka yang bisa melakukan banyak dengan keadaan setengah sadar.
Sagara datang hanya untuk mengusir sepi saat tak siapa pun di rumah. Dan terbukti ia tak lagi datang saat punya tempat pulang untuk bertukar cerita.
"Rokok," tawar Rama lagi. Sungguh anak dari salah satu Ceo perusahaan di ibu kota itu sangat penasaran dengan Sagara, keduanya pernah bertengkar hebat bahkan saling babak belur ketika Rama dengan niatnya mengejek Sagara dengan kata BAanCi.
"Enggalah, makasih," tolak halus Sagara lagi yang masih menikmati Alunan musik bagi yang tak biasa sungguh pasti akan membuat pusing kepala.
"Ini gak mau itu gak mau, lo maunya apa? pisang goreng sama teh manis?" ledek Rama lagi.
Sagara tak menghiraukan karna dalam hatinya ia selalu menyebut nama Aisyah, itu lah satu-satunya cara agar ia selalu ingat dengan istrinya dirumah yang sedang tidur sendiri tanpanya
"Kalau ada boleh tuh, mau gue!" jawab Sagara yang masih baik dan sabar. Jangan sampai ia pulang dengan keadaan penuh luka karna itu pasti akan melukai hati Aisyah juga
Rama yang kesal karna Sagara tak terpancing pun akhirnya pergi dengan umpatan kasar yang hanya di balas senyum kecil. Tak hanya Aisyah yang di ingat karna bayangan Sang Mama pun ikut terlintas juga.
"Hey, ngelamun sih, turun yuk kebawah," ajak Tata yang tiba-tiba datang mendekat kearah Sagara.
"Males, disini aja." kembali ia menolak, di meja Bar saja matanya sudah ternoda bagaimana di bawah yang pasti akan jauh lebih parah karna ada penari striptis yang akan meliukan tubuh mereka untuk memberi rangsangan. Sagara yang seorang pria normal yang sudah tau rasanya tentu akan tergoda terlebih ia sudah beberapa malam tak kelakuannya.
"Ayolah, kita seneng senang setelah mumet mikir ujian, habis ini juga balik sibuk lagi sama tugas kuliah loh," rayu Tata pada pria yang di cintainya itu.
"Lo aja, bentar lagi gue balik," ucap Sagara saat ia sudah merasa tak betah lagi di tempat seperti ini, jika dulu sungguh menyenangkan lain hal sekarang yang membosankan sebab ia harus menjaga sikap dan pandangan.
"Kamu mau balik?" tanya Tata yang di iyakan oleh Sagara.
"Hem, kenapa?"
"Bian?" tanya Sagara dengan dahi sedikit mengernyit, diantara mereka memang Sagara yang paling akhir datang Club tersebut.
"Mabok, aku takut."
"Gue pesenin Taxy Online ya, gue gak bisa anter lo pulang,", ucap Sagara, tak adanya alasan jelas membuat Tata semakin penasaran dengan pria tersebut.
" Kok gitu, jahat banget deh sekarang!" omel Tata dengan nada kecewa.
"Maaf, tapi beneran deh, gue gak bisa."
Tata yang kesal lalu menyodorkan minuman rasa buah kearah Sagara, tak ada rasa curiga karena itu sering di lakukan Sagara pada Tata yang malas
membuka tutup botol yang masih bersegel dengan alasan tangannya sakit.
"Enak gak sih? aku baru beli tapi takut gak enak, kamu cobain duluan ya, kalau enak kasih aku," titah Tata sambil tertawa.
"Kebiasaan!" jawab Sagara yang selalu jadi ajang uji coba Tata meski Marcel dan Bian juga.
Setelah di buka, Sagara langsung menegak minunan yang ada di tangannya hasil pemberian Tata.
"Kok agak pait ya, harusnya kan asem," ucap Sagara yang memastikan lagi jika itu minuman rasa jeruk.
"Hadeuh, bener kan gak enak. Nyesel deh beli padahal niatnya coba minuman baru."
Lagi dan lagi Sagara tak curiga, semua alasan Yang di tutur kan Tata cukup masuk akal, karna tak ada salahnya mencoba yang baru meski itu hanya sebotol minuman.
"Jadi gimana?" tanya Sagara.
__ADS_1
"Abisin deh sama kamu," titah Tata sambil menggeleng kan kepala saat Sagara balik menyodorkan minuman tersebut.
"Kok jadi gue?" protes Sagara sambil meminum lagi. Walaupun sedikit pahit tapi entah kenapa membuatnya lagi dan lagi ingin menikmatinya hingga habis.
Perlahan, pandangan Sagara mulai berbayang hingga bukan satu yang ia lihat melainkan tiga dan empat sekali gus.
"Lo kenapa banyak banget?" tanya Sagara yang tiba-tiba suaranya berat jelas itu adalah seperti orang yang sedang menahan hasrat.
"Aku satu, Saga. Bahkan aku mau jadi satu-satunya milik kamu, aku cinta kamu," Tata yang tahu jika Sagara sudah mulai tak beres tentu berani mengungkapkan perasaannya yang selama ini selalu di larang oleh Marcel dan Bian.
Sagara yang merasa pusing lalu di ajak pulang oleh Tata. Sebelum pria itu semakin parah tentunya. Sagara yang masih bisa berjalan sendiri tentu tak menaruh curiga siapa pun yang melihat ia keluar dengan Tata yang tahu jika mereka Berteman baik selama bertahun-tahun.
.
.
.
"Yakin bisa bawa mobil sendiri?" tanya Tata saat keduanya sudah ada di dalam mobil. Sagara bak. kerbau yang di cocok hidungnya saat ia di ajak pulang oleh Tata.
"Hem, Aaaah-- Ssshhh--," deSaah Sagara yang mulai gerah padahal mesin mobilnya sudah nyala begitupun dengan ACnya. Tapi, tidak yang di rasakan pria itu sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Tata lagi sambil menarik wajar Sagara agar menoleh ke arahnya.
"Heeem--, Aaah--," sentuhan tangan Tata benar-benar membuat SosTelnya semakin tegak.
"Kamu suka?" tanya Tata saat ia berbiaik berat di telinga Sagara.
Tak ada jawaban, Sagara memejamkan matanya dengan tubuh bersandar di sandaran kursi mobil. Pikirannya jauh melayang dengan hasrat yang seolah ingin meledak. Ia butuh pelepasan sekarang juga.
Tata yang melihat sikap lain dari Sagara yakin jika Obat perangsang yang sudah di suntik kan kedalam minuman yang di minum Sagara sudah mulai bereaksi. Semua sesuai dengan rencana gadis itu.
Ia nekat melakukan hal tersebut karna Frustasi dengan sikap lain Sagara. Ia tak bisa membuktikan jika pria itu memiliki kekasih karna dua kali ia tak sengaja bertemu pasti Sagara sedang bersama sepupunya, OLLA.
Sedangkan perasaannya mengatakan jika pusat perhatian Sagara seperti tertuju pada orang lain yang entah siapa gadisnya. Semua nampak normal bagi Tata yang sudah kenal Sagata bertahun-tahun. Pria itu tetap tinggal di rumahnya, rumah utama bahkan rumah Mommynya. Dan Tata sudah menyelidiki semua itu. Motor dan Mobil Sagara jarang sekali keluar lagi saat malam.
"Aku mencintaimu, Saga. Sangat." Dua kali Tata berbisik dua kali juga pria itu mengerang.
Sagara tak bisa membuka matanya, sebab ia sedang merasakan sesuatu dalam dirinya yang aneh. Ia ingin melawan rasa itu tapi kalau dengan desiran yang ia dapat dari sentuh yang tangan seorang perempuan.
Tata yang menatap lekat wajah Sagara kenapa langsung terpancing juga BiRahiinya saat pria itu berkeringat. Sagara seolah berkali-kali lipat tampannya saat ia terus mendesIIs dan mendesAaah, belum lagi eranGGan penuh napsu saat tangan Tata mulai turun ke leher.
"Kamu--, ingin, Sayang?"
Sagara tentu mengangguk, sejak dari rumah ia memang sedang haus sentuhan karan wanita halalnya sedang berhalangan, dan kini datang wanita lain namun haram di sentuh olehnya.
Antara sadar tak sadar Sagara menikmati apa yang Tata lakukan padanya. Andai saja ia sanggup membuka mata, Sagara yakin bisa melihat wajah temannya itu meski berbayant atau samar samar, sayangnya ia sulit melakukannya.
Sagara hanya butuh pelepasan saaat ini, tak perduli apa acaranya.
Tata yang menciumi wajah Sagara membuatnya lupa diri juga, ia ikut ber napsu hingga pikirannya tak lagi sehat. Tapi ada satu yang tak bisa di rasakan wanita itu, tak lain adalah bibir Sagara. Ia seperti menolak dan selalu menggelengkan kepala ke kiri dan kanan saat Tata ingin menyerangnya. Padahal jika dengan Aisyah, wanita itu akan selalu kehabisan napas.
Kesal dengan penolakan Sagara, ciuman Tata kini berlangsung ke Leher dan dengan senangnya ia berhasil membuka kaos yang di pakai Sagara hingga pria itu bertelanjang dada.
Bibir mungil Tata terus menyisir dari pipi, telinga, leher sampai dada. Semua di nikmati Tata tanpa ada yang terlewat sama sekali.
Dan senyumpun tersinggung di ujung bibirnya saat ia melihat ada beberapa tanda merah di tubuh Sagara. Tak hanya satu tapi 4 kissmark yang berhasil ia buat pada pria berstatus suami orang tersebut.
"Maaf, Ga. Aku gak punya niat apa pun, aku cuma mau milikin kamu sesaat. Aku janji akan lupain hal ini dan aku jamin gak ada satu pun yang tahu, aku sayang kamu, Sagara."
__ADS_1