
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Aga yang akhirnya menurut, mau juga melanjutkan makanannya di mobil. Anak itu bukan tak suka atau tak mau makan hanya saja memang begitu sejak bayi. Entah apa yang salah yang jelas sang kakak jauh berbeda dengannya.
SyahRaa selalu menghabiskan makanannya dengan rapih, hanya saja ia tak pernah mau menambahnya meski masih terasa lapar, anak gadis Pradipta itu memilih menyudahi dan lanjut dengan makanan lain di waktu berbeda.
"Dua lagi sudah ya," kata Aisyah saat mobil hampir sampai di gerbang sekolah si kembar.
Wanita bercadar itu berharap Aga menghabiskannya setelah mereka sampai nanti.
"Dua lagi itu kira kira 30 menit, Bun," ucap Sagara sedangkan perjalanan tak sampai 10 menit lagi.
"Gak apa-apa, diem aja dulu di parkiran," jawab Aisyah pasrah.
Ia sudah biasa seperti ini, menerima karakter sang putra yang lain dari yang lain. Apapun itu, meski aneh dan sangat menyebelkan bagi orang lain, AgaSyah ZeeRahardian tetap anak laki-laki kebanggaannya yang baktinya tak akan putus hingga akhir waktu nanti.
"Sama aja kaaaaaan!" protes si cantik yang merengut kesal.
Sagara tentu langsung merayu SyahRaa agar tak merajuk karna ia tak mempan jika dengan ibunnya.
"Gak apa apa, berarti besok bangun tidurnya lebih pagi ya," kata Sagara sambil mengusap kepala anak gadisnya yang duduk di depan bersamanya karna sang istri harus menemani Aga sarapan.
"Adek tuh, kakak enggak!"
__ADS_1
"Iya, adek nanti bangun lebih pagi ya anak ganteng," ucap Sagara lagi sambil menoleh ke belakang.
"Telgantung," jawab sang putra.
"Tergantung apa?" tanya Kakak, PanDa dan Ibunnya berbarengan.
"Telgantung, mimpinya mau di ajak udahan apa belum."
Iiiiiish...
.
.
.
Pasangan itupun kini sangat bangga karna Si kembar tampil berani saat Perkenalan diri di depan teman-teman yang sudah lebih dulu melakukannya.
Hingga jam pulang tiba, mereka langsung berhambur ke dalam pelukan Panda dan Ibunnya.
"Aga gak mau peluk PanDa?" tanya Sagara pada anak laki-laki yang jadi saingannya tersebut.
"Sama Ibun aja!" tolaknya seperti biasa.
__ADS_1
Sagara langsung mencibir karna kesal wanita terbaiknya selalu di kuasai dalam waktu beberapa tahun ini.
"Ya udah sana, PanDa sama Kakak."
"Iya mau di abisin juga nda apa apa," balas Aga tak mau kalah.
Sagara dan Aisyah hanya bisa mengulum senyum, begitu gemas dengan anak-anak mereka yang tak terasa kini sudah besar, padahal rasanya baru kemarin Aisyah bolak balik bandara hanya karna ingin sarapan sambil melihat pesawat parkir.
"Kenapa, Sayang?" tanya Sagara saat sadar istrinya sedang melamun.
"Gak apa-apa, Mas. Aku rasa waktu cepat berlalu ya, mereka semakin besar sekarang, sudah bisa berdebat dan main sendiri," jawab Aisyah dengan tatapan penuh haru kepada Aga dan SyahRaa secara bergantian.
"Bagus dong, pada cepet gede. Biar mereka lakukan apa yang mereka mau dan bisa, tugas kita hanya mendukung dan mendoakan," jawab Sagara.
"Cih, bijak banget pak suami kecilku," ledek Aisyah yang akhirnya membuat mereka tertawa.
.
.
.
Sungguh, bahagia itu sederhana dan hanya kita yang bisa menciptakannya...
__ADS_1