
🍂🍂🍂🍂🍂
"Kenapa di umpetin sosis sama telurnya?" tanya Aisyah masih dengan santainya, otaknya yang masih bersih tentu tak paham dengan kemesuman suami kecilnya itu.
"Biar angetlaaaaaaaah," kekeh Sagara sambil terkekeh.
Sumpah, pemuda tampan itu tak sepolos kertas poto copy. Ia tentu paham karna memang belajar di sekolahnya meski hanya teori sebab untuk praktek ia belum pernah bahkan saat sudah mendapatkan lawan yang halal sekalipun.
"Pasti anget kan ini mie rebus, airnya aja mendidih," seru Aisyah lagi sembari memotong sayuran sebagai pelengkap agar lebih ramai dan berwarna.
"Oh, enggak sampai muncrat muncrat ya?" tanya Sagara lagi sambil menahan gelak tawanya.
Mendengar semuan penuturan Sang suami, Aisyah akhirnya memutar tubuh setelah ia meletakkan pisau yang Sedari tadi ia pegang.
"Apa yang muncrat?"
"Hem, kuah Mie, sosis dan telurnya," jawab Sagara, ia tak kuasa menahan tawa saat Aisyah menoleh kearah kompor yang menyala dengan panci di atasnya.
"Enggak tuh, kalau muncrat nanti aku tutupin," ujarnya polos.
__ADS_1
Dan itu membuat Sagara langsung memeluk wanita nya, ia dekat tubuh kurus langsing itu sembari terus tertawa renyah.
"Iya deh iya Ibu Guru," ucap Sagara yang rasanya akan berdosa sekali menjahili istrinya itu.
"MANTAN!" cetus Aisyah, ia yang sudah tak lagi bekerja tentu langsung melempar protes.
"Mau jadi Ibu Guru lagi?" tanya Sagara yang kini dengan nada serius hingga mampu membuat wanita di depannya mengernyit dahi yang sedikit tertutup dengan hijabnya.
"Kamu izinin aku kerja?" tanya balik Aisyah tak kalah serius.
"Tentu, dengan senang hati." Sagara yang tersenyum simpul seolah meyakinkan istrinya jika ucapannya itu tak main-main.
"Ngapain aku bercanda, orang aku ini serius. Aku izinin kamu buat jadi Ibu Guru lagi ya buat aku, aku jadi murid kamu, gimana?" godanya sambil menaik turunkan alis dan sikapnya itu berhasil menjadikan Aisyah salah tingkah.
"Ngaco ah!"
Ingat dengan masakannya, Aisyah kembali melanjutkan lagi semua yang sempat tertunda, rasa lapar tak lagi terasa karna candaan yang saling mereka lemparkan bersama.
Selesai dengan masak memasak, kini saatnya pasangan suami istri beda umur tersebut menikmati apa yang kini tersaji diatas meja. Asap yang mengepul di udara menandakan berapa panasnya makanan tersebut.
__ADS_1
"Hati-hati makannya," pesan Sagara pada Aisyah, jangan sampai karna rasa lapar lidah wanita itu serasa terbakar.
"Hem, kamu juga. Apa telurnya matang?"
"Iya, tapi kasian cuma satu, harusnya dua," kekeh Sagara saat menjawab lagi dan itu tak masuk kedalam otak Aisyah.
Sikap santai karna memang tak peka itulah yang semakin membuat Sagara gemas dan ingin terus menggoda karna jika tak merah wajahnya ya pasti akan datar saja layaknya jalan tol.
"Enak gak? kalau kurang sesuatu katakan padaku," ujar wanita itu yang masih saja tak yakin padahal Sagara sudah katakan jika ia akan makan apapun yang dibuat Aisyah.
"Hanya ada dua pilihan, enak dan enak banget. Dan aku pilih--," balasnya yang sengaja menggantung ucapannya tersebut hingga Aisyah kesal sendiri. Padahal apapun jawabannya semua terasa menyenangkan.
"Kamu pilih apa, Sagara?" tanya Aisyah yang gan sabaran.
.
.
.
__ADS_1
Aku pilih habisin lah...