
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ibun yang melamun akhirnya di kagetkan dengan suara SyahRaa yang baru turun dari kamarnya, ia menghampiri wanita tersebut yang duduk sendiri di kursi meja makan.
"Ibun lagi masak?" tanya SyahRaa tapi tak ada apapun yang ia lihat.
"Engga, kak, Ibun uffah pesaan makanan untuk kita sarapan," jawabnya sambil mengusap lengan si sulung.
"Apa ada masalah? Kakek udah makin baik kan?" SyahRaa yang bingung dengan tatapan sayu ibun mulai khawatir.
"Kakekmu baik, hanya saja--, Ibun ingat terus pada adikmu, sejak semalam telepon ibun tak di angkat hanya pesan yang balas oleh Aga," jelas ibun tentang perasaannya.
"Iyakah? coba kakak telepon ya," kata SyahRaa yang sebenarnya tak percaya jika bayi Aga bisa mengabaikan Ibun.
SyaRaa langsung mengeluarkan posel dari saku rok panjangnya, ia mencari kontak nomer sang adik dan mulai menekan icon panggil dan... hal yang sama pun di lakukan Aga pada kembarannya tersebut.
Triing..
*BayIbun
[ APAAAA? ]
SyahRaa mengernyitkan dahinya saat membuka satu notifikasi pesan yang ternyata dari bayi besar ibunnya itu.
__ADS_1
"Telepon gak di angkat tapi malah kirim pesan," gumam SyahRaa sambil membalas pesan tersebut, Ibun yang tahu pun langsung membuang napsa berat karna nyatanya Aga melakukan itu bukan hanya padanya saja tapi juga pada kakaknya.
Entah apa alasannya, yang jelas kini kepala wanita yang sedang tak memakai cadarnya itu berdenyut hebat hanya karna memikirkan sikap aneh tak biasa anak bungsu kesayangannya.
"Tapi ada di rumah kan tuh bayi?" tanya SyahRaa yang ikut khawair karna semalam ia sempat tak bisa tidur seperti ada rasa resah tapi SyahRaa tak tahu apa, mungkin kah Aga sedang ada masalah?
"Ada, tadi Ibun sudah telepon PanDa tapi katanya masih tidur, PanDa juga sempat foto adikmu itu," jawab Ibun yang rasanya ingin pulang sekarang juga.
"Ya sudah, Kakak mau mandi dulu, nanti kakak coba telepon lagi tuh si Bayi," ucapnya yang di iyakan oleh sang ibu.
.
.
.
AgaSyah yang berbaring di ranjang besarnya masih membuang beberapa lembar tisue yang ia gunakan untuk menyeka air mata, rasa sakitnya masih sangat terasa apalagi ketika petugas keamanan ikut memaksanya untuk pulang dengan alasan malam kian larut.
Aga yang masih mencoba menghubungi Deeva tak juga mendapat jawaban kenapa gadis itu berubah.
Deretan pesannya tak ada yang di balas, begitu pula dengan pangilan telepon yang entah sudah berapa kali di lakukan Aga.
Otaknya sedang berpikir keras adakah kata kata terakhirnya yang melukai hati Deeva?
__ADS_1
"Dee, Aga kangen banget, Ibun juga gak ada, terus Aga sama siapa?" lirihnya sedih dengan mata sipit ke arah langit langit kamarnya.
Cek lek
"Bayiiiiiii---," teriak geng kompor meleduk saat masuk kedalam kamar Aga.
Merasa terpanggil, Aga pun lekas menoleh namun saat melihat ArXy, Rain, Skala, Heaven yang datang ia buru buru menutup wajahnya.
"Anak bayi kenapa? butuh pertunjukan buat hiburan gak?" ledek Skala sambil tertawa., (Tertawalah yang puas sebelum cicitmu nongol)
"Gak! Aga gak mau apa apa," jawabnya dari balik bantal.
"Terus lo mau lo apa Bayi? apa butuh pelukan hangat si MariMar?" tanya Heaven sambil menguap karna masih mengantuk.
"Gaaaak! kalian mau apa sih? Aga mau sendiri!" tolak nya lagi yang kini sambil berteriak.
"Yakin? kita mau pergi nih," kata Rain yang sudah ikut berbaring di sisi Aga.
"Pergi kemana?"
.
.
__ADS_1
.
Nagih duit kost'an....