
🍂🍂🍂🍂
Tawaran Ibun yang memintanya untuk ikut ke kampung di Terima SyahRaa tanpa terpaksa dan itu terlihat dari senyumnya yang langsung membuat Ibun merasa lega. Karna, ibu mana pun sungguh merasa terluka hatinya saat kedua anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang justru sedang di patahkan harapannya oleh takdir.
Perasaan yang sama pun sebenarnya di rasakan juga oleh SyahRaa sebab perlahan ia harus berani melangkah ke arah lain meski sebenarnya tak ingin.
"Bertemu secara tak sengaja, menaruh rasa tiba tiba lalu melepas secara terpaksa," lirih SyahRaa sambil memainkan gantungan kunci awal muasal ia bertemu dengan Christ.
Semua bagai alir yang mengalir, bermula dari barang yang jatuh siapa sangka hati keduanya pun ikut jatuh hingga rasa nyaman begitu sangat berkuasa.
Senyum itu tak lagi getir, mulai dari seminggu 3 kali pertemuan, kini berangsur jadi 1 kali. Semua proses di nikmati begitu indah oleh pasangan beda keyakinan tersebut. Tak lagi memaksa untuk salah satu mengalah demi bisa bersama karna semakin lama, cinta pada penciptanya jauh lebih hebat. Termasuk hari ini, SyahRaa pamit untuk pergi ke tempat ibadah Christ, hal yang selalu ia lakukan karna di depan bangunan itu ada taman dan danau buatan yang pas sekali untuk mereka berdua bertukar cerita.
"Hati-hati di jalan ya, jangan pulang malam," pesan Ibun, ia tak khawatir karna tahu anak gadisnya banyak yang mengawasi.
"Iya, Bun. Kakak berangkat sekarang ya, tapi kalau sampai petang kakak belum sampai, Kakak ke rumah utama ya," balasnya yang langsung di iyakan oleh Nyonya Pradipta.
.
__ADS_1
.
SyahRaa pergi dengan mobil mewahnya, sebelum sampai ia mampir sebentar untuk membeli minuman kesukaan Christ, selagi ada waktu ia akan tetap melakukan yang terbaik, karna jika berpisah nanti, ia ingin ada senyum yang terulas di bibirnya saat mengenang kebersamaan mereka, bukan air mata yang menyesakkan dada.
Dua cup minuman kini ada di tangan SyahRaa, ia turun dari mobil mewahnya lalu duduk di tempat biasa, entah ini kebetulan atau memang sudah takdir karna tempat tersebut selalu saja kosong meski sekitar selalu ramai dengan pengunjung lain. Tatapan kosong ke arah danau membuat SyahRaa berkali-kali menghela napas panjang, namun belum sempat ia membuangnya justru sudah di kagetkan dengan sentuhan di bahu kanannya yang tak lain oleh sebuah pulpen kecil. Christ tak akan sembarangan menyentuh SyahRaa dengan tangannya apapun alasannya.
"Sudah lama?" tanya Christ.
"Belum, sekitar 10 menit mungkin," jawab SyahRaa sambil melihat jam kecil di pergelangan tangannya.
"Maaf ya, tadi ada urusan sebentar," balas Christ sambil meletak kan sebuah gitar ke sisinya.
"Enggak, hari ini aku pegang gitar," kekeh Christ.
Satu hal yang semakin membuat SyahRaa jatuh cinta adalah Christ yang multitalenta, ia bisa memain kan beberapa alat musik dan bernyanyi bagi sebagian wanita tentu menganggap itu adalah hal romantis.
"Ini minum mu, aku kemari sekalian mau Pamit."
__ADS_1
"Pamit? kemana, Raa?" tanya Christ langsung terdengar panik nada suaranya.
"Biasa, pulang kampung. Ada acara, dan gak enak kata Ibun kalau aku gak ikut karna Aga gak mau ikut juga katanya," jelas SyahRaa yang selalu bisa menceritakan apa pun itu pada Christ tanpa terkecuali.
"Oh, aku kira kemana," jawab Christ yang merasa lega.
"Kenapa? bukankah kita akan sama sama pamit sebentar lagi? jangan bilang kamu lupa," ucap SyahRaa.
"Mana mungkin aku lupa, jika saja bisa akan ku hilangkan hari itu nanti." tawa kecil Christ hanya di balas senyum simpul yang entah karena apa. Senang atau sakit rasanya kini semua sama saja.
"Untuk apa?" tanya SyahRaa.
.
.
.
__ADS_1
Untuk mencegahmu pulang ke RUSUK yang sebenarnya.