
Sagara mencari kucing sampai malam , tapi anak kucing itu tidak kunjung ia temui.
Pada akhirnya dia menemukan sepasang mata kecil di semak semak dengan terang, menurutnya itu adalah kucing karena kucing kalo di malam hari matanya selalu terang.
Segera saga menghampiri semak semak itu dan menemukan kucing, tapi bukan kucing yang dia lihat bersama Nara. Yang saga temukan berbeda , yang ini induknya sementara yang dia cari anaknya. sagara menghela napasnya pelan lalu menatap kucingnya sambil mengelus lembut.
"Kucing. alay ya gue segitunya nyariin kucing sampai malam gini". Ucap sagara bermonolog sendiri , seolah olah kucingnya bisa menjawabnya.
"Meow".
"Gue tuh lagi nyari anak kucing". Jawabnya seolah tau yang di ucapkan kucingnya kepada dia.
"Meow".
"Lo gak tau ya. okey gakpapa". Sagara berdiri lalu berbalik ingin mencari lagi anak kucing tapi setelah berbalik dia dikagetkan dengan Revan yang entah dari kapan dia berdiri menghadap Sagara , padahal Revan bawa motor harusnya Sagara dengar ada yang memberhentikan motor.
"Lo ngapain disini malam malam?". tanyanya memastikan.
"Lo sejak kapan disini?". Tanyanya balik.
Revan tersenyum sabar bukannya Sagara menjawab pertanyaannya malah ditanya balik. "Gue tadi abis di Alfamart terus gak sengaja liat Lo disini. gue samperin, gue kira Lo bakal tau ada gue tapi Lo malah anteng sama kucing".
Sagara menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu lalu tersenyum "gue nyari kucing, tapi belum ketemu".
Revan mengerutkan keningnya bingung
"Lah itu kucing". Sahut Revan sambil menunjuk kucing yang ada di samping Sagara.
"Bukan itu, tapi anak kucing".
"Sejak kapan Lo suka kucing?".
"Gatau dah , Lo mending bantuin gue".
"Nyari kucing?".
"Ayam". Sagara kembali jalan untuk mencari seekor kucing, dan menghiraukan Revan.
"Eh itu motor gue gimana?".
"Tinggalin terus konci leher".
Revan menghela nafas dengan sabar , dia menuturi perkataan Sagara, karena merasa kasian sama Sagara yang mencari anak kucing malam malam gini. Hanya seekor kucing Sagara rela mati Matian mencarinya.
...••••••...
Paginya Sagara tidak sengaja berpaspassan sama Nara di parkiran. Sagara langsung turun dari motornya dan menghampiri Nara untuk memberhentikannya.
"Sorry anak kucing yang kemarin hilang".
Nara mengerutkan keningnya bingung
"Kamu kenal saya?".
Sagara baru ngeh kalo helmnya masih dipake , pantessan Nara tidak mengenalinya. "Ma-maaf". Sagara malu atas sikap dia tadi yang lupa lepas helm karena terburu buru untuk menghampiri Nara.
Nara menggelengkan kepalanya lalu kembali jalan menuju kelas. Sagara secepatnya menyimpan helmnya ke motornya lalu menyusul nara di sampingnya. Kini sepasang mata siswa siswi yang sudah ada di sekolah memperhatikan Sagara jalan bareng sama murid baru. Karena Sagara tidak pernah jalan berdampingan sama cewek dan Sagara tidak menolak. Kecuali yang selalu deketin sagara, Saga selalu menolaknya.
"Hiraukan orang orang gak usah lirik sana sini".
Nara menoleh ke sagara yang lebih tinggi darinya, Sementara Sagara masih lurus kedepan.
"Kenapa yang lain lihatin kita kayak gitu sih?". Tanya Nara , yang tidak di jawab oleh saga hanya melihatnya sekilas.
Nara menghela nafasnya sabar.
susah emang ngobrol sama orang dingin.
Nara ngebatin sambil liatin muka Sagara , pada saatnya saga juga melihatnya. segera Nara memalingkan wajahnya canggung.
"Oh iya soal kucing , kamu gak usah cari lagi". Ucap Nara mencairkan suasana.
__ADS_1
"Gue kan di suruh untuk jagain kucing". Ucap Sagara bingung.
"Tapi kamu gak bener jagainnya". Nara cemberut. kedua kalinya Nara bikin Sagara gemas.
"Maaf".
"gakpapa, kucing kan banyak".
Gak kerasa Kini mereka sudah ada didepan kelas , dan langsung para penghuni kelas kebingungan dan kaget atas apa yang terjadi sama saga yang jalan bareng sama cewek apalagi murid baru. Yang lahir kemarin di SMA Nusa abadi.
"Widih Sagara sekarang gak homo lagi ya". Ucap Leo , temannya Azka.
Azka yang ada di sebelah leo langsung menggeplak bahu seno keras.
"Sakit anjir". leo berdecak kesal lalu menatap Sagara yang duduk di bangkunya dan tidak menghiraukan orang orang.
"Sa gue denger denger Lo berantem sama baskara?". Ucapnya lagi
"Mitos".
Leo menghela nafasnya karena ngomong sama Sagara itu harus penuh kesabaran menghadapi kedinginan makhluk hidup satu ini. Bener bener kayak es.
Tidak lama kemudian Bu Tera guru sejarah masuk dengan beberapa barang barang yang di butuhkan.
"Saga buku kamu mana?, Yang lain udah dikumpulin.cuman kamu doang yang belum". Ucap Bu Tera mempertegas ucapannya.
"Maaf Bu". 2 kata dari ucapan saga bisa dimengerti oleh Bu Tera apa maksud dari kata 'maaf Bu'. Kalau saga udah ngomong kayak gitu itu berarti belum melesaikan tugasnya, kalaupun cuman kata 'maaf' doang berati telat mengumpulkan, jadi Bu Tera udah tau arti dari kata kata saga itu Karena sudah terbiasa dengan ucapannya si kulkas.
Bu Tera menghela nafasnya panjang lalu mengusap dadanya pelan menenangkan dirinya. "Berdiri di depan,sampai pelajaran saya selesai".
Sagara tidak menentang dia menurut dan langsung ke depan menghadap teman sekelasnya dengan seperti biasa muka jutek , tatapan kosong.
"Lebih parah dari si Azka ini mah, kulkasnya 5 pintu". Ucap leo pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Sagara.
Saga melirik Leo dengan tajam, segera leo memalingkan wajahnya kesebarang arah.
...••••••...
"Kenapa?".
"Lo mau keperpus?".
Nara mengangguk "mau ambil buku kata Bu Tera aku harus selesain rangkuman".
"sekalian mau cari Sagara, kamu liat dia dimana?". lanjutnya.
"Kenapa nyariin dia?". Tanya Bella balik
"Di suruh Bu Tera juga, buat nyuruh rangkumannya selesai".
"Oh gitu, gue tau dia dimana ikut gue yuk".
Nara tersenyum akhirnya Bella bisa membantu mencari Sagara, lalu mereka berdua pergi ke belakang, lebih tepatnya di warung babeh Hasan.
Sesampainya di warung babeh Hasan , Bella dan Nara menghampiri keempat cowo yang berada di meja tongkrongannya.
"Bella! Tumben kamu kesini". Ucap baskara
"Nganterin Nara, buat ketemu Saga".
"Saga tuh Nara nyariin Lo dari tadi". Lanjutnya kesagara yang dibalas lirikan dingin lalu beralih menatap Nara.
Nara yang di tatap dingin itu reflek mendukkan kepalanya.
"Udah saga gak usah natap kayak gitu kasian dia jadi takut sama Lo". Ucap andra.
"Ada apa?". Sagara membalikan kursinya untuk menghadap Nara.
"Emm... Itu di suruh Bu Tera selesain rangkuman, harus beres hari ini".
"Lo udah?".
__ADS_1
Nara menggelengkan kepalanya "belum,makanya itu aku nyari kamu buat rangkum bareng bareng, di suruh Bu Tera juga". Nara tersenyum tipis meyakinkan Sagara.
"Lo aja, tar kalau udah beres gue pinjem".
"Kalau gitu bakal lama lagi, mending sekarang bareng bareng biar cepat selesai".
Ketiga cowok dan satu cewek tidak lain dia Bella dan temen temennya sagara hanya menyimak pembicaraan mereka sambil menikmati cemilan, menurut mereka tontonan gratis.
Sagara menghela nafasnya ,dia males gerak, bukan itu aja dia juga males nulis lebih jelas Sagara tidak bisa ngerangkum yang ada dia tulis judulnya aja.
"Maksa Mulu kerjaannya". Sagara berdiri
Dari duduknya lalu berjalan meninggalkan
Area warung, sebelum Nara menyusul dia pamit dan berterimakasih pada Bella yang udah ngaterinnya.
...••••••...
"Nih aku udah tandain dan udah aku rangkum tinggal kamu tulis". Ucap Nara menggeserkan buku paket sejarah.
Sagara melirik ke buku paketnya lalu kembali melipat tangannya di atas meja lalu tertidur. Sebelum Nara tandian buku, Sagara udah duluan tertidur sambil menunggu, tetapi sesudah buku paketnya di tandain oleh Nara dia malah kembali tertidur.
Nara menghela nafasnya sabar melihat saga dari tadi kerjaannya tidur, kalau enggak main game.
"Saga bangun ih, kerjain ini tugasnya jangan tidur Mulu".
Tidak ada jawaban dari Sagara dia tetep melanjutkan tidur meski mendengar yang diucapkan gadis itu.
Tidak lama dari itu Bu Tera masuk keperpustakaan yang di tempati Nara dan saga untuk menyelesaikan tugasnya.
Bu Tera yang melihat Sagara tertidur langsung menggebrak meja keras, sehingga siswa siswi yang ada di perpus sontak kaget, termasuk Sagara sendiri yang langsung bangun dengan mata menyipit sebelah.
Nara ngebatin sambil salting setelah melihat Sagara yang terbangun meski terpaksa. Demi apa emang bener Sagara kalau bangun tidur gantengnya gak ada obat. Pantes aja Nara kepincut, tidak hanya Nara saja cewek lain juga gitu kalau sudah melihat kegantengan seorang Sagara. Gak usah diragukan.
"Bukannya nulis, malah tidur, mau dihukum seperti apalagi kamu ini?". Bu Tera sedikit meninggikan suaranya tidak perduli dirinya ada dimana saat ini.
"Di hukum mati juga gakpapa Bu". Ucap Sagara sekenanya.
Nara yang mendengar ucapannya menggeplak bahu Sagara pelan.
"Jangan bercanda ih, Bu Tera tuh serius".
"Gue juga serius".
Nara terdiam sejenak kalau ucapan saga memang tidak sedang bercanda dilihatnya.
"Sudah, ibu akan pantau kalian disini sampai selesai".
"Dan kalian juga gak usah masuk kelas, karena ibu udah minta izin ke guru piket hari ini". Lanjutnya lalu duduk di hadapan mereka berdua.
"Baik Bu". Ucap Nara lalu melanjutkan menulis. Sedangkan Sagara terus membuka halaman buku paket sehingga tidak menemukan titik dimana ia mau mulai, padahal udah ditandai tadi oleh Nara.
"Nyari apa sih kamu ini?". Ucap Nara pelan tapi bisa di dengar oleh Sagara ,tapi tidak bisa didengar oleh Bu Tera , karena sedang pokus ke laptopnya.
"Mulai dari mana?".
Lagi dan lagi Nara menghela nafasnya sabar menghadapi satu cowok ini "kan tadi aku udah tandain, mulai di bab 5 saga".
"1 bab?".
Nara mengangguk "gak banyak kok, kan udah aku rangkum lagi, tinggal kamu tulis".
'Gak banyak' tapi tetap saja menurut Sagara tuh banyak karena males nulis apalagi sekarang di awasi oleh Bu Tera, kalau Bu Tera tidak mengawasi dia bisa bebas dan bisa melanjutkan tidurnya tadi. Tapi itulah hanya bisa di gapai setelahnya.
...••••••...
Hai gimana seru gak sih menurut kalian ceritanya , nyambung gak sih ceritanya, atau ada yang kurang. Tolong banget kalau punya saran kasih tau, terus kritiknya juga biar aku bisa ngerubah mana yang salah.
Makasih yang udah baca semoga dilancarkan segala urusannya.
Jangan lupa vote , like , share ke teman-teman kalian ya thank you.
__ADS_1
See next time♡