
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Assalamu'alaikum."
Suara laki-laki yang terdengar dari arah pintu utama membuat kedua wanita yang ada di dapur pun sontak menoleh, SyahRaa buru buru menghapus air matanya sedangkan Ibun bangun dari duduk untuk meyakinkan tebakannya tentang siapa yang datang berkunjung.
Dan benar saja, sosok pria tampan yang pembawaaanya selalu teduh itu kini sedang berdiri sambil tersenyum sopan.
"Assalamu'alaikum, Bun."
"Waalaikumsalam, mari masuk, Nak Agam," jawab Ibun Aisyah yang kemudian menyuruh tamunya untuk masuk namun Agam menolak karna katanya tak lama.
"Ada apa? kalau begitu kita bicara di teras ya."
"Iya, Bun," sahut Agam yang lalu menghempaskan Bok0ngNya itu di salah satu kursi.
"Tunggu sebentar ya, Ibun akan minta SyahRaa buat kan minum untukmu," ucap Ibun yang hendak kembali masuk.
"Tak apa, hanya sekedar teh manis saja, Nak."
Agam pun mengangguk, tentu itu hanya basa basi semata sebab dalam hatinya tetap senang karna akan bertemu dengan gadis pujannya lagi.
"Begini, Bun. Apa sore nanti Kakek bisa di jenguk? karna Abi dan Umi ingin ke rumah sakit, karna untuk Abah sepertinya belum bisa sebab beliau pun sedang kurang sehat," ungkap Agam memberi tahu niat tujuannya datang.
Dan, belum juga Ibun menjawab SyahRaa sudah datang dengan sebuah nampan kecil di tangannya, dengan cekatan tak seperti nona muda pada umumnya, gadis itu meletakkan secangkir teh ke atas meja.
__ADS_1
"Diminum tehnya."
"Iya, Terima kasih ya, Raa," jawab Agam yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
Ia yang ingin kembali masuk kedalam pun malah di minta untuk ikut duduk mengobrol dengan Agam juga.
"Bisa, jam 5 jadwal besuk nya. Disana hanya ada Paman saja, Ibun tak bisa kesana karna harus temani nenek di rumah. Kalian bisa di temani SyahRaa nanti ya ke rumah sakitnya," ucap Ibun, bukan SyahRaa jika ia tak langsung melayangkan protes.
"Kok kakak sih, Bun?!"
.
.
.
Meski tak berhijab, tapi pakaiannya selalu sopan, bahkan tak satu orangpun yang pernah melihat betis dan lengannya kecuali sepupu perempuannya jika sedang menginap di rumah.
"Raa.... ayo keluar. Mereka menunggumu di ruang tamu," titah Ibun saat ia kembali membuka pintu namun hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Iya, Bun. Sebentar lagi."
SyahRaa menarik napas perlahan sambil memejamkan kedua matanya, ia lihat lagi layar ponselnya yang belum juga ada notifikasi pesan dari pria yang kini jauh darinya.
"Berusaha untuk tidak menghubungimu adalah hal paling sulit untukku saat ini, Christ."
__ADS_1
Tak ingin mempermalukan orangtuanya, SyahRa buru buru bangun dari duduk karena semakin lama memandangi ponsel air matanya akan jatuh tanpa terasa, dan ia sedang lelah untuk mengulang itu sekarang.
"Assalamu'alaikum," sapa SyahRaa saat baru datang ke ruang tamu.
"Waalaikumsalam," sahut semuanya serentak namun Agam langsung menundukkan pandangan karna ada orang tuanya juga disana.
"Umi, apa kabar?" tanya SyahRaa saat menyalami wanita berhijab panjang tersebut.
"Alhamdulillah, kabar baik, Nak. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Umi seraya menangkup wajah cantik SyahRaa sambil ia usap pipi mulusnya. Kenal sejak kecil bahkan dari bayi tentu mereka tak asing lagi saat bertemu.
"Baik juga, Umi. Umi dan Abi mau ke rumah sakit sekarang? biar SyahRaa yang antar ya," ucapnya sopan seperti tak ada apa-apa padahal beberapa waktu yang lalu ia baru saja melayangkan protes.
"Iya, kita berangkat sekarang saja, takut kesorean ya, Abi," jawab Umi seraya meminta pendapat pada suaminya yang di iyakan.
Mereka pun pamit pada Ibun dan Aga yang baru muncul karna bangun tidur.
SyahRaa yang bergelayut di lengan Ummi menjadi pemandangan paling indah bagi Agam, andai saja ia berjodoh dengan gadis itu tentu ia tak perlu susah payah mendekatkan calon istrinya dengan sang pemilik surganya tersebut.
.
.
.
Cukup yang seperti ini saja, Tuhan... Jadikan dia yang bisa melengkapi segala tentangku, menjadi kebutuhanku bukan sekedar inginku....
__ADS_1