Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Perjalanan jalur udara menuju kampung halaman Ibun akhirnya sampai juga, turun dari pesawat keluarga Harmonis Pradipta tersebut bergegas ke beberapa mobil yang sedang menunggu mereka.


"Kita memang langsung ke pondok, Mas?" tanya Ibun yang tak menyangka ada sosok pria tampan yang menggandeng seorang gadis remaja.


"Enggak, bukannya ke rumah Bapak dulu ya," jawab PanDa yang sama bingungnya.


Keduanya terus berjalan dengan di susul SyhaRaa di belakang orang tuanya. Agam dan Nuriah yang semakin dekat di hampiri menjawab salam dari Ibun, PanDa dan putri sulung mereka.


SyahRaa yang tak menyangka juga akan ada Agam hanya bisa menautkan kedua alisnya.


"Sengaja jemput Ara?" tanya Ibun.


"Iya, Bun. Nuriah yang tahu kalau SyahRaa datang juga kepingin jemput katanya, maaf ya, Bun."


"Gak apa apa, ya sudah Ibun dan PanDa masuk mobil duluan ya," pamit wanita itu bersama dengan sang suami.

__ADS_1


Keduanya yang pergi, kini meninggalkan SyahRaa, Agam dan Nuriah.


"Ayo, Kak," ajak si gadis remaja, bukan mengiyakan SyahRaa malah melirik tajam ke arah Agam yang tersenyum simpul, dan itu seolah meyakinkannya jika semua ini adalah akal akalan pria tersebut saja.


Nuriah yang duduk di belakang bersama SyahRaa terus bercerita, begitupun sebaliknya, suasana perjalanan tak lagi terasa membosankan saat menuju rumah kakek dan nenek, namun obrolan itu terhenti saat Agam sedikit berdehem pelan.


"Ra, mau makan atau mau beli cemilan dulu?" tawar Agam yang melihat pujaann hatinya itu lewat kaca spion.


"Aku mau es aja, panas banget ya tumben," jawab SyahRaa yang merasa tak lapar tapi kerongkongannya sudah sangat kering setibanya di kampung halaman Ibun.


"Ok, kita ke tempat biasa ya," sahut Agam yang di iyakan dengan anggukan kepala begitu dengan Nuriah yang nampak senang.


Tak ada makanan berat, hanya minuman dan cake yang mereka pesan saat ini.


"Dulu gak seramai ini ya, ini sampai penuh banget," kata SyahRaa sembari mengedarkan pandangan.


"Sering kesini?" tanya Agam

__ADS_1


"Enggak, baru 3 kali sama ini, sebelumnya sama Aga," jawab SyahRaa yang kini terasa jauh lebih santai bicara dengan Agam.


"Lalu, kenapa Aga gak ikut?"


SyahRaa tersenyum simpul kemudian menggelengkan kepalanya. Akhir akhir ini ia tak berani meledek adiknya, menasehati atau memberi saran pun yang tak terlalu berlebihan karna ia tak tahu apa yang sedang di rasakan si BayIbun, meski katanya itu sangat sakit sekali, jika di tinggalkan tanpa alasan saja sudah menghilangkan senyum Aga lalu bagaimana dengan SyahRaa yang akan sama sama pergi meninggalkan secara terpaksa dan berencana?


"Sedang sibuk kuliah atau patah hati, aku sempat meneleponnya, saat itu suara Aga terdengar lirih dan parau seperti orang habis menangis, tapi aku tak bertanya apa pun padanya," ucap Agam yang memang menghubungi Aga dua hari lalu.


"Dua duanya, patah hati lalu menyibuk kan diri dengan tugas kuliah," jawab SyahRaa, tak jarang ia turut merasakan sesak di dada secara tiba-tiba dan itu biasa terjadi karna memang keduanya adalah saudara kembar.


"Sykurlah jika bisa mengalihkan rasa sakit dengan hal positif, jangan terlalu larut dalam kesedihan karna--," sahut Agam yang malah menghentikan ucapannya.


"Karna apa?" tanya SyahRaa, bohong rasanya jika ia tak penasaran.


.


.

__ADS_1


.


Karna tak baik terus bersedih karna Dunia, sedangkan kita ini tamu di atas Tanah...


__ADS_2