Sagara

Sagara
Part 41


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Reza yang baru saja menutup panggilan telepon dari adik satu-satunya itu langsung memeluk Khumairahnya dari belakang, Sang istri yang kaget tentu menoleh sedikit.


"Tumben Adek pagi pagi telepon, ada apa?" tanya Melisa, Si wanita yang hobby memasak hingga ia punya koleksi wajan warna warni di rumah utama.


"Sagara mau nikah hari ini, Ra."


Melisa yang tadinya bersikap tenang langsung memutar tubuhnya saking kagetnya dengan apa yang terlontar dari bibir suami dadakan nya tersebut dan itu membuat Reza tertawa gemas.


"Serius, Mas?"


"Hem, sudah ku duga. Anak itu memang memaksa ingin sekali cepat menikah."


"Tapi--, Sagara masih sekolah," ucap Melisa tak habis pikir.


"Tapi dia sudah bisa menafkahi istrinya, kamu tenang saja," sahut Reza yang langsung mencium bibir Khumairahnya dengan lembut, rasanya tak pernah berubah meski keduanya tak lagi muda bahkan seorang cicit akan segera hadir mewarnai hari tua pasangan terbaik itu.


Tak mungkin juga seorang Sagara tak punya penghasilan, apalagi ia adalah anak tunggal. Meski papanya punya Kakak perempuan tentu Mitha ikut dengan suaminya hingga hampir seluruh harta jatuh pada Sang adik laki-laki satu-satunya tersebut.


"Bersiaplah, Sayang. Kita ke kota B sekarang, aku akan hubungi yang lain," titah Reza yang di iyakan langsung istrinya.


Pria yang tak pernah lupa arah pulang atau mampir ke tempat lain itu pun keluar dari kamar yang kelak akan menjadi saksi bisu keduanya menghembuskan napas terakhir mereka secara bersamaan.

__ADS_1


.


.


.


Kini, rumah mewah peninggalan Sang Singa menjadi titik kumpul semua anggota keluarga besar Rahardian, Pradipta, dan Biantara. mereka semua akan langsung menuju kota B dengan menaikan Kereta Api, sebab sulit dan justru menghabiskan waktu jika harus menaiki pesawat pribadi.


#NyusahinAmatSihNtong.


"Ini kita gak bawa apa-apa?" tanya Hujan, ia bingung karna semuanya hanya bawa badan saja.


"Gak tau Onty, kalau di ajak kan semua Terima beres," kekeh Cahaya, wanita yang tak pernah tahu letak garam di kediaman Biantara tersebut.


Semua yang ada di dekatnya hanya saling pandang lalu menaikan bahu masing-masing, tak paham dengan konsep pernikahan putra mahkota Pradipta itu.


Pemandangan indah kiri kanan serta salingnya melempar candaan membuat mereka tak terasa jika kini sudah hampir sampai. Perjalanan pun di lanjutan dengan mobil hingga sampai di Pondok Pesantren tempat Bapak mengajar.


Ya, disana jauh lebih baik di banding di rumah karna orang tua Aisyah tahu sebanyak apa keluarga konglomerat itu saat sudah berkumpul disini.


Masjid agung pun di pilih untuk acara Ijab Qabul Sagara dan Aisyah, semua yang sudah menunggu di sana pun bernapas lega saat menyambut Para calon besan yang begitu banyaknya bak suporter bola.


(Segini belum ada Si kembar 5 sama Si demoy)

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," sapa semuanya serentak, tapi Papa Zico tentu yang paling depan yang tentunya tanpa pendamping (Sedih)


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


Satu persatu dari mereka bersalaman dan berbasa-basi, bagi yang tahu tentu ini adalah suatu kebanggaan tersendiri.


Berhubung Bapak ingin semua di langsungkan sebelum Adzan Dzuhur, jadi Sagara yang baru datang juga langsung menghadap ke depan penghulu dan calon mertuanya. Semua mata kini terarah pada Siswa SMA yang besok sudah harus kembali sekolah tersebut.


"Bagaimna, sudah siap?" tanya Seorang pria baya dengan sorban putih di kepalanya.


"Siap, Pak."


"Baiklah, ikuti ucapan saya ya," titah pak penghulu yang di iyakan oleh Sagara lalu ia bersiap untuk mendengar dan setelahnya mengikuti apa yang di kini sedang di lafadz kan.


"Saya Terima nikah dan kawinnya Aisyah Nura Binti Bapak Abdullah dengan mas kawin berupa uang senilai dua ribu lima ratus rupiah dibayar, Tunai."


.


.


.


Gubrak...

__ADS_1


__ADS_2