
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pria berkaca mata yang memang sudah dasarnya kesal beberapa hari ini tentu terpancing emosinya, ia yang sudah berpengalaman dalam urusan rumah tangga, dewasa dan cukup mapan merasa harga dirinya di injak injak oleh bocah berseragam SMA yang di tebak oleh Haris berusia tak lebih dari 20 tahun itu.
Sedangkan Sagara semakin menyunggingkan senyum penuh arti dan penuh kemenangan mana kala ia melihat Si Duda anak satu itu mengeraskan rahangnya dengan tatapan tajam tak kalah menahan rasa jengkel luar biasa.
"Pipismu susdah lurus? laganya menikahi seorang wanita, jajan saja pasti masih dari orangtuamu," cibir Haris tak ada rasa takut sebab tertutup dengan rasa kesal dan cemburu.
Ia yang melirik kearah mobil mewah Sagara yang terparkir tentu membuat Si bocah SMA hampir naik darah, tapi beruntung Bapak datang jadi tangannya tak perlu sampai kotor melayang bogem mentah.
"Ada apa ini?" tanya Bapak saat Sagara dan Haris berdiri saling berhadapan dengan tampang tak ada santai santainya.
Haris yang tak ingin ada keributan di rumah wanita incarannya dan juga tak mau meninggalkan kesan buruk terlebih ia seorang dosen akhirnya berpamitan pulang.
"Loh, kenapa buru buru? kita makan malam bersama dulu ya," ujar Bapak basa basi namun di tolak halus oleh Haris.
"Biarkan saja, Pak. Mungkin cacing dalam perutnya belum lapar," ucap Sagara sambil melengos masuk kedalam rumah yang pintunyq terbuka lebar.
__ADS_1
Bapak yang mendengar dan melihat tingkah Sang menantu hanya bisa tersenyum simpul kearah Haris meminta pengertian.
"Bocah," tutur Haris yang membuang napas kasar lalu meraih tangan Bapak sebelum ia benar-benar pulang.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Nak Haris, hati hati di jalan," pesan Bapak setelah menjawab salam.
Haris yang kini berjalan menuju mobilnya melirik sekilas kearah kereta besi milik pemuda tengil yang terus saja bertingkah di depannya barusan
Entah apa yang di lihat Aisyah sampai nekat mai di nikahi bocah SMA seperti ini, tapi bagaimanapun Haris yakin jika itu bukan karna harta sebab tak mungkin Aisyah sematre itu.
.
.
.
__ADS_1
Sagara yang masuk kedalam rumah mertuanya langsung naik ke lantai dua, tanpa basa basi atau izin lagi pada Aisyah ia masuk kedalam kamar wanita bercadar putih gading tersebut yang kini ada di dapur bersama ibu mertuanya, Sagara yakin jika dua wanita berbeda generasi tersebut sedang menyiapkan masakan untuk makan malam mereka nanti.
Tak hanya Haris, Pemuda tampan kaya raya itu juga merasa jengkel tapi semua bisa ia tutupi dengan senyum tengilnya saking tak mau kalah di hadapan pria yang ia yakini itu adalah orang yang sama yang di ceritakan oleh Aurora ArMiKha Rahardian Wijaya tempo lalu saat ia meminta nomer ponsel Aisyah.
Berkali-kali Sagara menarik napas berat untuk ia buang secara kasar karna ini pertama kalinya Sang pewaris utama Pradipta tersebut merasa sesak dalam dadanya hingga hatinya terasa di cubit. Dan itu nyatanya malah membuat ia tak acuh saat mendengar pintu kamar terbuka.
Ceklek
Tanpa menoleh, Sagara tahu siapa yang masuk yaitu tak lain adalah Si empunya kamar yang sejak satu pekan kemarin tak lagi di isi oleh istri.
"Saga, kamu lagi apa?" tanya Aisyah dengan perasaan berdebar karna takut.
.
.
.
__ADS_1
Lagi CEMBURU...