
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ibu yang minta di yakinkan atas keputusan Aisyah akhirnya keluar dengan membawa pesan dari Sang putri untuk di sampaikan pada suaminya. Bapak yang hanya bisa merestui sesuai ucapannya semalam pun kembali bicara dengan Sagara.
"Kamu yakin ingin menghalalkan Aisyah?" tanya Bapak serius, bahkan ini adalah obrolan paling serius seumur hidup pria tersebut.
"Yakin, Pak. Menang kenapa?" tanya balik Sagara yang belum menebak hasil dari keputusannya semalam.
"Aisyah menerima ajakanmu menikah," jawab Bapak yang langsung membuat kedua bola mata Sagara membulat sempurna.
"Serius, Pak?"
"Iya, Nikahi Aisyah sebelum adzan Dzuhur ini," pinta Bapak yang langsung bangun dari duduknya karna ia pun harus mengurus segala sesuatu yang di perlukan untuk pernikahan Sang putri bungsu termasuk meminta izin pada Kyai di PonPes.
.
.
.
Sagara yang sudah memberitahu papanya lewat sambungan telepon hanya diam di kamar memandangi langit langit yang kini ada di depan matanya, bayangan Sang Mama terlintas dan tak mau lepas sama sekali dari benak pemuda tampan tersebut.
__ADS_1
"Mah, Sagara mau nikah, tapi belum izin langsung ke mamah, nanti Sagara Langsung bawa menantu mamah kesana ya," ucapnya sambil tersenyum namun kedua matanya tetap berkaca-kaca menahan sedih.
Hingga saat ia terpejam, mau tak mau cairan bening itupun mengalir juga dari ujung matanya.
Ini tak mendadak bagi Sagara karna ia sudah yakin dengan jodohnya yaitu wanita cantik bercadar incarannya sekarang. Doa dan ucapan baiknya kini tengah di kabulkan oleh Tuhan maka ia cukup bersiap diri untuk mengucapkan ijab Qabul kelak di hadapan Bapak dan Pak penghulu.
"Aish mau mahar apa ya?" gumamnya yang baru ingat satu hal itu.
Semenjak kejadian semalam, keduanya belum bertemu lagi. Hanya Ibu dan Bapak yang jadi perantara calon pengantin tersebut.
Tapi sepertinya tidak untuk kali ini, Sagara ingin menanyakan langsung pada calon istrinya tentang mahar yang menjadi hal Aisyah.
Lewat panggilan telepon, Sagara pun menunggu suara wanita itu mengucapkan salam untuknya.
"Waalaikum salam, Aisyah. Aku--, aku ingin menanyakan perihal mahar yang bisa ku berikan padamu hari ini," ucap Sagara dengan suara pelan bahkan ia menggigit bibir bawahnya saking tak kuat menahan gejolak dalam dada.
"Apa saja, yang penting tak memberatkanmu," jawab Aisyah dengan suara parau dan serak khas orang yang sedang menangis.
"Apa? aku bingung. Katakan saja apa maumu, nanti biar di carikan karna waktu kita tak banyak. Bapak ingin kita halal sebelum Adzan Dzuhur dan itu tinggal hitungan jam," ujarnya yang mulai panik sembari melihat kearah jam yang tergantung di dinding.
"Justru itu, aku bilang apa saja yang kamu punya sekarang," sahutnya lagi, beruntungnya Sagara menelepon setelah selesai melakukan Sunnahnya.
__ADS_1
"Apa? aku punya cinta, sayang, dan setia untukmu. Perihal harta kamu tinggal sebut saja nominalnya," kata Sagara yang semakin di buat bingung.
"Aku sedang tak menjual diri, Saga."
"Bukan begitu, Mahar itu wajib ku penuhi sesuai permintaanmu," tegas pemuda tampan tersebut.
"Hem, baiklah.. Serahkan saja semua yang ada dalam isi dompetmu, mudah kan?"
"Baiklah, biar ku lihat dulu sebentar." Sagara pun menutup teleponnya lalu merogoh kantong jaket yang kemarin ia kenakan dengan sangat hati-hati sebab tangannya yang masih sakit luar biasa.
"Serius, gue gak punya duit?" ucapnya kaget saat melihat isi dompet.
"Gue miskin amat ya? jadi mirip tukang parkir!" sambungnya lagi sedih bercampur kesal yang memang jarang sekali punya uang cash.
.
.
.
.
__ADS_1
Ya ampun... gue mau nikah apa mau ngerok??