
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di rumah utama, saat semua sampai di bangunan mewah itu seperti yang biasa di lakukan adalah mendatangi Amma, karna untuk Appa akan sulit sebab ada Samudera disana.
Aisyah yang baru pertama kali datang sangat tercengang karna rumah mertuanya saja sudah sangat mewah ditambah rumah utama yang jauh lebih dari kata mewah.
"Aish, kok ngelamun, ayo masuk," ajak Olla saat wanita itu malah diam di ruang tengah.
"Ah, iya. Maaf." kekeh Aisyah yang malu, ada manfaatnya ia bercadar yang kadang untuk menutupi wajah merah meronanya.
Aisyah kembali melangkah di belakang Olla karena nyatanya Senja dan Ara sudah entah ada dimana.
Ceklek
"Assalamu'alaikum," sapa Olla dan Aisyah berbarengan.
"Waalaikum salam, ayo kesini, Sayang," panggil Amma yang sedang memeluk Senja.
Si anak bungsu Biantara itu memang sangat dekat padahal ia begitu banyak mendapatkan limpahan kasih sayang di rumahnya dari Mimih dan Mamihnya.
"Appa kemana?" tanya Olla setelah mencium takzim punggung tangan Amma.
__ADS_1
"Ara juga kemana?" tanya Aisyah yang hanya ada Senja di kamar tersebut.
"Belok ke balkon, ada kak Sam di sana."
"Wah, Kak Ala kalo liat bisa keluar tanduk nih," kekeh Olla lagi dan itu tak di pahami oleh Aisyah.
Ia yang duduk di sofa panjang masih di dalam kamar Sang Tuan besar Rahardian di hampiri oleh Amma, wanita baya itu bagai pelita di tengah gelap bagi seluruh keturunannya termasuk Sagara.
"Amma, sehat?" tanya Aisyah, ia bingung harus berbasa basi seperti apa sebab ini kali keduanya ia bertemu dengan wanita yang masih terlihat cantik dan teduh saat di pandang itu.
"Sehat, Sayang. Kamu sendiri bagaimana? apa Sagara mengusahakanmu?"
"Syukurlah, Amma senang mendengarnya. Kamu sudah tahu suamimu itu seperti apa, dia tak seperti sepupunya yang lain, kehilangan sosok Ibu adalah hal paling berat bagi Sagara, Amma harap kamu bisa mengisi kekosongan itu, Aish," ucap Amma seraya meraih tangan cucu mantunya.
"Aku tahu, Amma. Aku sedang berusaha untuk hal itu, tak hanya menemani sepinya tapi juga mengimbangi sikapnya," ujar Aisyah.
Mendengar hal tersebut, Amma malah terkekeh karna sepertinya wanita yang begitu banyak punya cerita itu paham yang di maksud Aisyah.
"Berbanggalah, karna hanya kamu wanita satu-satunya yang tahu dan merasakannya," kata Amma yang langsung membuat dahi Amma mengernyit.
"Maksud Amma?" tanya Aisyah yang ragu tebakannya salah.
__ADS_1
"Jika sudah menikah, semua yang ada dalam diri kita hanya suami yang tahu, begitu pula sebaliknya. Jika di luar sana semua wanita menganggumi ketampanan juga keharuman Sang suami, kita justru harus berbagga diri tahu se berisik apa dengkurannya saat tidur," jelas Amma.
Mendengar hal tersebut Aisyah langsung memeluk wanita yang tak lain adalah kakak Ipar Mommynya tersebut. Benar yang di katakan Amma karna tak semua bisa sepertinya.
Bahkan jika Mama Aluna ada pun ia tak akan bisa menikmati hal tersebut.
"Berbahagialah selalu ada dalam berbagai versinya ya."
"Tentu Amma, bahkan aku baru sadar. Terimakasih," balas Aisyah.
"Bertemu itu adalah takdir, bersama itu adalah jodoh namun bertahan itu adalah sebuah pilihan."
"Akan ku coba, akan ku selesaikan semuanya, kecuali--," Aisyah menarik napas lalu di buangnya perlahan karena tak terasa dadanya begitu sesak.
.
.
.
Kecuali perselingkuhan...
__ADS_1