
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Aisyah yang terlihat lain usai makan mie pun di dekati oleh Sagara setelah keduanya melakukan kewajiban bersama. Ia yang ingin menjadi teman dalam segala hal tentu tak ingin wanita halalnya tesebut memendam apa apa sendiri.
"Ada masalah?" tanya Sagara.
"Rindu," jawab Aisyah pelan, Suami yang mendengar itupun langsung mendongak sebab posisinya memang sedang berbaring diatas pangkuan Aisyah.
"Kan setiap hari ketemu, aku ninggalin kamu kan cuma dari pagi sampe sore, masa iya segitu aja kangen? aku sekolah dulu loh Ibu Guru," goda Sagara dan Aisyah hanya bisa membuang napas berat, geli rasanya mendengar Sagara yang masih sekolah.
"Iya adek, tapi sayangnya bukan kamu yang aku rindukan," jawab Aisyah, kini Sagara langsung bangun padahal ia sedang nyaman nyamannya dengan kepala yang di usap lembut Sang istri.
"Terus kamu kangen siapa?"
"Ibu dan Bapak," sahut wanita itu yang yang tak mengundang protes dari Sagara. Ia paham betul karna ia pun sering merasakannya sebagai anak punya orangtua namun berasa yatim piatu.
__ADS_1
"Ya udah, besok pulang aku sekolah kita langsung kesana ya."
"Kamu serius? gak apa-apa kalau aku pulang?" tanya Aisyah memastikan, ia tak ingin salah paham dulu padahal hatinya sudah sangat senang.
"Gak apa-apa, kan sama aku pulangnya."
Aisyah yang mengangguk segera memeluk Sagara dan itu membuat pemuda tampan tersebut kaget sebab biasanya ia yang sering melakukan itu lebih dulu.
"Gimana? jantung aman kan?" bisik Aisyah pelan karna tepat di telinga suaminya.
Aisyah yang tergelak seolah membenarkan tebakan Sagara, Ia yang kadang di buat lemas mendadak hanya ingin Sagara merasakan hal yang sama, tapi itu pun jika pemuda berstatuskan suami tersebut punya satu debaran yang tak berbeda dengannya selama ini.
"Hem, enggak juga sih, cuma nanya aja," sahut Aisyah yang kini kedua pipinya sudah merah menahan malu dan menahan sikapnya agar tak berlebihan sebab tatapan kedua mereka kini sedang bertemu dengan napas yang benar-benar bisa di rasakan satu sama lain hangatnya.
"Boleh gak?" ucap Sagara dengan hembusan yang menyapu wajah istrinya.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Aisyah yang tak ingin terlalu percaya diri lebih dulu meski debaran jantungnya seolah memberi sinyal yang lain sebab Aisyah bisa menangkap itu dari tatapan mata Sang suami yang semakin teduh kearahnya penuh damba.
"Mau apa aja, kan udah Halal."
Aisyah yang tak memberi jawaban malah menutup netranya sembari sedikit menarik napas lalu di buangnya perlahan. Dan itu seakan menjadi kode bagi Sagara untuk melakukan sesuai instingnya sebagai laki laki normal.
Cup
Kecupan yang hanya sebatas menempel di bibir pasangan tersebut nyatanya semakin memacu jantung dalam diri masing-masing padahal hanya sebatas mengeacCup.
"Aku gak bisa, takut gak enak," ucap Sagara, mustahil memang ada pemuda 19 tahun yang berkata seperti itu.
Tapi, lagi dan lagi darah para leluhurnya begitu kental mengalir di tubuh Sagara yang dimana mereka semua sangat menghargai makhluk bernama wanita, meski pernah menyakiti tapi tak ada satupun yang pernah merusak.
"Pelan-pelan saja, semua memang berasal dari tak bisa namun lama-lama akan terbiasa," jawab Aisyah, sebagai istri ia juga ingin mengumpulkan banyak pahala lewat jalur suami dengan bonus kenikmatan.
__ADS_1