Sagara

Sagara
Part 39


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bu, Aisyah gimana?" tanya Bapak saat istri baru masuk kembali ke dalam kamar mereka.


"Ibu belum lihat, Pak. Barusan dari dapur, semoga baik baik saja, Aish benar-benar tertekan semalam," jawab Ibu yang lalu menghembuskan napas kasarnya.


Jangankan orang lain, sudah bertahun-tahun lamanya Sang kakak kandung saja yaitu Mas Fatih sudah tak tahu lagi seperti apa bentuk rambut adiknya, jadi tak salah jika Aish benar-benar Shock dengan kejadian ini. Ia yang bertekad cukup orang tua dan suaminya saja yang melihat justru nyatanya Sagara yang menikmati keindahannya yang jelas bukan siapa-siapa.


"Bapak mau bicara, tapi Ibu jangan kaget ya," ujar pria yang masih memakai sarung tersebut.


"Ada apa, Pak? ayo cepat katakan."


"Begini, Bu. Saat Bapak mengobati Sagara dia juga merasa bersalah dan tak enak hati karna sudah melihat Aisyah. Jadi Sagara ingin bertanggung jawab dengan cara menikahi putri kita, mungkin itu akan sedikit mengurangi beban mental Aisyah yang merasa tak bisa menjaga dirinya sendiri saking cerobohnya," jelas Bapak seperti yang ia pahami dari maksud hati Sagara.


"Iya, Pak. Ibu takut Aish merutuk dirinya sendiri," ucap wanita itu lirih. Ia khawatir sungguh sangat sangat khawatir Aish akan menutup dirinya sendiri.


"Justru itu, Bapak sebenarnya tak keberatan tapi--,"


"Tapi apa, Pak?" potong Ibu langsung yangnyak sabaran.

__ADS_1


"Apa Aisyah mau di nikahi Sagara? bukannya ia dekat dengan Haris?"


Ibu pun terdiam, pernikahan tentu bukan perkara main main sebab ini menyangkut bakti seumur hidup pada pasangan setelah berjanji di hadapan Tuhan.


"Aisyah tak pernah mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Nak Haris, ia hanya murni menemani putrinya saja selama ini, Pak," jelas ibu seperti yang selama ini ia tahu.


"Coba Ibu tanyakan sekalian lihat keadaan Aisyah ya."


Ibu yang mendapat perintah dari Sang suami tentu langsung keluar dari kamar mereka, dan kini berjalan ke arah kamar Sang Putri.


Dua kali mengetuk pintu dan tak ada jawaban sama sekali dari dalam membuat Ibu memutuskan untuk masuk saja.


Cek lek


"Iya, Bu," jawab lirih Aisyah yang meringkuk di atas ranjangnya.


Ia yang menutup tubuhnya dengan selimut masih membiarkan rambutnya terurai indah karna memang surai hitam itu begitu lurus terawat.


"Kamu tak enak badan?"

__ADS_1


"Hanya pusing, Bu. Kenapa?" tanya balik Aisyah yang tak berniat untuk bangun dari baring nya.


Tubuh Aisyah serasa tak bertulang lemas bukan kepalang apalagi saat ia ingat Sagara begitu dekat bahkan berani berbisik di telinganya malam tadi.


"Sagara----, Sagara ingin menikahimu, Nak."


Kaget?


Tentu, itu adalah perasaan wajar yang di rasakan oleh Aisyah bahkan ia sampai bangun dari baring nya dengan cepat.


"Ibu--, dia mau apa tadi?" tanya Aisyah memastikan apa yang di dengarnya itu tak benar.


Ibu pun langsung menceritakan apa yang ia tahu dari Bapak tanpa ada yang di kurangi atau di lebihkan, ia bicara dengan sangat pelan dan hati-hati sebab ini pasti tak akan mudah bagi Aisyah.


"Bagaimana, Nak? tak apa jika kamu tak mau tapi berjanji lah pada Ibu dan Bapak kamu tak boleh sedih ya," mohon wanita itu sambil berurai air mata.


.


.

__ADS_1


.


Aku--- aku bersedia di nikahnya, Bu...


__ADS_2