
🍂🍂🍂🍂
Pletaaaak...
Bukan menjawab salam, SyahRaa justru menyentil kening adik kembarnya yang pulang sambil berteriak membawa calon mantu untuk Ibun dan PanDa.
"Sakit, Kak!" omel Aga sambil mengusap bagian yang sakit Sedangkan Deeva yang berdiri di samping Aga reflek ikut menangis juga.
"Bawa apa tadi?" tanta si kesayangan PanDa.
"Calon mantu," jawab Aga dengan santai nya, andai ia tahu jika itu sudah berhasil membuat Deeva sungguh sangat malu hingga rasanya ingin sekalian menghilang membawa perasaan bahagianya.
SyahRaa yang sudah uring uringan sejak pagi semakin meluapkan kekesalannya, sedangkan Ibun langsung menghampiri Deeva dan membawa gadis itu ke ruang tengah, pusing rasanya jika harus mendengar anak anaknya terus berdebat seperti ini.
"Duduklah, jangan hiraukan mereka," ucap Ibun yang mempersilahkan tamunya tersebut.
__ADS_1
Deeva tersenyum seraya menganggukkan kepala, tak lupa ia juga mengucapkan Terima kasih sambil sesekali melirik ke arah bayi gantengnya yang sedang di aniaya.
"Temannya Aga?" tanya Ibun saat keduanya sudah duduk dengan jarak cukup dekat.
"Iya, Tante, Saya temannya Aga," jawab Deeva, ia tak bisa menerka Ekspresi wanita itu karna memang tertutup dengan Cadar dari batas bawah mata hingga menjuntai ke dada.
"Panggil Ibun saja, Aga banyak cerita tentangmu, Terimakasih ya."
Deeva sedikit mengernyitkan dahinya karna tak paham dengan alasan ucapan Terima kasih yang di tunjukan padanya barusan, sebab Deeva tak pernah merasa melakukan apa pun untuk ahli waris Pradipta tersebut.
"I--iya, Bun, tapi terima kasih untuk apa ya?" tanya Deeva yang mulai salah tingkah karna ia tak ingin menerka lebih jauh ucapan Ibun.
Ya, andai kehidupan Deeva seperti orang lain, tentu ia pun tak berjanji bisa tahan dengan Aga, Deeva yang memiliki banyak teman karna pergaulannya memang terlampau bebas entah kenapa harinya masih terasa kelabu dengan rasa sepi yang terus menyelimuti hatinya, padahal temannya bukan satu dua orang, ia bahkan tak pernah takut tak di terima di tongkrongan mana pun sekalipun datang tidak bersama dengan sati geng motornya.
Tapi, rasa itu hilang saat melihat sosok AgaSyah, ia yang nampak imut dan pastinya tampan membuat Deeva penasaran di tambah selalu ada dorongan untuk terus mendekati pemuda yang ternyata usianya tiga jauh lebih muda darinya.
__ADS_1
Aga yang hanya satu orang itu nyatanya mampu memberi banyak warna dalam hidupnya, bisa menggantikan semua teman terdekatnya dan juga dapat menjadi tempat paling nyaman dan tujuan pulang sesungguhnya hingga Deeva yakin ia tak butuh sosok lain selain AgaSyah.
Tapi, obrolan dua wanita itu akhirnya terjeda karna teriakan Aga yang datang datang langsung duduk di samping Deeva sambil meringis menahan sakit.
"Perih, Dee, di gigit sama Kak Ala nih," adunya sembari memperlihat kan bagian tanganya yang memang sedikit merah dan jelas sekalai bekas gigi di sana.
"Kalian ini, gak bisa apa sehari aja gak ribut?" omel Ibun yang tanpa di sadari itu adalah salah satu keinginan seorang anak tunggal yang tak punya saudara sekandung.
"Mana? Sini aku liat," jawab Deeva seraya meraih tangan Aga yang kali ini benar benar tak di sengaja.
.
.
.
__ADS_1
Wah, Bun - -, Aga ternoda....