Sagara

Sagara
Part 118


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kehadiran Si kembar tentu membuat rumah tangga Sagara dan Aisyah jauh lebih berwarna. Mereka harus saling kompak dan mengesampingkan ego demi bisa sama-sama menjadi orangtua bagi SyahRaa dan AgaSyah


Semua rasa dalam pernikahan sudah hampir mereka nikmati bahkan sampai yang kecut sekalipun. Kini, maunya tinggal yang indah indah saja meski rasanya itu tak mungkin sebab pasti ada saja kerikil yang menghantam Bahtera rumah tangga mereka.


"Kamu mau kapan berangkat kuliahnya?" tanya Aisyah saat sang suami masih usel usel di lengannya.


"Mau kaya Aga," rengek Saga.


Ya, anak keduanya yang lahir selisih 2 menit dari kakak perempuannya itu memang sedang menyuSUU dengan lahapnya sampai terdengar suara.


"Bikin sana di gelas," jawab sang istri.


"Gak mau, mau yang kiri ya kan nganggur tuh," dengernya lagi dengan senyum mesum penuh HasRaat.


"Punya SyahRaa," tegas Aisyah sambil mendelik, entah sudah berapa kali pria tampan itu meminta dan Aisyah juga menolak. Sagara benar-benar seperti bocah yang tak belum paham miliknya sedang pinjam sebentar.


"Aku kapaaaaaaaaaaaaaaan?" teriaknya Frustasi sampai Aga melepas senapannya karna kaget.

__ADS_1


Plaaaaaak


Tau putranya sampai kaget karna kelakuan suaminya barusan, pukulan pun mendarat di paha Sagara, ia yang baru sadar ikut terkejut juga.


"Sakit, sayaaaang!"


Sagara yang semakin merajuk membuat Aisyah layaknya punya anak tiga jika seperti ini.


"Pergi sana, jangan lupa pamit sama SyahRaa dulu," pesan Aisyah karna memang Si sulung sedang bersama Mommy. Anak gadis pasangan suami istri beda usia tersebut sejak lahir sangat menempel dengan Nyonya besar Pradipta.


"Iya, nanti kalau pulang telat boleh gak?" tanya Sagara dengan mimik wajah sangat menggemaskan.


Istri mana pun akan curiga meski suaminya sudah berani bersumpah akan setia, apalagi Sagara masih dalam masa puasa panjang meski masih bisa mendapat pelepasan dengan cara pintas.


"Mau main, dah lama gak nongkrong. Kalau boleh itu juga, kalau enggak boleh gak apa-apa," jawab Sagara dengan nada bicara pasrah namun tingkahnya mode maksa dengan cium cium manja.


Aisyah diam sejenak, ia bingung untuk menjawab apa antara iya dan tidak. Masih ada terselip rasa takut Sagara pulang dalam keadaan tak sadar seperti dulu. Ia benar-benar tak ingin hal di luar batas terjadi pada suaminya yang masih sangat muda. Pergaulannya cukup bebas apalagi semenjak kuliah tentu ia banyak memiliki teman baru, ia juga terlibat dalam beberapa kegiatan meski berjanji akan memengurangi waktunya di luar saaat anak mereka lahir.


"Kok diem? gak apa-apa kalau gak boleh, Sayang."

__ADS_1


"Kalau pulang nya gak terlalu malam gal apa-apa, kok," jawab Aisyah sambil tersenyum tidak kearah Sagara melainkan ke putranya yang masih dalam pelukan.


"Enggaklah, aku bisa pulang duluan nanti." Sekali lagi Saga mencium pipi Aisyah untuk bentuk rasa Terima kasihnya.


Satu kesempatan sudah ia dapat sebagai Sagara, ia kesampingkan statusnya yang seorang suami dari mantan guru taman kanak-kanak dan ayah dari dua bayi lucu yang menggemaskan.


"Jangan buat kesalahan yang sama dengan terlalu percaya pada orang lain meski ia deket denganmu," pesan Aisyah yang meyakinkan dirinya sendiri jika semua akan baik baik saja.


"Siap sayang, nanti ku telepon jika sudah sampai," pamitnya yang tak hanya pasa Aisyah tapi juga putranya.


.


.


.


.


Aga--, PanDa mau nongkrong dulu ya, kamu temenin Ibun sebentar, Ok.

__ADS_1



__ADS_2