Sagara

Sagara
Part 44


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kaos aja, biar gampang di buka lagi," jawab Sagara dengan tenangnya namun kedua mata pemuda tampan tersebut malah senang menikmati ekspresi kaget istrinya.


"Biar--, ku ambilkan." Aisyah mulai mengingat ingat disebelah mana tadi ia melihat kaos milik Sagara yang tersusun rapih.


"Ya Tuhan," gumam Aisyah sambil memejamkan kedua mata ketika Sagara juga meminta celana DAaalAM.


Aisyah tak bisa marah dan protes sebab itu adalah tugasnya sebagai istri, dan ini adalah pahala pertama yang di dapatnya saat mengurus Sang suami.


"Ini--, benar kan?" tanya Aisyah memastikan jika yang di berikan sudah sesuai dengan yang di pinta Sagara.


"Hem, Terima kasih."


Sagara yang mau melepaskan handuknya justru tertawa saat Aisyah berlari dengan tergesa-gesa keluar dari dalam ruang ganti, padahal niat Sagara hanya menggoda saja, ia tentu tak akan melepaskan kain satu-satunya yang melekat di tubuhnya tersebut.


"Belom aja dia ngerasain maen sama--," Sagara tak melanjutkan ucapannya, ia malah tergelak sendiri menganggapi pikiran mesumnya yang luar biasa.


Selesai memakai baju, ia pun keluar tanpa menutup pintu seperti biasa karna merasa itu adalah area pribadinya tapi sepertinya tidak semenjak hari ini, karna ada Aisyah yang juga akan ikut tidur bersamanya..


"Katanya mau mandi, cepat mandi dulu ini sudah malam."


"Iya," sahut Aisyah yang berjalan pelan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Sagara merebahkan tubuhnya di tengah ranjang yang kini jarang sekali ia tidur tiduri. Sagara melihat luka tangannya yang sudah sedikit membaik. Rasa sakit luar biasa itu nyatanya menjadi berkah tak terkira.


"Gak apa-apa deh tangan gue kena Aer panas yang penting bisa kawin," kekehnya yang seolah tak percaya dengan yang ia lewati hari ini.


Sagara yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh dan bangun. Ada Aisyah yang baru selesai mandi dan kini berjalan kearah ranjang.


Pemuda tampan itu tersenyum simpul, ini pertama kalinya melihat Aisyah memakai piyama baju panjang dengan kerudung instan yang pastinya tanpa cadar.


"Cantik ya istrinya Sagara Devano Pradipta," ucapnya tanpa berkedip.


Aisyah yang mendengar pun tersipu malu, ia lalu duduk di tepi ranjang tak jauh dari suaminya.


"Biar ku obati lagi lukamu."


"Tentu, dengan senang hati," jawab Sagara yang langsung pindah posisi duduk sembari mengulurkan tangannya yang terluka.


"Tadi sih, sakit. Tapi pas di pegang kamu udah enggak," sahutnya yang tak bisa memudarkan senyum. Kedua matanya pun tak lepas menatap wajah Aisyah tanpa penghalang untuk kedua kalinya.


"Jangan begitu, kalau sakit ya bilang sakit, untuk apa menggombal."


"Aku gak gombal, aku serius loh," Sagara tetap meyakinkan.


"Seharusnya tadi ikut kami, kenapa harus bawa motor sih, kan jadi kotor lukanya."

__ADS_1


Sagara tak menjawab, ia benar-benar menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang tak pernah terbersit olehnya itu.


"Sudah, semoga cepat sembuh ya," tuturnya yang entah kenapa hatinya ikut sakit melihat luka Sagara.


"Aamiin."


"Jika masih sakit, besok tak perlu sekolah," ucap Aisyah.


"Loh, kenapa?" tanya Sagara aneh.


"Aku khawatir dengan lukamu."


"Aku tak apa, ini luka kecil bagiku lagi pula besok ada ujian jadi tak mungkin aku bolos."


"Izin, bukan bolos, Sagara," timpal Aisyah.


"Hem, sama saja. Aku akan tetap sekolah karna hanya tinggal beberapa bulan lagi, aku akan belajar lebih fokus mulai besok."


"Kenapa?" tanya istrinya dengan tatapan heran namun senang.


.


.

__ADS_1


.


Gak lucu aja gitu, istrinya guru tapi suaminya gak Lulus SMA...


__ADS_2