
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ibun yang merasa khawatir di rumah karna memikirkan Aga nyatanya membuat SyahRaa ikut cemas juga hingga berkali-kali melamun, ia yang di usap punggung tangannya sampai terlonjak kaget
"Umi! bikin Ara kaget," pekiknya sambil mengusap dadanya sendiri.
"Maaf, Raa, kamu kenapa, Nak? ada yang sedang kamu pikirkan? ayo cerita pada Umi."
Bukan hanya karena kenal SyahRaa sejak bayi yang rasanya seperti anak sendiri, tapi nyatanya kini gadis cantik itu adalah pujaan hati sang putra. Jadi tak salah jika rasa sayang Umi kian bertambah dan itu terbukti dengan cara ia melimpahi SyahRaa dengan banyak perhatian.
Contohnya saja sekarang, wanita itu meminta SyahRaa datang ke PonPes untuk membantu sebuah acara yang rutin di lakukan setiap hari jumat siang.
"Tak ada, Umi. Hanya ingat adikku," ucap SyahRaa yang tak bisa berbohong tentang kegundahannya tersebut.
"Adik kembarmu? Aga?" tanya Umi yang di iyakan oleh SyahRaa dengan anggukan kepala.
Mau tau mau tuan putri Pradipta tersebut bercerita dari awal hingga akhir, yaitu mulai dari cerita Ibun yang tak bisa menghubungi si bayi kesayangan, hingga SyahRaa yang penasaran pun melakukan hal serupa juga, namun hasilnya tetap sama yaitu tak sedetik pun mereka bisa mendengar suara manja AgaSyah.
__ADS_1
"Sudah hubungi orang rumah mu? coba cari tahu kenapa Nak Aga bisa begitu," saran Umi yang ikut cemas juga.
"Sudah, Umi, sepupu kami pun sudah datang kesana untuk melihat Aga karna PanDa pun sudah berangkat ke kantor lebih awal karna ada urusan mendadak," jawab SyahRaa.
"Lalu, apa katanya?" tanya Umi lagi.
"Entah, tak ada kabar sama sekali." SyahRaa yang sama bingungnya sekarang hanya bisa membuang napas berat.
Harusnya ia tahu betul jika geng kompor meleduk yang selalu asik sendiri sering kali lupa dengan misi yang sedang mereka jalankan. Seperti sekarang, diminta untuk melihat keadaan Aga di kediaman Pradipta namun justru tak ada laporan yang di terima Phiu Samudera atau yang lainnya karna kenyataannya para ahli waris keluarga itu sedang asik saling ledek, saling hina dan saling bersyandaaaaaaaa.....
Umi yang paham dengan perasaan resah yang di rasakan SyahRaa pun langsung menarik tubuh tinggi langsing itu untuk masuk kedalam pelukan nya, seorang gadis yang selalu ia doakan kelak menjadi menantunya di kemudian hari.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab SyahRaa dan Umi bersamaan sambil mengurai pelukan.
"Ada apa? kamu kenapa, Raa?" tanya Agam yang langsung saja panik, namun di tengah rasa cemasnya itu malah membuat Umi terkekeh gemas dengan sikap dan ekspresi putranya.
"Gak apa-apa," jawab SyahRaa yang belum merasa ada getaran apapun jika sedang berhadapan dengan Agam yang sudah terang terangan mengakui perasaannya.
__ADS_1
Tak ingin mengganggu, Umi pun meninggal kan Agam dan SyahRaa yang pastinya tak berdua saja di ruangan tersebut. Ada beberapa orang disana yang sedang merapihkan apa yang akan dibawa sebentar lagi.
"Aku akan pulang besok," udah SyahRaa yang rasanya sudah cukup tinggal di kampung halaman Ibun.
"Pulang? dengan orang tuamu?" tanya Agam yang di jawab dengan gelengan Kepala.
"Aku pulang sendiri, tugas kuliahku semakin menumpuk jika tetap disini."
"Aku akan mengantarmu, Raa," ucap Agam yang sedikit mengagetkan SyahRaa
"Tak perlu, terima kasih."
"Aku hanya ingin memastikanmu sampai di rumah , nanti aku minta Nuria ikut juga dengan kita," jelas Agam yang akan mengajak sang keponakan untuk ada diantara mereka berdua>
.
.
__ADS_1
.
Tapi aku tak akan langsung pulang ke rumah!