
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mereka yang menginap di rumah utama sebenarnya sama saja seperti di rumah Papa Zico. Bangun tidur, mandi, melakukan kewajiban lalu sarapan dan setelahnya melakukan aktivitas masing-masing, Sagara di sekolahnya dan Aisyah tetap di rumah dengan kegabutannya yang tak jelas. Kadang ia mengobrol dengan Ibu lewat sambungan telepon atau juga banyak membaca buku atau mendekatkan diri dengan Sang pemilik hidup melalui sunnah sunnahnya.
Tapi sepertinya tidak dengan hari ini, selepas kepergian Sagara ke sekolah, Aisyah bersama dengan Amma di halaman belakang rumah utama tentu nya dengan MiMoy juga disana.
"Mommy pun akan datang siang nanti ya?" tanya Amma.
"Iya, semalam bilangnya gitu, Mommy mau kesini katanya," sahut Aisyah yang tersenyum di balik cadar nya sebab ia ingat bagaiamana wanita senang saat tahu cucu mantunya ada di rumah utama.
"Mommy itu gak betah kalau disini ada orang, pasti kesini juga, apalagi Aisyah yang disini," timpal Hujan sambil terkekeh. Ia tahu betul bagaimana kelakuan adik mertuanya tersebut karna hanya Hujan yang satu-satunya dari awal menikah hingga detik ini ikut dengan Amma dan Appa. Jadi ia tahu juga apa saja yang terjadi di rumah utama yang kuasanya nanti akan jatuh juga padanya.
"Bagus, biar tambah rame," sahut Amma, ia ingat bagaiamana dulu adiknya itulah yang mengantarnya ke dalam kamar suami yang meninggalkannya di hari dan malam pertamanya bersama Appa. Anak gadis yang lucu dan manja kesayangan suami dan Papa mertuanta, Tuan Wisnu.
"Tapi hati-hati kalau di ajak pergi sama Mommy, gak jauh jauh ke toko DalEemaaN, kain tipis sekali pake akan selalu jadi tujuan utamanya," gelak tawa Hujan cukup nyaring saat ia berkata seperti itu karna memang hal tersebut adalah kenyataannya.
Dan Aisyah terdiam sejenak karna ia ingat hadiah pernikahan Mommy yang belum ia pakai sampai sekarang. Bahkan Aisyah lupa di lemari sebelah mana ia menaruhnya sebab belum ia keluarkan juga dari dalam Papar bag.
"Aish, kenapa? hayo--- inget apa?" goda MiMoy.
Dengan cepat Aisyah menggeleng kan kepalanya ia malu jika harus jujur meski sepertinya dia wanita yang sedang bersamanya itu tahu dengan yang sedang ia pikirkan.
"Mommy Kasih apa?" tanya Amma.
"Pasti Baju Dinas malam," sahut Hujan yang kembali tertawa.
"Iya dong, kan belinya sama Adek." Entah datang dari mana seolah sosok Jailangkung Nyonya Biantara yang tak lain Bungsu Rahardian itu datang dan ikut bergabung bahkan menimpali obrolan Mama, kakak ipar dan keponakan barunya itu.
"Gimana? udah di pake?" tanya Cahaya tanpa basa basi.
"Hem, belum, Mih."
Ketiga wanita itu pun langsung saling pandang secara bersamaan. Sangat di wajarkan jika Aisyah tak mau atau tak berani memakainya karena semuanya tahu sosok seperti apa dirinya. Hanya saja memang mommy mertuanya yang terlewat Bar-Bar membelikan Baju dinas seperti itu untuk cucu mantunya.
"Pake dong, emang belum proses bikin Saga Junior?" tanya Cahaya lagi. Tak ada Umi Khayangan tentu pertanyaan itu akan leluasa terlontar dengan mulusnya.
"Sudah," jawab Aisyah jujur.
__ADS_1
Entah, siapapun akan terhipnotis jika sudah bicara hal seperti ini. Mereka seolah saling percaya satu sama lain jika cerita ranjangan tak akan keluar dari arenya, yang artinya semua akan aman.
"Baguslah, semoga Mommy mu cepat dapat Cicit ya," udah Amma yang ikut senang jika Aisyah dan Sagara sudah melakukan hal yang menyenangkan itu tandanya hubungan mereka baik-baik saja meski menikah dengan cara mendadak sekalipun.
"Mama gak takut nanti Papa berantem sama Uncle Ricko?" tanya Cahaya yang tahu jika kedua pria itu tak pernah akur sama sekali.
"Hem, iya juga ya," kekeh Amma, pria yang dulu menaruh rasa padanya itu siapa sangka akan menjadi adik iparnya sekarang, Tuhan seolah membuktikan jika jodoh kadang datangnya dari orang dekat yang ada di sekeliling.
.
.
.
Hampir di jam makan siang, Nyonya besar Pradipta pun datang kerumah utama dengan banyaknya barang bawaan yang sedang di bawa oleh beberapa pelayan ke dapur bersih.
"Mau buat apa kita?" tanya Amma saat bertemu dengan Mommy Ameera.
"Entah, terserah kakak dan Yayang, aku tinggal makan," jawab wanita itu sambil tertawa.
Ia tahu jika yang senang memasak hanya Amma dan Khayangan. Sedangkan mommy dan Cahaya tak pernah masuk ke dapur sama sekali dan Hujan yang tak biasa bukan tak bisa.
"Nah, bagus itu. Selain di kasur harus pintar juga di dapur," kekeh Mommy yang membuat Amma mencibir padahal sendirinya saja tak tahu bedanya jahe dan kencur.
Semua hanya di bawa oleh Mommy di cek satu persatu oleh Amma untuk di diskusikan ingin makan siang dengan apa hari ini.
"Apa selalu begini ya Ummi?" tanya Aisyah yang tak percaya jika keluarga kaya raya ini mainnya di dapur.
"Hem, ada saja sih yang begini. Kecuali kalau Amma sakit atau sedang tak di izinkan masak oleh Appa," jawab Umi khayangan, meski seorang mualaf tapi hijrahnya tak main main.
Aisyah pun mengangguk paham, itu sangat wajar karna karna meski terlihat masih cantik tapi Amma tetap tak lagi muda. kesehatan tetap nomer satu meski kadang kalah dengan sebuah hobby.
"Iya, tapi ini sangat menyenangkan."
"Mama mertuamu juga dulu pintar masak dan makanan yang ia buat juga enak, apalagi puding buahnya," timpal Mommy yang seoleh sedang memutar kenangan tentang menantunya tersebut.
"Benarkah? apa Sagara suka?" tanya Aisyah yang kini sangat antusias.
__ADS_1
Mommy pun mengangguk, ia memeluk Aisyah seolah sedang melepas kerinduan pada Almarhum Aluna yang membuat dunia anak dan cucunya berantakan karna di tinggal lebih dulu dengan cara yang cukup mendadak.
"Sabar, Mom. Ada Aish yang akan temenin Mommy, iya kan?" ucap Aisyah menenangkan.
Meski ia tak tahu dan tak kenal tapi Aisyah yakin jika ibu mertuanya sangat baik hingga begitu di cintai oleh keluarganya.
"Iya, meski Aluna tak terganti tapi setidaknya kehadiranmu bisa mengisi kekosongan termasuk dalam hati Sagara," balas mommy yang membuat siapa pun yang mendengar pasti terharu.
.
.
.
Drama masak memasak yang kurang lebih dua jam itupun akhirnya selesai, kini para suami satu persatu sudah mendekat kearah meja makan dengan tatapan penuh rasa lapar karena siapa pun pasti akan berselera, tak mungkin tak.
enak jika sudah Amma yang turun tangan ke dapur dan itu yang selalu di rindukan oleh semuanya.
"Terimakasih, Sayang. Entah ini yang keberapa kali aku jatuh cinta padamu," ucap Appa pada Khumairahnya dan itu ia lakukan di depan semua l
keturunannya seperti biasa.
"Mama yang di rayu, kakak yang mau pinsan," ujar Air, Si sulung yang tak lain adalah Buaya cengeng yang tekenal Playboy tapi langsung tobat saat sudah bertemu dengan pawangnya.
"Aku mencintaimu, Mi," bisik Bumi, Si tengah yang tak mau kalah juga dari papanya. Jika Mamanya begitu di Ratukan ia pun akan melakukan hal sama pada Pasangannya.
"Abang gak mau rayu Adek?" tanya Cahaya pada Langit Suaminya.
"Hem, apa ya? cukup jangan pernah pegang pIsAu ya, Sayang. Aku tak mau kamu terluka, sakitmu adalah sakitku," jawab Tuan Biantara.
"Hey, Mantan Duda Glowing, jangan buatku iri pada mereka semua! ayo katakan sesuatu," ujar Mommy pada laki-laki yang ia cintai sejak masih menjadi suami orang tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih sudah sabar dan menjadi PELAKOR baik hati...