Sagara

Sagara
Part 76


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seperti ada sesuatu yang membisikkan ditelinga, Sagara pun mengerjapkan kedua matanya. Awalnya ia nampak bingung saat melihat langit langit kamarnya sebab seingatnya ia ada di Club malam, tapi nyatanya kini ia sedang berbaring yang entah dimana.


"Aku---," gumam Sagara yang menoleh kearah samping dan ada boneka berwarna kuning yang langsung mengingatkannya pada seseorang.


"Aish!"


Sagara terlonjak kaget, ia baru benar-benar sadar sedang ada di kamarnya sendiri tapi entah bagaimana caranya ia pulang.


"Mana, Aish?" carinya langsung dengan turun dari ranjang dengan segera.


Ruang ganti adalah tempat pertama yang di cari Sagara, karna tak mungkin semalam ini wanita itu ada di kamar mandi, tapi dugaannya salah besar sebab Sang istri tak ada disana, dan ia berhenti di depan pintu kamar mandi saat ia mendengar suara air mengalir di dalam sana.


Cek lek


"Aish---!" teruajy Sagara sangat sangat kencang tapi yang dipanggil tak juga menoleh, wajahnya tenggelam di atas lutut yang sedang ia peluk.


Tak percaya dengan apa yang sedang Sagara lihat, Ia pun langsung mendekat. Rasa terkejutnya jauh berlipat saat bahu Aisyah di tarik Justru wanita hampir jatuh jika Sagara tak menahannya.


Ia tak sadarkan di bawah guyuran air shower yang mengalir sangat-sangat deras.


"Aish, kamu kenapa, Sayang? ada apa?"


Jika tadi Aisyah yang frutasi kini gantian Sagara yang bingung sendiri karna ia pun belum sadar dengan apa yang ada di dada dan lehernya meski masih bertelanjang dada.


Aisyah yang pasti kedinginan langsung di buka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, ia salinkan semuanya lalu di selimuti. Dirasa semua aman Sagara dengan cepat keluar kamar untuk tahu apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya pria itu saat ia tahu dari kepala pelayan jika dirinya pulang dengan di antar oleh Marcel namun dalam keadaan pingsan.


"Mana mungkin? yang gue inget itu gue pulang sama Tata, bukan sama Marcel. Tapi-- Tata emang gak bisa bawa mobil."


Pikiran itu pun di kesampingkan dulu oleh Sagara Karna ada yang jauh membuatnya penasaran yaitu kenapa ia bisa pulang dalam keadaan seperti itu lalu, kenapa hal yang sama terjadi pada istrinya.


Sagara yang pusing dan tak paham meminta kepala pelayan untuk menghubungi Dokter keluarga agar datang memeriksa Aisyah yang masih tak sadar saat Sagara kembali ke kamar.


"Sayang, aku mohon cepat bangun, ini aku. Kamu kenapa? ada masalah apa sampai kamu melakukan itu di kamar mandi."


Sagara yakin ada sesuatu, karna posisi Aisyah sangat mencurigakan saat ia masuk, itu jelas pasti ada yang membuatnya seperti ini


"Bu--," panggil Aisyah pelan namun saking dekatnya Sagara masih bisa mendengar meski samar samar.


"Sayang, kamu sudah bangun? ini aku--," ucap Sagara padahal tubuhnya sangat lemas entah kenapa tapi demi Aisyah ia kuatkan.


Aisyah yang mengerjapkan kedua matanya dengan pelan, langsung membuang muka saat di depannya terdapat suami yang masih bertelanjang dada. Ia lihat lagi apa yang yang tak ingin ia lihat. Apa lagi juga bukan tanda merah yang entah buatan wanita mana di Club sana.

__ADS_1


Sagara yang tak tahu apa-apa merasa aneh dengan sikap Aisyah yang kini malah memunggunginya. Ia menangis tapi tak mau menjawab apa alasan ia menumpahkan air matanya.


"Tolong jawab aku, kamu kenapa? aku salah apa? kalau kamu kaya gini, aku bingung." Sagara terus memohon agar Aisyah mau menatapnya tapi tangan Sagara selalu di tepis nya dengan sangat kasar.


Tak pernah terbersit dalam pikiran Aisyah untuk menjawab hingga akhirnya Dokter datang untuk memeriksa Nona muda Pradipta.


"Ada apa, Tuan?"


"Tolong periksa istri saya, dia tadi tak sadar kan diri di dalam kamar mandi," jelas Sagara seperti yang ia tahu saja.


Dokter wanita itu pun mengangguk, ia mulai menyentuh Aisyah namun di tepis dan itu berlanjut berulang kali seakan ia tak ingin di periksa.


"Sayang, aku mohon kali ini saja padamu ya."


Aisyah menggelengkan kepala dan terus menangis dengan suara isakan yang sangat sedih. Siapapun yang mendengar pasti sudah bisa menebak betapa kasihannya Aisyah saat ini.


Dokter dan Sagara yang sekarang sedang saling pandang mulai kebingungan. Tapi akhirnya Sagara meminta wanita berjas putih itu untuk pulang saja karna tak ada gunanya juga jika terus di paksa seperti ini.


"Terimakasih dan mohon maaf merepotkan," ucap Sagara saat ia hanya mengantar sampai depan pintu kamar saja.


"Tak apa apa, Tuan. Silahkan hubungi saya lagi nanti bila perlu," balas Sang dokter.


"Tentu."


"Aku gak tahu salahku dimana, aku juga bingung tapi aku gak akan bosan untuk minta maaf padamu apapun itu. Apa karna aku pulang dengan keadaan tak sadar? tapi seingat ku aku tak mabuk, Aish. Aku bisa jamin itu, selama ini aku tak pernah menyentuh benda haram karna aku ingat Ibu dan kamu, jadi--,"


"Jadi apa? aku gak percaya apapun yang sekarang keluar dari mulutmu! kalau kamu ingat aku, mana mungkin ada--, ada,"


"Ada apa?" tanya Sagara semakin bingung pasalnya Aisyah bicara sambil marah, emosi dan terusak.


"Lihat saja tubuhmu sendiri, ada apa di bagian dada dan lehermu!" teriak Aisyah frustasi. Meski ia sangat terluka saat ini tapi Aisyah ingin Sagara paham jika ia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal sekarang dalam hubungan pernikahannya yang sudah hitungan bulan.


Sagara yang heran langsung turun dari ranjang, ia berjalan dengan cepat menuju cermin besar di ruang ganti dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kissmark dibagian yang di ucapkan Aisyah.


"BangSaaaTt!!! siapa yang bikin?" teriak kesal Sagara yang tak percaya, ini benar hasil kecil pada bibir, bukan lipstik atau apapun. Sagara yang kini sudah pintar membuatnya tentu tahu jika itu asli sebuah mahakarya penuh napsu.


"Sialan! gue gak Terima di giniin!" umpatnya kasar dengan semua binatang keluar dari bibirnya yang biasa hanya kata cinta dan sayang untuk bidadari hatinya tersebut.


Sagara yang kesal lalu keluar lagi dari ruang ganti. Ia yang ingin menjelaskan sesuatu pada Aisya namun nyatanya wanita itu tak ada di ranjang seperti saat terakhir Sagara tinggalkan.


Panik luar biasa di rasakan pria itu hingga ia membangunkan semua pelayan untuk mencari Aisyah ke seisi rumah karna untuk Kabur rasanya itu tak mungkin sekali.


.

__ADS_1


.


Semua kamar dan ruangan di cari dengan sangat detail hingga ada satu kamar paling sudut di lantai dua yang tak bisa di buka pintunya. Dan itu lantas membuat semuanya berkumpul di tempat tersebut.


"Tak bisa di buka, Tuan. Rasanya ini di kunci di dalam."


"Coba cek lagi CCTV arah sini," titah Sagara dengan tangan menyentuh daun pintu yang tertutup rapat tersebut.


Kepala pelayan pun segera pergi menuju tempat CCTV rumah mewah tersebut.


Dan hanya menunggu kurang lebih 5 menit, Sagara mendapat kepastian jika Sang Nona muda masuk kedalam kamar tersebut.


"Jadi istriku di dalam?" tanya Sagara.


"Benar, Tuan."


Sagara mengangguk pelan, ia lega setidaknya Aisyah tak kemana mana dan tetap di rumahnya.


"Pergilah," titah Sagara pada seluruh pelayan yang berkumpul bersamanya.


Kini, tinggal Sagara yang ada di depan pintu berwarna coklat tersebut. Tubuhnya lemas, dadanya sakit seperti dunia sedang hancur. Ini rasanya lebih sakit saat tahu Mama Aluna dalam keadaan kritis tiga tahun lalu.


Sagara yang seolah tak bertulang itu duduk bersandar di daun pintu, air matanya deras karena harus menanggung amarah Sang istri yang jelas itu bukan salahnya. Sagara tak bisa berpikir apa-apa, yang ia pikirkan bagaimana caranya Aisyah kembali percaya padanya lagi dan bisa mengembalikan hubungan indah mereka berdua seperti dulu.


"Aisyah, marahmu memang beralasan, tapi aku berani bersumpah jika ini bukan salahku. Aku tak tahu bagaimana ini terjadi tapumi aku bersumpah atas nama mama, jika besok aku akan mendapatkan jawabannya," ucap Sagara penuh dengan tekad karna ini memang bukan salahnya.


Sedangkan Aisyah yang memang ada di dalam kamar kecil itu tak lagi menangis seperti di kamar suaminya. Hatinya sedikit jauh lebih tenang saat ia mengadukan rasa sakitnya pada Sang Pencipta.


Tak perduli dengan Sagara yang ada depan pintu yang ia kunci dari dalam, ia benar-benar merasa tak baik baik saja saat ini, tak untuk berdebat atau apapun itu yang jelas Aisyah hanya ingin sendiri saat ini. Ia sedang merenungkan dosanya yang mungkin dengan cara ini Tuhan sedang menegurnya. Tapi terlepas dari apapun itu ini sungguh sangat menyakitkan hatinya. Aisyah merasa tak ikhlas jika tubuh suaminya di nikmati oleh bibit wanita lain yang tak jelas siapa yang pasti itu tak halal untuk Sagara.


"Apa karna aku tak melayanimu? sampai kamu setega ini pada ku? tak bisa kah menunggu hingga esok hari?" dada Aisyah pun kembali sesak mengingat hal tersebut.


Ia tahu, suaminya memang memiliki tingkat kemesuman yang tinggi, tapi sebagai istri yang selama ini merasa di ratukan tentu ia tak menyangka jika suaminya akan mencari pelampiasan pada wanita lain.


"Rasa percayaku hilang padamu, sesakit ini di duakan oleh orang yang teramat di cintai?" entah memakai perasaan atau tidak yang jelas tubuh Sang suami sudah di nikmati wanita lain dan rasanya Aisyah akan sangat sulit untuk maafkan.


Bagaimana jika posisi di balik, padahal nyatanya selama ini ia selalu di sembunyikan. Tak ada yang tahu kecuali pihak keluarga.


.


.


.

__ADS_1


Jangan sampai Berlian mu hilang karna satu kesalahan yang sejak dari awal kamu tahu jika sebuah pengkhianatan yang terjadi di antara kita tak akan pernah bisa ku maaf kan, Sagara.


__ADS_2