Sagara

Sagara
Part 129


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Demi menebus waktu yang kemarin, Sagara benar-benar tak jauh dari anak dan istrinya setelah sarapan apalagi SyahRaa yang tak mau lepas dari PanDanya itu.


"Turun dulu, PanDa ambil sebentar," titah Sagara saat si sulung merajuk ingin Cake keju kesukaannya.


"Gendong ih," rengek SyahRaa tetap tak ingin turun bahkan sejak di meja makan anak gadis itu ada di atas pangkuan PanDanya terus.


"Ok, asal diem ya, jangan ledekin adek, Ok."


SyahRaa pun mengangguk, ia memang sering mengejek adiknya itu jika sedang di gendong, karna senang melihat AgaSyah iri dan tak mungkin juga ia minta pada Ibunnya.


Tuan putri Pradipta itu tertawa dalam gendongan cinta pertamanya, dimana ia yakin jika tak akan ada yang sebaik dan setulus PanDanya sekalipun itu mungkin suaminya kelak.


"Diem, Kak."


"Adek liat tuh, malah pasti dia, hahahaha," kekeh SyahRaa yang senang sekali melihat Aga merengut, ia yakin jika di otak bocah laki laki itu sedang menyusun rencana pembalasan nanti untuknya.


Jika tak tahu, orang banyak menyangka jika Aga lah kakaknya karna pertumbuhannya yang jauh lebih cepat mulai dari tinggi hingga berat badan, berbeda dengan SyahRaa si anak perempuan yang imut dan menggemaskan hingga tak ada hari tanpa merajuk manja.

__ADS_1


.


.


.


"Agaaaaaaa---."


Suara sosok pria paruh baya yang sangat di rindukan terdengar di ruang tengah sampai semua menoleh termasuk Sagara yang tak lain adalah putra semata wayang orang tersebut.


"Kakeeeeek---," teriak Aga tapi tidak dengan SyahRaa yang malah mengeratkan pelukan kepada PanDanya.


"Wah, Aga makin tinggi aja," puji Papa Zico yang mengingatkannya pada Sagara.


"Kan mamamna banak, sama Ibun di kasih sosis, wultel, timun, muanya yang panjang panjang," jawab AgaSyah yang langsung membuat kakeknya itu tertawa sedang Aisyah justru tersenyum malu di balik cadar coklatnya.


Memang itu yang di katakan wanita tersebut saat merayu putranya untuk makan sayur, sebab jika hanya nasi dan lauk durasi makannya akan jadi tiga kali lipat dari biasanya. Dan rasanya Aisyah yang justru ingin menelan AgaSyah saking kesal dan bosan karna jika di tinggal anak itu malah kabur untuk main, jadi mau tau mau Ibunnya harus menemani sambil bercerita atau mengajari tentang hal hal lainnya agar tak jenuh berjam jam di meja makan.


"Anak pintar, harus sehat juga ya, Nak."

__ADS_1


"Iya, sehat muanya, Kek. Kakek bawa apa? Aga liat dong, buleh?"


"Boleh, Sayang. Ayo di buka, ada untuk adek juga kakak," jawab Papa Zico yang langsung menoleh pada SyahRaa yang belum ia sapa.


"Anak cantik kenapa? ayo kakek gendong," tawar Papa Zico yang di tolak langsung oleh cucu pertamanya yang merajuk sedangkan Aga sudah anteng dengan mainan barunya.


"SyahRaa kenapa? marah sama Kakek, iya?"


SyahRaa pun mengangguk, ia memang kesal pada pria paruh baya itu yang tak pulang pulang.


"Kakek minta maaf, SyahRaa mau apa? nanti kakek belikan untuk SyahRaa, Ok."


.


.


.


Nda... Kakek bobo aja sana, kasih kaltunya aja ntal SyahLaa beli ndili..

__ADS_1



__ADS_2