
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aiiiiiish, Mommy datang, Sayang." suara yang cukup menggema itu membuat Aisyah segera menoleh untuk melihat siapa yang datang karna dari suara sepertinya ia bisa menebak meski tak yakin.
"Mommy--," panggil Aisyah, ia yang kaget diam saja saat tubuhnya yang di balut gamis berwarna Biru laut di peluk cukup erat seperti tak pernah bertemu bertahun-tahun padahal baru kemarin malam mereka berpisah.
"Sayang, Sagara sudah berangkat sekolah kan?" tanya Mommy.
"Iya, Momm. Barusan banget, emang gak papasan?" tanya balik Aisyah.
"Ketemu, tadi di gerbang. Tapi biarin ajalah, bagus dia pergi," kekehnya yang membuat Aisyah mengernyitkan dahi.
"Lalu Papa mertuamu, mana?" tanya Mommy lagi menanyakan putra tunggalnya, karna ia pun punya satu anak sambung perempuan bernama Mitha yang kini sudah bahagia bersama keluarga kecilnya di luar kota.
"Tadi ada di ruang makan masih sarapan, entah kalau sekarang," jawab Aisyah seadanya yang ia tahu sebab ia pun baru masuk kedalam rumah usai mengantar suaminya berangkat sekolah 🤣
#NgakakAing.
"Hem, ya sudah. Mommy ingin bicara dengan Papa mu dulu dan kamu bersiap ya, Sayang."
"Bersiap untuk apa?"
"Kita pergi sebentar keluar, jadi kamu kalau mau ganti baju silahkan kalau tak mau pun tak apa-apa, ini juga sudah cantik," ujaranya yang tak mendapat jawaban dari Aisyah yang masih diam terpaku dengan perintah Nyonya besar Pradipta tersebut.
Selepas kepergian Mommy, Aisyah berjalan kearah tangga, ia memilih kembali ke kamarnya karena wanita tadi mengatakan ingin bicara dengan papa mertuanya tersebut.
Ceklek
Setelah berputar-putar di lantai atas mencari kamar yang semalam ia tempati, akhirnya Aisyah bisa bernapas lega saat menemukannya, senyum di balik cadar wanita itu mengembang mana kala melihat ranjang yang seolah melambai kearahnya.
Serajin apapun Aisyah, jika kasurnya senyaman tumpukan kapas yang lembut pastilah ia akan betah berlama-lama disana menjadi kaum rebahan.
Tapi, Aisyah tentu tak mungkin tidur lagi sebab ia harus menelepon Ibu, wanita baya itu pasti rindu padanya tapi tak berani menghubungi lebih dulu sebab sadar jika putrinya kini sudah bersuami yang hidupnya akan ia baktikan pada satu pria seumur hidupnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum," sapa Aisyah saat panggilan telepon di angkat oleh Ibu.
"Waalaikum salam, Nak. Bagaimana kabarmu?" tanya Ibu langsung seperti yang sudah di tinggal berbulan bulan oleh anaknya.
__ADS_1
"Baik Ibu, Alhamdulillah. Ibu sedang apa?"
"Kami baru selesai sarapan, Nak. Ibu mau siapkan keperluan Bapakmu ke PonPes."
Itulah yang sekarang Aisyah lakukan, ia tahu apa saja tugas seorang Istri tentu karna melihat Ibunya yang setiap hari mengurus Bapak dengan sangat baik.
"Hem, baiklah. Ibu siapkan saja dulu ya, nanti Aish telepon lagi."
"Iya, Nak. Kamu baik-baik disana ya, katakan pada Ibu atau Bapak jika ada yang membuatmu tak nyaman ya," pesan Ibu yang di iyakan oleh Aisyah sambil menangguk seolah wanita baya itu ada di depannya sekarang.
Sebagai seorang Ibu yang melepas anak gadisnya menikah secara mendadak tentu akan sangat khawatir, andai Aisyah tau jika Ibu sampai tak tidur memikirkannya yang jauh ada di Ibu kota. Di bawa oleh suami dan keluarga baru yang tak di kenalnya sama sekali, hanya Pak Kyai pimpinan PonPes yang membuat Ibu dan Bapak yakin juga percaya jika Aisyah akan baik baik saja bersama Sagara.
.
.
.
"Lalu, habis ini Mommy mau kemana?" tanya Zico yang masih di ruang makan bersama Mommy Ameera.
"Mommy mau kerumah utama, pinjem menantumu ya," jawabnya sambil tersenyum penuh arti, belum lagi kedua alisnya yang naik turun menandakan ada udang di balik tepung serba guna.
"Kok malah bilang ke Zee? izinlah Ke Saga," balas Zico yang heran pada Mommy nya.
Nyonya besar Pradipta itu pun tertawa renyah, ia memang senang menggoda anak satu-satunya itu yang enggan menikah lagi, dan kini ia sedang kalah Start dari Sagara yang menikah muda di detik-detik akhir kelulusannya yang sudah di depan mata.
"Kan adanya kamu, Sayang." cubitan Mommy di pipi Zico tentu membuatnya merintih menahan sakit tapi sayangnya tak di perdulikan.
Sudah bosan rasanya meminta Zico untuk menikah lagi, karna untuk terus larut dalam duka Ibu manapun tak akan ada yang tega. Tapi cinta yang teramat besar terus saja menutup hati pria itu dari kenyataan jika ia sebenarnya masih butuh seorang pendamping.
"Ya sudah, Mommy mau ke kamar Sagara dulu, kamu hati-hati kalau mau jalan sekarang ya," pamit Mommy sambil bangun lalu mencium sekilas pucuk kepala putranya yang bernasib sama dengan Daddynya yaitu Duda mati.
Tok... tok.. tok.
Ketukan pintu kamar yang cukup lembut tapi berkali-kali itu membuat Aisyah cepat cepat memakai cadar nya lagi sebelum ia turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar suaminya.
"Iya, tunggu," ucapnya sambil menarik kenop benda bercat coklat tersebut.
__ADS_1
"Mommy, ya ampun aku belum apa-apa," ujarnya yang panik sendiri.
"Tak apa, begitu saja sudah cantik."
Keduanya pun masuk lebih dulu ke dalam kamar lalu duduk bersama di sofa depan TV besar yang menempel di dinding berwarna abu-abu muda tersebut.
"Kita ke rumah utama ya, kamu harus pelan-pelan kenal dengan keluarga Sagara, dekat dengan kami agar tak merasa asing saat berkumpul di keluarga suamimu," ujar Mommy sambil meraih tangan Aisyah.
"Iya, Mom. Aish coba ya, tapi mohon maaf jika Aisyah masih kebingungan," jawab wanita itu yang membuat Mommy Ameera tertawa, ia cukup paham karna bukan satu orang yang harus di kenal Aisyah terlebih keturunan Gajah yang rata rata memiliki kembaran.
"Iya, pelan pelan juga kamu hapal dengan kami, oh ya, boleh Mommy katakan sesuatu padamu?"
"Boleh, Mom. Silahkan," jawab Aisyah yang tiba-tiba perasannya berdebar hebat, ia cukup tahu diri siapa dan dari mana asalnya jadi Aisyah pikir Mommy sedang akan menuntut banyak hal padanya.
"Mommy mau ucapkan terima kasih padamu," ujar Mommy dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Terima kasih untuk apa, Mom?"
"Untuk semua yang kamu lakukan, hingga Sagara kembali tersenyum lagi."
Aisyah langsung mengernyitkan dahi, ia tahu jika suaminya adalah anak yang kesepian tapi ia tak pernah menyangka jika bisa mengembalikan senyum pewaris Pradipta tersebut.
"Iya, Mom. Akan ku usahakan membuat Sagara bahagia," ucap Aisyah yang merasa terharu karna tatapan Mommy begitu hangat meski memancarkan harapan.
"Syukurlah, karna kehadiranmu tak hanya membuat Sagara bahagia, tapi Mommy juga."
Mendengar begitu hati Aisyah langsung menyeruak senang, jika cadar nya di lepas Mommy akan tahu semerah apa kedua pipi istri dari cucunya tersebut.
"Alhamdulillah, Momm. Aish ikut senang kalau Mommya senang juga."
.
.
.
Tentu dong, Sayang. Kan Mommy jadi punya temen Shoping lagi, dan yang jelas bisa pamer MENANTU lagi....
__ADS_1