Sagara

Sagara
Part 70


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kak Sam--, Ara cantik datang," teriak Asmara Kasih, gadis menggemaskan yang di angkat anak oleh keluarga Rahardian yang akhirnya justru berjodoh dengan salah satu keturunannya.


"Cantik juga punyanya Gala," ledek Samudera yang berada di balkon menemani Appa.


"Emang Kak Sam mau sama Ara? kalau Mau ntar Ara kasih seblak buat Mak othor," kekeh Si Anak curut yang selalu berisik dimana pun ia berada, entah apa yang membuat Galaxy ArMiKha Rahardian Wijaya cinta mati padanya.


"Heh, mana bisa!"


"Bisa kalau Appa mau cium," Sahutnya lagi sambil menaik turunkan alisnya.


Di rumah utama peninggalan Tuan Wisnu memang tak pernah sepi, ada saja yang datang meski hanya sekedar mampir. Bangunan mewah itu benar-benar yang utama tempat untuk menggelar banyak acara.


"Kesini sama Aisyah?" tanya Appa.


"Kok Appa tahu?" tanya balik Ara yang bukan menjawab lebih dulu pertanyaan Sang Tuan besar Rahardian.


"Emang apa yang Appa gak tahu?" ledek Samudera pada pria kesayangannya. Hidup serasa begitu cepat karna seperti baru kemarin ia masih di gendong sana sini.


"Ya udah, Appa tebak ya, sekarang Baby Koalanya Ara ada dimana, hayooo?"


"Itu di belakang kamu," jawab Sang Gajah sambil tertawa.


Dirasa ada hawa lain, Ara bukan menoleh tapi malah bersembunyi dipunggung Samudera, dan itu tentu membuat tanduk Gala tumbuh dah panjang sempurna.


"Di tungguin pulang malah kesini!" omel pria itu langsung. Sulit rasanya melepas Ara di rumah utama karna ia selalu cari perhatian pada kakak sepupunya itu.


"Ara kan ikut Kak Olla, ntar kalau Ara pulang sendiri di culik gimana?" bela gadis itu pada dirinya sendiri.


"Siapa yang mau nyulik kamu? jajannya aja banyak!" cetus Gala, meski ia cinta dari ubun ubun hingga jempol kaki tetap saja sering berdebat dan itu justru memberi warna lain baginya yang berjodoh sejak Ara masih di dalam rahim ibunya.


"Kak Sam yang culik Ara, iya kan?"


"Enggak, Ara gak mau diem!" tolak Samudera.


Gala yang merasa menang tentu tersenyum bangga, ia lantas mengajak Ara pulang tanpa bertemu lagi dengan Adiknya.


"Sagara belum datang?" tanya Appa yang kembali tinggal berdua lagi di balkon dengan cucu pertama Laki-lakinya itu.


Jika Pradipta punya Sagara sebagai putra mahkota keluarga pewaris perusahaan, tentu Rahardian punya Samudera.


"Entah, sepertinya belum. Tapi jika sudah pun ia pasti akan langsung menemui istrinya," sahut Samudera yang berhambur memeluk jajah nya lagi.


"Memang ada apa?"


"Appa mau tanyakan tentang pernikahan yang sudah di urus apa belum olehnya. Karna kemarin mereka menikah di bawah tangan," jawab Appa yang mulai kepikiran sejak kemarin, ia yang bertanya pada Adiknya yaitu Mommy malah di jawab tak tahu, sedangkan Zico masih di luar kota. Dan untuk Daddy Ricko rasanya malas berhubungan dengan Si mantan Duda yang merangkap jadi musuhnya juga, selain ipar dengan ipar bersamanya.


"Hem, iya. Dede juga baru inget. Mungkin nanti setelah Sagara lulus sekolah."


"Appa pikir cukup PapAy mu saja yang menikah usia belasan. Tapi Sagara jauh lebih parah dari Si Buaya cengeng." suara gelak tawa Appa begitu renyah sampai rasanya tak rela jika harus kehilangan.


"Hem, jika sudah ada jodohnya lalu apalagi yang ditunggu?" sahut Samudera lagi, dan keduanya menoleh saat mendengar suara salam.


"Panjang umur," kekeh Appa.


"Apa? lagi ngomongin Saga ya?" tanyanya yang di iyakan oleh Si cucu pertama.


Sagara yang sudah duduk bersama langsung di todong banyak pertanyaan dari Appa seperti yang tadi pria baya itu bicarakan pada Samudera, Appa hanya tak ingin sesuatu bisa merugikan kaum wanita jadi semua harus jelas termasuk status dalam pernikahan.


"Jangan sampai istrimu sudah hamil, tapi pernikahan kalian masih siri," pesan Appa.

__ADS_1


"Emang Sagara udah bisa bikin istrinya hamil??" tanya Samudera yang tak percaya, ia sadar akan hal tersebut karena melihat sepupunya itu kini saja masih memakai seragam sekolah.


"Bisa dooooooooong." Sagara yang sebenarnya malu tetap menyahut dengan percaya dirinya.


Dan Samudera langsung menoleh lagi pada Appanya yang ia percaya tak pernah berbohong sama sekali, dan sialnya pria itu malah menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Sontak itu semua membuat Sagara semakin merona menahan malu. Entah dari mana Sang Gajah tahu hanya saja ia cukup menebak jika keturunan Singa tak akan kuat melihat apa yang sudah halal baginya, ternyata Appa Reza sendiri hanya saja dulu masa lalunya belum selesai.


Tak ingin di goda, Sagara memilih kabur. Ia mencari sosok wanita halalnya untuk di bawa pulang yang ternyata ada di kamar Amma.


Alih alih takut di todong pertanyaan, mereka malah di tawari makan malam bersama dan menginap di rumah utama. Siapapun tak akan Sanggup menolak perintah Sang Nyonya besar Rahardian.


ceklek


Sagara dan Aisyah masuk kedalam salah satu kamar yang tak kalah luas dari kamar mereka di rumah.


Kali ini Sagara yang mandi duluan karna merasa tubuhnya sudah sangat tak nyaman mengingat ada di pelajaran olah raga yang mengharuskannya berada di lapangan.


"Kamu ada baju salin?" tanya Aisyah saat suaminya baru keluar dari kamar mandi. Ia yang hanya memakai handuk sebatas pinggang entah kenapa sangat di sukai oleh istrinya sebab tergoda dengan bau harum sabun yang cukup mengusik indera penciuman.


"Ada, kamu sendiri ada gak?" tanya baik Sagara.


"Ada, kan tadi beli baru," jawab Aisyah malu malu karna ini adalah yang pertama baginya berbelanja sendiri tanpa suami.


Aisyah yang menceritakan apa saja dan berapa total belanjaannya membuat Sagara tersenyum simpul karna ia sudah tahu lebih dulu dari laporan keuangan yang di kirim padanya siang tadi.


"Ya sudah pakai, habis ini kita makan malam sama-sama," titah pria itu lagi sembari sekilas mencium pipi Aisyah.


Beruntungnya ia tadi hanya membeli gamis biasa, jadi cocok untuk di pakai sekedar dirumah saja malam ini.


Setelah rapih, pasangan suami istri tersebut langsung menuju ruang makan


"Olla sudah pulang ya?" tanya Aisyah saat menuruni anak tangga.


Aisyah lekas menggeleng kan kepala, saat ia bisa di Terima baik oleh keluarga Sagara. Kini saatnya ia juga harus bisa menempatkan diri agar tak membuat malu suaminya juga.


Makan malam kali ini terasa begitu hangat karna jauh lebih ramai. Tak hanya berdua saja seperti biasanya ia dan Sagara di rumah.


"Aish, nambah ya," tawar Hujan, calon Nyonya besar Rahardian yang bergelar Dokter Bedah. Diantara semua menantu hanya dia yang bukan ibu rumah tangga biasa, ia justru sibuk kuliah bertahun-tahun hingga lulus dan memiliki gelar. Itu semua juga karna Mahar yang di berikan suaminya yaitu sebuah rumah sakit.


Jika Air langsung jatuh miskin, Sagara tentu terkuras habis isi dompetnya hingga penghabisan. Mahar yang di pinta Aisyah memang mudah cukup apa yang ada di dalam dompetnya, yaitu uang tunai bukan ATM yang berisi uang.


Dan sialnya itu hanya ada recehan sisa kembalian minimarket, jadilah papanya pingsan saat tahu kelakuan anaknya tersebut.


"Ini cukup, Moy," jawab Aisyah.


"Kalau udah jadi istri itu harus banyak makan, karna ngadepin suami itu nguras tenaga," ucap wanita itu lagi.


"Kamu nyindir aku, Sayang?" tanya Air pada istrinya


"No! aku cuma kasih tahu Aisyah aja kok," kekehnya yang membuat sang Suami gemas padanya.


Lagi dan lagi pemandangan indah ada di depan mata Aisyah yang dimana ia bisa menikmati itu semua sambil terus berdoa dalam hati akan setua mereka bersama dengan Sagara, pernikahan Ibu dan Bapak juga sangat rukun tapi keluarga Rahardian sangat menggemaskan jadi tak salah jika Aisyah senang melihatnya karena hubungan suam istri jadi tak monoton tentang hak dan kewajiban, atau tentang rutinitas sehari-hari yang itu itu saja hingga rasa jenuh dan mual mendera. Rumah tangga tak selalu tentang suami dan istri tapi juga bisa jadi teman, sahabat bahkan musuh untuk berdebat karena untuk menyatukan dua kepala itu sangat sangat lah sulit, Tuhan juga tak selalu memberi jodoh yang cocok dalam segala hal malah kadang terkesan bertolak belakang, tapi dari situlah kita harus membuat hubungan tersebut jadi searah sejalan.


Contohnya Aisyah dan Sagara, mereka tak sama dalam segala kecuali sama sama saling mencintai. Aisyah yang berlimpah kasih sayang sedangkan Sagara minim perhatian. Aisyah yang sabar, tak banyak bicara dan dewasa siapa sangka di sandingkan dengan pria yang manjanya luar biasa jika dengannya, meski di luar terkesan angkuh dan cuek. Ditambah lagi umur yang justru Sagara lah yang jauh lebih muda dari istrinya, jika kurang kurang cinta tentu ini juga bisa jadi masalah, namun justru bagi keduanya ini adalah pengerat hubungan dimana apa yang di butuhkan Sagara ada dalam diri Aisyah. Ia yang manja dan butuh kasih sayang di pertemukan dengan wanita yang biasa memberikan sebuah pelukan rasa nyaman.


.


.


.

__ADS_1


Sagara yang sedang merayu Aisyah didalam kamar tetap mendapat sorot mata tajam tak setuju dengan apa yang sedang di inginkan suaminya.


Jika dulu pria tampan berkaos putih tersebut bisa bolos kapanpun ia mau tapi seprti tidak dengan sekarang yang harus persetujuan Sang istri.


"Awas saja ya kalau aku tahu, kamu dari rumah pamit sekolah tapi justru nongkrong gak jelas!" ancam Aisyah saat mereka berada di tengah ranjang yang empuknya tak kalah dengan yang di rumah.


"Loh, justru aku mau bolos sama kamu, Sayang," ujar Sagara masih memohon, bahkan sedari tadi ia sudah memasang wajah imut menggemaskan tapi tak di gubris sama sekali.


"Sama aku? emang mau ngapain?" tanya Aisyah bingung, rasa-rasanya ini hal paling konyol yang ia alami dalam hidupnya.


"Ya enggak ngapa-ngapain, pokonya aku besok gak mau sekolah!" tegas Sagara seperti bocah taman kanak-kanak yang sedang bernegosiasi dengan ibunya.


"Berani?" tantang Aisyah yang justru kedua matanya tertuju pada bagian inti Sang suami.


"Mau apa kamu, hah? kenapa liatin SosTel aku kaya gitu?" tanya Sagara mulai curiga dan ketakutan.


"Aku pecahkan telurmu, dan ku potong sosismu!" jawab Aisyah dengan nada bicara penuh penekan.


Glek


Meski rasanya itu tak mungkin dan hanya ancaman bualan semata tapi bagi Sagara itu sangat menyeramkan karna bagaimana pun ia baru tahu nikmatnya Si SosTel yang bercampur aduk dalam tumpukan Mie keriting. Belum lagi di pernikahan yang masih bisa di hitung jari lamanya tentu semua itu lagi hangat hangatnya sampai ingin terus terulang.


"Gak gitu juga, Sayang. Aku bolos buat temenin kamu disini, kalau kamu pulang sendirian juga aku gak tega kamu di rumah sendiri," jelas Sagara entah serius atau modus, tapi dari tampangnya jelas terlihat ia sangat khawatir.


"Aku baik baik saja, Saga. Justru ini adalah kesempatan bagiku untuk dekat dengan keluargamu. Aku tak mungkin selalu berada di sisimu terus menerus. Mereka sudah menerimaku dengan cara tak membedakan, kini saatnya aku yang harus tahu diri bagaimana memposisikan statusku yang sebagai istrimu. Bukankah kamu sendiri yang bilang, jika mereka tak ada yang menakutkan?" tanya Aisyah yang ingat betul dengan ucapan suaminya tersebut di awal pernikahan.


Sagara pun mengangguk, semua itu memang benar karna sampai detik ini ia tak pernah mendengar ada yang berselisih paham satu sama lain, termasuk mendiang mamanya sendiri hingga akhir hayat, bahkan saat sudah menutup mata saja Sagara merasakan kehilangan dari semua keluarganya.


"Iya, Ibu Guru! besok aku akan sekolah, tapi jika aku rindu bagaimana? boleh pulang kan?" goda Sagara yang langsung membuat Aisyah membuang napas kasar.


Sulit untuk serius dengan suaminya kecuali jika sedang mode cemburu sebab jangan harap ada senyum di wajah tampan suaminya tersebut.


"Anak pintar, gitu dong harus rajin belajar biar cepat lulus," jawab Aisyah sambil mengusap pipi Sagara.


"Lulusku masih lama, habis ini akan kuliah bertahun-tahun, semoga kamu sabar ya, Cantik."


Aisyah pun terkekeh, demi menjaga kewarasan sering kali ia tak ingin ingat jika bersuami kan anak SMA, bukan karena malu hanya saja itu dan sangat lucu. Setiap pagi mengantar Sagara sampai depan pintu bukan pamit untuk kerja tapi untuk sekolah. Belum lagi hampir setiap malam menemaninya mengerjakan banyak tugas.


Tapi, ia juga sangat berbangga diri karena tak semua wanita bisa sepertinya.


"Asal kamu sambil memberikan nafkah tak apa, sekolah ya sekolah tapi jangan abaikan tanggung jawabmu ya, berapapun aku Terima dengan senang hati," jawab Aisyah.


"Hem, kan semuanya aku kasih ke kamu, aku cuma pake uang jajan dari papa, mommy dan Daddy," jawab Segara, semenjak salah satu kartu ajaibnya di berikan pada Aisyah. Ia tak perduli lagi dengan apa yang akan di lakukan istrinya dengan uang itu. Karna semua kebutuhan rumah masih Papa Zico yang menangggung.


"Iyalah, jatahmu lebih banyak dari jatahku, iya kan?" cibir Aisyah, meski tak tahu pasti tapi ia bisa menebak berapa nominalnya mengingat Sagara adalah anak tunggal dan cucu laki-laki satu-satunya dalam keluarga Pradipta, jika bukan jatuh pada nya, akan kemana lagi harta para orang tua itu nantinya?


"Tau Gajah Si, Cantik," goda Sagara lagi yang kini mencium sekilas pipi Aisyah.


Malam yang semakin larut, obrolan pun rasanya sudah kemana-mana membuat mereka akhirnya memutuskan untuk tidur saling berpelukan seperti yang biasa di lakukan akhir akhir ini. Tapi, baru juga 5 menit Sagara terpejam, ia malah kembali mengerjap.


"Sayang, aku 'LAPAR', " bisik Sagara pelan namun berhasil membuat bulu halus Aisyah meremang. Ia tahu jika itu bukan lapar biasa namun luar biasa.


Tak ada jawaban dari Sang istri membuat Sagara lemas karna tak di respon, padahal bagian inti tubuhnya sudah bergeliat.


"Kamu udah ngantuk ya?" tanya Sagara.


"Hem, iya."


.


.

__ADS_1


.


Ya udah kamu tidur aja, biar aku MASAK sendiri.


__ADS_2