Sagara

Sagara
part 42


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Gubrak..


Jangan kan Papa Zico langsung pingsan tak sadarkan, semua orang yang bendengar pun pasti merasakan hal yang sama kecuali Bapak, Kyai dan Pak penghulu sebab Ibu dan Aisyah ada ruangan lain.


"Zee, bangun, Zee!" teriak Mommy Ameera saat Sang putra tersungkur lemas di pangkuannya.


"Dadd, kok bengong sih?! Zico kenapa ini?" sambungnya lagi pada Sang suami yang malah diam tak meresponnya.


"Berapa Sagara bilang tadi, untuk mahar?" tanya Daddy pelan, tatapannya kosong menatap punggung laki-laki kesayangannya.


"Dua ribu lima ratus," bisik Reza sambil tertawa.


Dan itu berhasil membuat Daddy Ricko menoleh setelah sadar jika yang ia dengar tak salah meski rasanya ingin itu salah.


"Dua ribu lima ratus hektar tanah?"

__ADS_1


"Dih, sini gue korek kuping lo DUDA!" sungut Reza sambil mencibir. Jangan harap hubungan mereka membaik dan akur meski kini status keduanya adalah kakak dan adik ipar.


"YA TERUS APA???!" Sentaknya kesal. Tak pernah sekalipun Si mantan duda itu bicara baik baik dengan Sang Gajah.


"Heh, lo gak liat tuh ada duit koin 4 biji? ya itulah MAHAR saga," ledek Reza lagi.


Perdebatan keduanya terus berlanjut sampai Melisa yang gemas mendengarnya pun memarahi kedua pria baya tersebut.


.


.


Doa kembali di lantunkan oleh Kyai pimpinan Pondok Pesantren yang begitu khusyuk di dengar dan di Aamiinkan oleh semua yang ada di dalam Masjid, terutama Sagara. Meski ia terlihat konyol dan kadang kejam tapi perihal DOA ia tak pernah main main. Apapun akan di minta pemuda itu meski harus dengan cara pemaksaan.


Mahar 4 biji koin itupun diberikan oleh Sagara untuk wanita yang kini susah Sah menjadi istrinya, tak perduli di antara mereka terbentang perbedaan jarak usia sampai 4 tahun.


"Terima kasih, aku terima maharku dengan senang hati," ucap Aisyah saat uang koin berwarna abu-abu itu ada di telapak tangannya.

__ADS_1


"Kamu senang hati, tapi aku sakit hati cuma kasih segitu, itu tuh uang kembalian dari minimarket," jawab Sagara yang begitu lemas.


Habis ini ia yakin pasti akan mendapatkan siraman rohani dari Mommy, omelan dari Papa dan Dady dan pastinya ledekan dari para Sepupunya. Samuedra, Awan dan Gala.


"Gak apa apa, Mahar itu kan hanya sebuah simbol," sahut Aisyah lagi yang tahu jika suaminya itu kesal dengan perihal mahar yang ia minta.


"Seengaknya seperangkat alas solat gitu? aku bisa transfer uangnya buat beli itu."


"Aku akan sangat berdosa jika sampai tak memakainya nanti, kan aku minta apa saja yang ada di dalam dompetmu, jika adanya hanya 2500 ya tak apa-apa," jelas Aisyah. Siapa pun yang kelak jadi suaminya ia memang tak akan memberatkan masalah itu sebab yang terpenting adalah rasa tanggung jawab dan setia nantinya.


"Tapi--, aku malu," ucap lirih Sagara. Ini adalah kejadian paling konyol dalam keluarga besarnya yang terkena sebagai jajaran orang paling kaya bahkan kaya raya yang sudah terbukti hartanya tak habis habis.


"Yang penting tunai, kamu gak ngutang," kekeh Aisyah yang perasaannya kini jauh lebih lega dan ternyata Sagara sangat menggemaskan jika bicara sedekat ini.


.


.

__ADS_1


.


Bisa di gantung Papa kalau sampe ngutang.


__ADS_2