
🍂🍂🍂🍂
Meski tanpa ikatan yang jelas antara SyahRaa dan Christ tapi keduanya begitu sangat menjaga perasaan masing masing termasuk selalu jujur tentang berbagai hal, keduanya jarang sekali bertengkar hebat meski perselisihan dan salah paham sering mewarnai kebersamaan mereka yang beda Iman namun tetap percaya jika Tuhan itu hanya satu.
"Aku belum siap jika harus ke rumahmu, Raa," ucap Christ saat bertemu dengan SyahRaa di parkiran campus.
"Tapi Ibun dan PanDa nanyain kamu terus," jawab SyahRaa yang kadang bingung harus buat alasan apa lagi untuk kedua orang tua nya tersebut.
"Kita tak ada bayangan untuk bersama lebih dari ini walau aku benar benar menyayangimu," balas Christ dengan perasaan yang begitu sakit jika mengingat ad dinding keyakinan yang tak bisa mereka lintasi untuk bisa saling menggenggam satu sama lain.
Cinta pertama yang di rasakan dua insan itu tak berpihak secara nyata bagi mereka. SyahRaa mau pun Christ tak pernah menyinggung perihal keyakinan, sebaliknya mereka saling menghormati dan mengingatkan.
"Ibun, Raa--" ucap Christ lagi, wanita satu satunya yang sangat sangat berat di temui olehnya.
"Kenapa dengan Ibun?" tanya SyaRaa bingung.
"Aku takut kamu di minta menjauh dari ku oleh Ibun jika tahu kita berbeda."
__ADS_1
"Ibun ku tak sejahat itu, Christ," protes SyahRaa meski hal itu pernah terbersit juga dalam benak nya.
Christ pun langsung minta maaf karna tak ingin gadis cantik di sebelahnya itu tersinggung dengan apa yang ia pikirkan dan tuduhkan saat ini.
"Justru itu, kita tak akan pernah tahu apa reaksi mereka jika tak mencoba bertemu," kata SyahRaa, seringnya mereka ketauan ketika sedang berbincang di telepon oleh Ibun, membuat wanita bercadar itu pun akhirnya sangat penasaran dan meminta teman laki laki dari putrinya untuk datang sekedar menjaga silaturahmi.
Christ menarik napas, lalu di buang nya perlahan, jika sadar sudah jatuh cinta dengan SyahRaa ia selalu memaki dirinya sendiri karna sudah berani dan terlena dalam Zona nyaman yang pasti ujung-ujungnya menyisakan luka.
"Apa kamu menyesal bersama ku?" tanya SyahRaa dengan tatapan yang sulit di artikan.
Pembahasan seperti ini tak pernah bertemu titik terangnya, dan mereka tahu akan hal itu, seperti jalan di tempat yang maju salah mundur tak siap.
"Aku tak akan mengambilmu dari Tuhan mu, begitu pun dengan kamu, kita sepakat akan hal ini kan sejak awal," ucap Christ mencoba mengingat kan.
"Hem, tapi akan ku sebut namamu dalam setiap doa ku, kamu tak keberatan kan?" mohon SyahRaa dengan tatapan yang kali ini begitu teduh, sampai Christ tak mempu menggeleng kan kepalanya.
Christ lantas tersenyum lalu mengangguk kan karna hal yang sama pun selalu ia lakukan.
__ADS_1
"Tak ada yang bisa melarang mu, SyahRaa," balas Christ yang pasrah.
"Ya sudah, datang ke rumahku. Bicara dengan Ibun," tantangnya yang malah membuat Christ tertawa.
"Sudahlah, nanti ada saatnya kita bertemu. Aku tak ingin kita lebih sakit dari ini."
"Hey, PanDaku tak akan memintamu untuk menikahiku. Dia hanya ingin tahu--," ucap SyahRaa yang memotong ucapannya sejenak.
"Tahu apa?" tanya Christ.
.
.
.
PanDa cuma ingin tahu seperti apa saingannya sekarang...
__ADS_1