
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Seperti yang di inginkan Christ, keduanya mengendarai kendaraan masing masing-masing. SyahRaa dengan mobil mewahnya dan Christ dengan motor besarnya, dia bukan seorang pembalap tapi cukup jago juga menaklukan jalan raya.
Belum ada tujuan pasti kemana mereka akan mengisi perut, SyahRaa hanya mengikuti kemana arah motor yang kini ada depannya tersebut.
Hingga perlahan, kendaraan roda dua tersebut menepi di salah satu rumah makan sederhana.
SyahRaa turun berbarengan dengan Christ yang membuka Helm Fullfacenya yang berwarna hitam. Ia hampiri temannya itu bukan sambil tersenyum, karna nyatanya senyum itu tak pernah pudar sama sekali.
"Sop Iganya enak banget, buat bikin hangat kayanya cocok, yuk," ajak Christ.
"Tau aja, anginnya lagi lumayan nih," jawab SyahRaa yang pastinya tak menolak ajakan Christ.
Keduanya masuk dengan SyahRaa yang berhasil lebih dulu satu langakah. Jujur, ini yang membuatnya merasa penasaran.
Saat semua kursi kosong, mau tak mau mereka makan di bagian lesahan yang hanya di meja sedangkan keduanya duduk diatas tikar biasa.
"Disini selalu ramai, mudah mudahan makanannya cocok di lidahmu ya," ucap Christ yang sebenarnya ragu, tapi ia tak. punya pilihan saat ini.
__ADS_1
"Tak apa, semua makanan sama saja menurutku. Asal itu halal dan enak," jawab SyahRaa sambil terkekeh.
Memang, tak perduli sekaya apa keluarga nya jika sedang lapar makan dengan telur dadar saja rasanya nikmat. Apalagi, Ibun berasal dari kota lain yang pastinya makanan yang di sajikan lebih bervarian rasa.
Setelah memilih makanan sesuai selera, keduanya tetap berbincang dengan posisi duduk yang saling berhadapan, hanya ada meja kayu sebagai sekat penghalang dua tubuh insan manusia yang sedang kasmaran.
"Minggu depan aku pulang, ada adik sepupu ku mau menikah, kita masih bisa berhubungan 'kan?"
SyahRaa yang kaget tak lantas menjawab, hingga namanya berkali-kali di sebut barulah gadis itu tersadar.
"Pulang kampung maksudmu?" tanya balik SyahRaa.
"Iya, Mama baru bilang pagi tadi, dadakan sekali memang," jawab Christ yanh justru ingin jauh jauh hari mengatakan ini pada SyahRaa agar tak kaget.
"Naik pesawat kan?"
Christ menggeleng kan kepala sambil tersenyum, dan tebak kan SyahRaa pun akhirnya benar.
"Aku naik kereta, dan di lanjutkan naik kepal laut, lumayan sedikit menghemat ongkos," balas Christ dengan senyum tipis yang terukir di ujung bibirnya.
__ADS_1
SyahRaa tak berani berucap soal apa pun lagi, ia hanya tak ingin menyinggung perasaan Christ karna sedikit banyak sudah tahu asal dan seperti apa keluarga pria itu di kampungnya sana.
Lagi pula, makanan mereka pun kini sudah tersaji di atas meja siap di nikmati.
Makan sambil sedikit berbincang, malah sesekali melempar candaan membuat waktu tak terasa cepat berlalu. Niat hati ingin pun malah di tahan oleh Christ.
"Nanti dulu ya, ada suara panggilan. Kamu bisa melakukannya disini lebih dulu. Aku tak yakin waktu nya masih ada jika harus di rumah," ucap Christ, sedang SyahRaa masih menimbang permintaan temannya itu.
"Benar juga sih, waktu tak banyak. Aku juga tadi sempat lihat tempatnya ada di dekat arah mau ke toilet kan?"
"Iya, kamu benar. Biar aku tunggu disini ya," kata Christ lagi yang membuat kedua alis SyahRaa bertaut.
"Kamu--, enggak bareng aku?" tanya SyahRaa.
.
.
.
__ADS_1
Cukup kamu saja, karna aku...