
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Tangan kamu kenapa?" tanya Tata yang panik saat tak sengaja melihat luka di tangan Sagara.
"Gak apa-apa, cuma kena aer panas aja," jawab Sagara, ia langsung menarik kembali tangannya saat Tata mencoba menyentuh. Ada rasa tak nyaman di dalam hati pemuda tersebut saat didekati oleh gadis lain.
Hatinya tak enak dan mulai ada rasa tak nyaman. Sagara yang belum sadar dengan perasaan itu masih mencoba bersikap biasa meski ia juga masih usaha untuk menghindar.
"Udah di--, obati?" tanya Tata yang kaget dengan penolakan Sagara, biasanya ia selalu biasa saja. Jangankan di sentuh, dipeluk atau memeluk pun pemuda itu tak pernah masalah.
"Sudah, ini juga udah baikan karna di obati," jawab Sagara yang langsung tersenyum karna bayangan Sang istri ikut melintas jelas di pelupuk matanya.
"Syukur lah, tapi biar gak infeksi kayanya harus kerumah sakit, biar aku antar pulang sekolah gimana?" tawar Tata, bagi yang tahu perasaannya tentu ini adalah hal biasa karna ia memang sangat perhatian pada Sagara selama 3tahun belakangan ini, bahkan menjadi satu-satunya gadis yang dekat dengan pewaris Pradipta tersebut.
"Gak perlu, asal rajin aja di rumah nanti kasih obat luka bakarnya, jangan khawatir, Ok." Sagara lalu mengacak pelan rambut Tata kemudian pergi, andai Sagara tahu jika teman wanitanya itu kini sedang berbunga-bunga hatinya.
Cinta dalam diam menang menyakitkan terlebih ia selalu di ingatkan oleh Marcel dan juga Bian jika mereka tak ingin persahabatan keempatnya jadi kurang nyaman karna perasaan Tata yang sepertinya tak terbalas, dan itu akan menimbulkan rasa canggung diantara keduannya jika sampai Sagara tahu Tata menyimpan rasa untuknya. Namun, bukankah setiap manusia tak bisa menahan kepada siapa cintanya berlabuh?
.
.
.
__ADS_1
Sagara yang baru masuk kedalam mobil bisa bernapas lega karna sudah berhasil lolos dari para sahabatnya untuk tak ikut nongkrong sore ini. Ia yang punya tongkrongan baru dalam kamar bersama istrinya tentu tak akan melewatkan hal tersebut.
"Pasti macet nih, nyesel sih bawa mobil," ucapnya sambil membuang napas kasar, ini jugalah salah satu alasan Sagara lebih senang membawa motor karna ia tahu betapa padatnya jalanan Ibu kota.
Tapi, demi pulang menemui bidadari dunianya Ia tentu harus sabar meski dalam hati terus mengumpat kasar.
Hingga perjalanan panjang pun berakhir di dalam garasi mobil rumahnya, ia langsung turun dan bergegas masuk kedalam rumah yang banyak memberikan kenangan indah bersama Sang Mama.
"Selamat siang, Tuan."
"Istri saya mana? hari ini ia makan apa saja?" tanya langsung Sagara yang sudah menitipkan Aisyah pada salah satu kepala pelayanan di rumahnya tersebut.
"Nona muda pergi bersaama Nyonya besar tiga jam yang lalu," jelas wanita paruh baya berkacamata itu pada Tuan mudanya.
Sagara yang mendengar hal tersebut langsung mengernyitkan dahi, ia rogoh saku celananya untuk meraih ponsel di dalam sana.
Sagara pun dengan cepat menuju kamarnya untuk men charge ponselnya yang ternyata tak aktif. Sungguh ia penasaran apakah Aisyah mengirim pesan atau tidak padanya karna memang Sagara sama sekali tak mengecek Si benda pipih tersebut.
Satu, dua, tiga empat dan di lima menit pertama itulah ia coba mengaktifkan gawainya lagi dan benar saja, ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Aisyah.
*CalonIstri
[ Saga, aku mau pergi dengan Mommy, kamu izinkan tidak? ]
__ADS_1
Satu persatu pesan di baca oleh Sagara yang hampir semua isinya sama yaitu izin untuk pergi.
Ia pun menarik napas lalu di buangnya perlahan, ia bisa menebak segalau apa wanita itu saat menunggu kabar darinya. Ia pasti berada di antara dua pilihan yaitu bertahan di rumah atau ikut pergi dengan Mommynya.
Tapi, ditengah rasa bersalahnya Sagara langsung menoleh saat ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka.. Aisyah kaget saat melihat Sagara duduk di tepi ranjang lalu bangun dan menghampirinya.
"Kamu bawa apa?" tanya pemuda itu yang malah fokus pada paperbag di tangan istrinya, Sagara tahu dan bisa membaca jelas jika tulisan itu adalah salah satu Brand merk DAlAaaman ternama.
"Ini? ah.. enggak! bukan apa-apa," sahut Aisyah yang panik. Ia tak tahu jika suaminya ternyata sudah pulang dan ada di kamar. Keadaan rumah dan ia yang tergesa-gesa saat masuk membuatnya tak mendapat info apapun.
"Sini kasih aku," pinta Sagara yang semakin penasaran.
"Enggak! ini punyaku," jawab Aisyah yang masih mempertahankan apa yang ada di tangannya. Bukan karna ia pelit, hanya saja ia malu jika Sagara tahu apa isi Paperbag tersebut.
"Aku liat doang, bukan mau ambil," kata Sagara yang gemas, andai bukan istrinya sudah bisa di pastikan Sagara akan merebutnya secara paksa.
"Ya tapi aku gak mau!"
"Kenapa?" tanya pemuda yang masih memakai seragam sekolah itu.
.
.
__ADS_1
.
Aku... aku takut kamu suruh aku pake ini.