
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kata Lapar yang di maksud Sagara tentu bukan perut yang keroncongan ingin di isi makanan atau yang barusan di sebut oleh pemuda tampan yang kini sudah menjelma menjadi Pria sejati yang sudah tahu nikmatnya surga dunia.
Dua kali berada di puncak pelepasan tentu membuat pasangan suami istri baru itu seolah candu dengan rasanya, meski harus merasakan sakit serta sulitnya menerobos tumpukan Mie keriting tapi semua dibayar dengan rasa nikmat saat Si SosTel menerobos lalu lumer di dalamnya.
Aisyah yang pandai menutupi rasa nyeri nyatanya tetap membuat suaminya peka karna Sagara bukan pria bodoh yang tak tahu jika menembus selaput Darah Perawaan itu sakitnya luar biasa, karna ada yang robek hingga membuat luka yang berujung rasa perih yang hanya dirasakan seumur hidup sekali.
Dan keduanya patut berbangga diri karna sama-sama melakukannya untuk yang pertama kali dengan pasangan halal yang tentunya itu adalah hak dan kewajiban mereka berdua.
.
.
.
Makan malam pun selesai, kini hanya Ibu dan Aisyah yang ada di dapur membereskan sisa yang kotor di atas meja, Aisyah yang sudah terbiasa melakukannya terlihat sangat cekatan padahal beberapa hari kemarin ia tak melakukannya.
"Kalian nginep sampai kapan?" tanya Ibu saat putri bungsunya itu sedang menyusun beberapa piring yang sudah di cuci kedalam rak.
"Minggu sore, Bu. Sagara kan belum libur," jawab Aisyah yang hanya sekilas menoleh.
Libur yang di maksud wanita itu tentu LIBUR SEKOLAH, bukan libur kerja layaknya seorang istri sedang bercerita tentang suaminya. Lucu memang, sampai mak othor ingin menarik ulur Si belalai Gajah saking gemasnya.
"Iya, tak apa." Ibu yang sebenarnya belum terbiasa tanpa Aisyah hanya bisa pasrah di balik senyum kecilnya.
"Oh iya, Bu. Ini dari Saga, untuk Ibu beli sabun," ucapnya sambil menyerahkan amplop yang cukup lumayan tebal dari saku gamisnya. Tentu itu hanya sebuah perumpamaan sebab tak mungkin juga Aisyah menyuruh Ibu membeli sabun dengan uang yang begitu banyakn dari dalam amplop tersebut.
"Apa ini, Nak? tak perlu, ibu ada." Ibu yang tak enak hati langsung menolak apa yang di sodorkan anak perempuannya itu.
"Tolong ambil, Bu. Ini dari suamiku," mohon Aisyah memaksa.
"Pakai saja untuk kebutuhan rumah tanggamu, Nak. Jangan pikirkan Ibu dan Bapak, kami sudah lebih dari cukup, bisa makan layak dan halal sehari 3 kali saja itu membuat kami sangat bersyukur."
"Tidak, Bu. Kebutuhan Aish sudah di penuhi oleh Saga, ia suami yang bertanggung jawab meski masih memakai seragam SMA," jelas Aisyah yang kini sedikit menunduk, ada rona merah yang jelas di pipinya saat ini.
"Alhamdulillah kalau begitu, Ibu senang mendengarnya. Semoga kamu benar-benar ada dalam pelukan pria yang tepat ya, yang rasa cintanya jauh lebih besar terhadapmu. Bisa melihatmu bahagia lahir bathin adalah keinginan Ibu dan Bapak karna itu seolah doa kami selama ini telah di kabulkan," jelas Ibu dengan perasaan penuh haru.
__ADS_1
Bagaimana tak bahagia, hidup Aisyah yang selama ini penuh warna semakin terasa sempurna. Jika dulu ia mengurus dan menemani beberapa anak di sekolah, berbeda dengan sekarang. Meski hanya ada satu di dalam kamar tapi jika sudah manja sampai ngereog tak jelas mauna apa rasa rasanya lebih dari 10 anak yang sedang di hadapi oleh Aisyah saking randomnya tingkah laku suami kecilnya tersebut. Tak ada rasa malu dan canggung lagi, karna Sagara sudah mendapat kan tempat yang membuat ia nyaman setelah kesepian panjang tiga tahunnya.
Begitupun dengan Aisyah yang menerima Sagara dengan segala kurang lebihnya pria itu. Kurang dalam hal kasih sayang namun lebih perihal harta.
Saat Aisyah mencurahkan semua perhatiannya, Sagara tentu tak main-main menyerahkan isi dunia yang ia miliki pada wanita itu.
.
.
.
Ceklek
Sagara yang masuk kedalam kamar setelah puas mengobrol dengan Bapak langsung naik ke atas ranjang. Ia yang berbaring dengan posisi menelungkup seolah tak bernyawa.
"Mau tidur sekarang? pakai dulu selimutnya," ucap Aisyah sambil mengusap punggung Sagara. Meski hanya menggunakan kipas angin biasa tapi jika sudah tengah malam terutama subuh rasa dingin akan menusuk hingga ke dalam tulang.
Tentulah pria itu akan tidur, karna semua sudah ia lakukan mulai dari masak masakan, mandi wajib, makan, menunaikan kewajiban dan terakhir bertukar cerita dengan Sang mertua. Kini saatnya Sagara meluruskan semua ototnya karna sepulang sekolah ia tak lagi istirahat melainkan langsung ke kota B mengantar istrinya yang ingin pulang bertemu orangtua.
"Selimutin, gak nyampe tangannya," gumam Sagara dengan pelan dan mata terpejam.
Senyum pun langsung tersungging di ujung bibir Aisyah mana kala mengingat hal hal menyenangkan tersebut.
"Selamat tidur, Sagara," bisik Aisyah kepada pria yang masih saja tampan padahal ia sedang mendengkur halus.
Rasa Terima kasih dan ucapan Syukur rasanya tak cukup Aisyah lontarkan pada Sang pemilik hidup karna kini ia berada di tengah keluarga yang selalu menjunjung cinta dan wanita. Dalam hati, Aisyah selalu berdoa bisa menjadi Mommy Ameera, Mama Aluna dan juga Amma Melisa karna dengan mata kepalanya sendiri ia sudah melihat bagaimana ketiga wanita itu benar-benar di Ratukan dalam segala kondisi oleh suami suami mereka yang nampak jelas besar cintanya.
"Hiduplah cukup denganku ya, meski aku tahu jika tak semua bambu lurus tapi aku selalu berharap kamu bukan salah satu yang bengkok itu," ucap Aisyah lagi yang kini susah sama-sama berbaring di bawah selimut berdua dengan suaminya.
Benar memang jika tak semua mungkin bisa setia tapi Aisyah berharap Sagara tak akan meliuk ke samping kiri dan kanan hingga ia punya tempat singgah lain, itu jugalah yang menjadi salah satu ketakutan Aisyah mengingat umur suaminya yang masih sangat muda. Akan banyak hal yang Sagara temui pastinya termasuk wanita, terlebih saat ia memasuki Perguruan tinggi nanti, sebelum Sagara tentu Aisyah dulu yang berpengalaman menjadi mahasiswi. Jika di kampusnya saja dulu cukup bebas, lalu bagaimana dengan Universitas di Ibu kota?
.
.
.
__ADS_1
Usai subuh, semua yang sudah menunaikan kewajiban hanya bersantai sambil menunggu waktu sarapan. Tak ada aktifitas apapun di hari minggu ini cukup bersama di rumah menghabiskan waktu yang ada sebelum akhirnya Aisyah dan Sagara kembali ke Ibu kota.
"Mas Fatih gak kesini, Bu?" tanya Sagara, jika tak ada Bapak ia bingung harus bagaimana karna saar bersama dengan Aisyah otak mesumnya selalu saja menggoda dan itu sedang ia hindari selama di rumah Mertuanya kini.
"Lusa dia kembali, Mertuanya belum pulih benar jadi istrinya pun masih sibuk sedangkan Fatih yang harus menjaga kedua anak mereka," jelas Ibu tentang anak sulungnya itu yang memang tinggal berjauhan atau tepatnya sedang tak bersama dengan anak dan istri. Itu semua terpaksa di lakukan Fatih karna wanita halalnya harus mengurus Mamaknya di kota lain yang sakit sakitan, ia yang anak tunggal tentu tak ada pilihan lain untuk bergantian dan jadilah Fatih yang mengalah asal semua masih ingat akan kewajiban dan posisi masing-masing sebab jika sudah begini kunci utama untuk mempertahankan rumah tangga adalah kesetiaan dan keterbukaan.
Sagara hanya mengangguk, ia lantas menoleh kearah Istri yang seorang anak bungsu perempuan yang pastinya begitu dekat dengan Ibu. Akan kah mereka akan mengalami hal tersebut jika masalah yang sama bisa saja menimpa keduanya?
Tidak, Sagara sepertinya tak akan sanggup karna saat ia sibuk menuntut ilmu di sekolah saja rasa rindunya sudah menggunung dan itu membuatnya ia cepat pulang untuk masuk kedalam pelukan wanita halalnya.
"Saga, kok ngelamun?" tanya Aisyah saat ia sadar sedang tatap penuh arti suaminya.
"Ah, enggak. Aku gak apa-apa," jawab Sagara yang malu sendiri sebab ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
"Yakin? kamu lain loh, ada yang kamu pikirkan, hem?"
Sagara langsung menggeleng kan kepala karna sialnya tebakan itu benar dan Sagara tak ingin membahasnya hal tersebut saat ini.
"Ya sudah, aku buatkan teh manis mau?" tawar Aisyah yang tak masalah saat Sagara tak ingin bicara, pria tampan itu tentu punya hak apa yang harus ia bagi dan cukup ia saja yang tahu.
"Aku mau Susu," bisik Sagara tepat di telinga istrinya karna mereka memang sama sama duduk di kursi meja makan dengan posisi bersebelahan.
Sagara berani melakukan itu, sebab Ibu baru saja keluar dari dapur menemui Bapak di teras. Aisyah yang tak memakai Cadar tentu semakin memudahkan Sagara sedikit mencumbunya. Semua itu karna tak ada orang lain di dalam rumah cukup ada Bapak, Ibu dan suaminya saja, tentu ketiganya tak masalah jika harus melihat raut wajah cantik Aisyah. Berbeda saat ia dan Sagara belum menikah, ia harus tetap memakai kain itu meski berada di dalam rumah demi menjaga marwahnya sebagai wanita berstatus perawan tersebut.
"Susu apa? putih coklat?" tanya Aisyah yang masih mode kalem karna ini masih sangat pagi tentulah otaknya masih bersih.
Tapi tidak dengan Sagara, tak perduli pagi, siang, sore atau malam jika sudah dekat dengan Aisyah otaknya akan kotor bahkan butek karna isinya pasti yang enak-enak berbalut keringat.
"Mau yang mana? kenapa jadi senyum senyum gitu?" tanya ulang Aisyah. Mereka cocok dalam segala hal tapi tidak perihal ke pekaan. Sagara yang mesum justru di hadapkan dengan wanita yang Loadingnya selalu lama jika mengartikan kode kode rahasia suami istri.
Bukan menjawab apa yang di tawarkan Sang istri Sagara malah menjatuhkan kepalanya tepat diarea favoritnya kini, apalagi jika bukan DaDa Aisyah yang tak terlalu besar namun pas dalam genggaman Sagara yang baru pertama kali punya mainan seperti itu.
.
.
.
__ADS_1
Mau Susu putih yang ada ChocoChipnya...